Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (2)

Cerita mengenai Tunipasulu, dapat menjadi kekuatan wisata Benteng Buton, ketika dapat dideskripsikan dengan baik. La Yusri memiliki potensi luar biasa untuk membuat deskripsi mengenai potensi wisata sejarah yang ada di Buton. Di sini, diperlukan tim Desa Wisata atau Tim Deskripsi potensi wisata di Sulawesi Tenggara, sehingga seluruh situs kita bisa hidup, dan mengundang wisatawan untuk berkunjung ke setiap destinasi wisata, termasuk ke Benteng Buton. Narasi La Yusri ini dapat menjadi kekuatan pariwisata Buton, sekaligus transformasi sejarah dalam pembangunan situs wisata sejarah. Ia kemudian menceritakan Tunipasulu bahwa, “Tunipasulu menemukan suluh yang kemudian itu menerangi sisi gelap batinnya: Islam

Suluh Islam begitu benderang dan ajarannya telah dengan telak mengetuk nuraninya, pada hati terdalamnya, dan seketika ia bertekuk bersimpuh, sikap kerasnya luruh, lalu luluh dalam samudera keluasan dan keluwesan makrifat Islam

Sekalipun Islam sudah dikenalnya sejak di Luwu, barulah di Buton ia mendalaminya dan dengan baik memahaminya.

Islam di Buton telah mengubahnya dari bertabiat keras dan kasar menjadi berperangai lemah dan lembut.

Begitu luas pemahaman keislamannya itu, sehingga ia kemudian diangkat dalam jabatan terhormat sebagai Bonto Ogena–Semacam Menteri Besar di kesultanan Buton.

Dengan jabatan berprestisenya nya itu, dinamailah ia di Buton sebagai Maa Naja.

Tepat 15 Juli 1617, ia mangkat dengan tenang, ia dimakamkan di Utara Benteng Keraton Buton, tepat disisian Baluarana Siompu dalam kampung Gundu Gundu.

Dengan bermakam di tempat bermukim orang-orang Gundu-Gundu itu, sampailah juga wasiatnya, di sana, ia seperti sedang berbaring memandangi Gowa di kejauhan, negeri leluhur dan asalnya sendiri, negeri yang telah “mengeluarkannya”.

***

Tidak sembarang orang boleh bermakam di sisi Utara benteng Keraton Buton kecuali hanya bagi mereka yang pemberani, pelawan, dan pahlawan.

Sisi Utara Benteng Keraton Buton, yang membentang panjang dari Lawana Gundu-Gundu, Baluarana Siompu hingga Jara Ijo adalah menjadi tempat “berbaring” bagi mereka yang dicatat sejarah sebagai Pemberani.

dan salah seorang pemberani itu adalah Karaeng Tunipasulu, atau orang-orang Buton mengenalnya sebagai Maa Naja

-La Yusrie-

Anda bisa link ke alamat berikut.

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=2311619445587380&set=a.112465745502772&type=3&theater

Model-model deskripsi seperti ini sangat penting untuk setiap potensi wisata sejarah yang ada di setiap desa wisata. mereka harus memiliki deskripsi yang baik, sehingga setiap pengunjung dapat mengetahui setiap potensi wisata yang mereka temukan di setiap desa wisata yang mereka kunjungi.

Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (1)

Festival Benteng Tindoi Maleko: Mendorong Pariwisata Desa dalam Merawat Alam

Taman Batu Togo Binongko Wakatobi

One thought on “Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *