Mengenang Perjuangan Mengusung Oputa yi Ko sebagai Pahlawan Nasional

Oleh: Darwin Ismail

Saat pengusulan Oputa yi Koo sebagai Pahlawan Nasional, kami didaulat sebagai Sekretaris Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) di tingkat Provinsi, dan selanjutnya bekerja atas legalitas kertas yang dibubuhkan aurograf-nya Gubernur Sulawesi|

Jadi tentu tugas saya disamping membantu rampungkan masalah syarat dokumen dan formalitas birokrasi terkait itu__ (yang menyambungkan tugas Tasrifin Tahara sebagai ketua tim pengusul TP2GD Baubau)___adalah juga berusaha intens memahami alur pikiran sejarah perlawanan OyK dalam dokumen akademik yang disusun oleh Prof. Susanto Zuhdi.

Menariknya atas perkenan Prof. Muhammad Zamrun (Rektor UHO yang hari ini berulang tahun kesekian) maka kegiatan seminar yang krusial –seperti permintaan otoritas dari Jakarta– dapat dilaksanakan sesuai harapan. Oh ya, terima kasih juga kepada rekan-sejawat Fakultas Ilmu Budaya UHO atas semangat altruis dan jiwa filantropisnya demi suksesnya kegiatan tersebut dibawah telunjuk dingin pak Akhmad Marhadi Nippo|

Hal penting lainnya pula adalah kepiawaian saudara La Yusrie| untuk menemukan rantai genealogi OyK yang tersebar di Nusa-nusa selatan semenanjung Sulawesi Tenggara, sekaligus menentukan ahli waris potensial yang dapat menaikkan kredit point pengusulan itu.

Tentu kita berterima kasih kepada pak Asrun Lio (Ketua TP2GD Provinsi) sebagai personal tak kalah esensialnya dalam utusan terkait itu di tengah kesibukannya yang lumayan padat.
Selebihnya pasti kami tidak bisa sebutkan satu persatu subyek yang layak diapresiasi dalam urusan itu setelah rentang waktu usulannya selama 24 tahun. Yang pasti terdapat juga penyemangat yang kharismatik di sana, Prof La Sara, dan juga uluran tangan dingin dari pak Sumiman Udu|

Sampai di sini, point harapan terbesar kami adalah bahwa moga saja semua pihak dapat menjadikan momentum penetapan Pahlawan Nasional OyK sebagai spirit pemersatu semua rakyat Muna-Buton dan diasporanya di seluruh pelosok Indonesia, sekaligus sebagai penerabas stigma dan stereotip bahwa leluhur mereka yang ke-9 dari generasi pak Ali Mazi (Gubernur Sulawesi Tenggara 2 periode terpisah sampai kini) sebagai agen kolonial-imperialisme.

Aneh juga jika capaian dan fakta yang harusnya membanggakan atau memantik spirit untuk berkebaikan itu, justru lebih cenderung dipelintir jadi kontestasi ganjil untuk saling merendahkan dan seolah tidak henti melontarkan ungkapan sarkastik, ataupun dan menghina satu sama lain dengan seaib ungkapan pejoratif, bahkan sampai saat dimana pandemi COVID-19 sedang menghujam kesadaran kita tentang perlunya saling memberi respek, menguatkan dan empati terhadap satu sama lain.

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ|…..

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *