Menjadi Sarjana Invovatif: Membutuhkan Keberanian dan Semangat

Menjadi sarjana bukanlah hal yang mudah, apalagi dituntut untuk menghasilkan sebuah produk. Untuk itu, seluruh universitas harus mengembangkan konsep pembelajaran untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang ada di dalam masyarakat. Di sini perlunya setiap Lembaga Pendidikan untuk membangun jiwa kewirausahaan kepada seluruh mahasiswa, sehingga mereka tidak semata-mata memikirkan untuk menjadi Apartur Sipil Negara (ASN).  Untuk itu, jiwa kewirausahaan seharusnya dipupuk sejak semester awal, atau bahkan sejak anak-anak masih di sekolah dasar.

                Salah seorang Mahasiswa Program Pascasarjana Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Halu Oleo, Aris dan teman-temannya kemudian melakukan terobosan dengan membanting stir untuk menjadi petani dengan konsep hidroponik. Dengan bergabung pada komunitas Anoa Hidroponik, Aris kemudian mengembangkan pertanian hidroponik dengan tujuan untuk memberikan pangan sehat untuk masyarakat. Dia memiliki konsep bahwa untuk  menyehatkan bangsa, kita harus dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengkonsumsi makanan alamiah yang organic. Ia melihat bahwa banyak bahan-bahan pangan yang tidak lagi hegienis untuk dikonsumsi. Atas kekhawatiran itulah, ia kemudian mengembangkan pertanian hidrponik sebagai upaya untuk menciptakan pangan yang berkualitas dan hegienis.

Kaudhawa atau Kelor: Sumber Gizi Masyarakat Wakatobi

                Melalui konsep ini, mereka bercita-cita untuk menciptakan sayur mayur yang baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Melalui sistem pertanian hidpronik ini, mereka menanam kangkong, sawi dan selada, yang diharapkan dapat dinikmati oleh warga kota Kendari dan Sulawesi Tenggara dengan nyaman. Selain itu, konsep hidroponik juga sangat irit pada penggunaan air, dan bisa berproduksi sepanjang tahun.

Aris, Salah satu Anggota Zaid Green Hidroponik
Aris salah Satu Anggota Zaid Green Hidropolik memegang produk pertanian mereka

Aris mengatakan bahwa “Karna konsep dasar dari hidroponik yaitu menggunakan pipa selain itu kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit dari pada kebutuhan air dengan menggunakan tanah”. Konsep ini hadir di tengah musim kemarau yang melanda hampir sebagian wilayah Indonesia. Sementara hampir setiap kota tidak lagi menyajikan sayur mayur yang segar, tetapi sudah berdampak pada kemarau yang Panjang. Untuk itu, Aris dan teman-temannya membangun kelompok pertanian yang berbasis hidrolik.

Kelompok Zaid Green Hidroponil mengembangkan pertanian ini dengan cara patungan dan masih memanfaatkan tanah anggota kelompok untuk pengembangan pertanian mereka. Ini sangat penting, karena konsep pertanian yang alami seperti ini akan memberikan serapan tenaga kerja yang besar, terutama bagi pada anak muda, atau sarjana yang sudah menyelesaikan pendidikannya. Melalui konsep ini, mereka dapat menghasilkan sayur yang baik dan berkualitas serta mampu produksi sepanjang tahun.

Konsep pertanian ini sangat pas untuk dikembangkan di daerah-daerah tropis terutama pada daerah-daerah yang memiliki lahan yang tandus sepetri sebagian wilayah Buton dan Wakatobi. Wakatobi yang selama ini mengimpor sayur mayur dari Kendari dan Lasalimu dapat belajar dari konsep pertanian hidroponil yang dikembangkan oleh Ziad Green Hidroponil sebagai salah satu konsep pertanian masa depan, dengan menggunakan teknologi. Untuk menjaga kualitas tanaman dan menghindari hama, kelompok ini menggunakan kolope dan bawang putih, sehingga produk mereka betul-betul alami, tanpa pestisida dan pupuk nonoraganik.

Budidaya Pegagan: Membangun Apotik Hidup Berbasis Desa

Kelompok pertanian yang diketuai oleh Laharjo Prawiro ini, Aris berharap, agar masyarakat kota Kendari dapat memanfaatkan hasil-hasil pertanian mereka, karena produk mereka ramah lingkungan dan hegienis. Aris juga berhadap, dengan produk mereka 4000 lubang, mereka akan mendapatkan pasar yang tetap. Sehingga mereka dapat mengembangkan pertanian ini secara kontinyu. Ia juga berhadap agar pihak perbankan dapat partisipasi dalam membantu mereka dalam membangun pertanian ini, karena konsep ini membutuhkan modal untuk pembangunannya (su001).

Hutan (Motika) Bungi Longa: Terancam Hilang (Bagian 1)

Daun Kau Banjara: Obat Tradisional yang tidak Banyak Dikenal Orang

Keragaman Kuliner dan Inovasinya: Dapat Menjadi Produk Unggulan Wakatobi di Bidang Kuliner

One thought on “Menjadi Sarjana Invovatif: Membutuhkan Keberanian dan Semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *