Metode La Uge: Konsep Survival dalam Era Industri 4.0 (1)

Oleh: Sumiman Udu

Memasuki era Industri 4.0, seluruh bangsa di dunia, membutuhkan ruang untuk survival dalam era ini. Industri besar bisa gulung tikar, hanya karena mereka tidak memiliki sifat atau metode yang elastis. Konsep yang tidak kaku, dan inovasi menjadi aspek penting untuk bisa survival. 

Tulisan ini, saya pernah posting di salah satu group, yang paling bergengsi. Begini cerita itu  saya memulainya.

Group ini, perlu memahami betul filosofi kawah candradimuka, biar tidak kelihatan kaku, super sensitif. Begini, di Wakatobi ada dua pembuat perahu, satu bernama La Uge, satunya La Alimusa. Keduanya sama sama membuat perahu, sama sama pasang kayu alasnya atau bahasa Wakatobi tenanya. Kedua orang ini berbeda tipenya. La Uge, orang simpel tak pusing, ia memasang papan, tak peduli berapa besar ruang kosong atau antara papan, ia tetap pasang, nanti ambilkan kayu untuk tambal lubang itu. Kayunya tidak terlalu pilih pilih, ia akan selalu memasang papan, dalam pikirannya, dibuat seperti apapun, dalam pelayaran, perahu harus tetap bawa perkakas, persiapan perbaiki perahu di tengah samudra. 

Baca Juga Membongkar Mitos Kuliah (9)

Nakoda diberitahu bahwa kau layarkan perahuku, kalau bocor tak masalah, kau perbaiki sambil berlayar kalau bocornya kecil, tapi kalau besar, cari pulau dan kau perbaiki. Jangan bersedih dengan keadaan, tersenyumlah pada badai dan mentari pagi, karena itu berlayarlah dengan cinta.
Sementara Ali Musa satu tipe perfeksionis yang karyanya adalah representasi dirinya. Ketika orang datang ke galangan kapalnya dan cerita yang bukan materi perahunya, semalam ia tak tidur, hatinya seakan akan dikoreknya, maka mulailah ia mengumpat. Karena temannya datang cerita kehidupan di samping nya seolah itu adalah aib yang merusak jiwanya. Karyanya dalam bentuk perahu adalah representasi dirinya. Perahunya sangat apik, sehingga ia sulit mencari kayu. Satu minggu atau bahkan satu bulan ia tak bisa pasang papan selembar pun. Karena sedikit saja kabar berita, ia pusingkan hingga berhari hari, minggu bahkan bulan. Terjadi kesalahan paku atau salah iris papannya, ia renungi dan marah berhari hari.

Baca juga Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (1)
Maka setelah satu tahun setengah, la Uge menurunkan perahu dari galangan, dan siap dilayarkan menuju Maluku cari kopra untuk dijual di Surabaya. Lalu ia buat lagi perahu baru, dengan cara yang sama, simpel, tak sakit hati dengan usilan orang, malah tambah senang kalau diganggu cerita saat bekerja. Ia santai kerja sambil sesekali ia berhenti dan menyapa tamu tamu galangannya. Hingga ia kadang mendapatkan tawaran kayu atau ide dari temannya. Kadang idenya bertentangan, tetapi ia tetap tersenyum, membuat perahu sesuai seleranya, karena ia paham bahwa samudra itu harus ditaklukkan dengan cara memahami perilaku dan pendekatannnya. Bukan dengan melawannya, terlebih menghadapi nya dengan perasaan marah marah.

Baca juga Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (2)
Masuk tahun ketiga, La Uge menurunkan kapal dari galangannya lagi, dan dua perahunya sudah lalu lalang Maluku Surabaya. Pasang lagi perahu ketiga.
Di tempat galangan tetangganya, Ali Musa tak pernah jadi perahunya, setengahpun tak jadi jadi. Ia selalu pusingkan perkataan orang tentang karyanya, saat ada orang yang komentari perahunya, ia pusing tujuh keliling, hingga semua orang menjadi segan memberikan saran pada dia. Tak mau lagi orang cerita di pangkalan nya. Sunyilah ia sendiri, tak ada inspirasi, kerjanya hanya marah marah, sesekali kawannya bercanda, seolah ia terima bahwa ia yang ditertawakan. Akhirnya, Ali Musa patah hati, perahunya diakusisi oleh orang lain, dan akhirnya ia tak bisa bikin perahu.
(Cerita ini kuceritakan pada teman teman S3, suatu saat di Yogyakarta, di rumah kawanku.

Baca juga Dana Desa 2020 dan Inovasi Literasi Desa

Tindoi: Jejak Peradaban (ini Catatan untuk Kadis Pertanian, tentang Kebijakan Pertanian Raja Liya)

TINDOI:BUMDES Bikin Mudah Masyarakat Sejahtera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *