Mengejar Angin ke Padang Rumput

Bagian 8 (terakhir). Fiksi wabah kolera 1970 an, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020 di Kepulauan Tukang Besi, Wakatobi

Oleh: Saleh Hanan

Perahu Manipa mati. Perahu mati perahu yang berakhir pelayarannya. Mati di tengah laut saat berlayar. Mati di pantai tempat berlabuh. Perahu mati, dalam mata fisik atau metafisika.

Seseorang telah melihat perahu dari Manipa yang sedang bersiap berangkat kembali dari Wanci ke Manipa, itu telah mati.
Puluhan penumpang terpaksa pulang. Pelayaran penuh janji, mencari kehidupan, ke pulau-pulau rempah, berantakan.

Adalah Sauri, seseorang yang akrobatik, turun ke laut pada hari berikutnya. Sauri berjalan mengelilingi perahu di laut surut sebatas pahanya. Tiba-tiba tiga pohon kelapa di pantai roboh ke pasir. Serentak. Tak ada angin. Tumbang.
Kepada pemilik perahu, Sauri mengajukan tafsir lain: perahu ini masih hidup setidaknya tiga tahun lagi. Artinya jika sekarang berlayar, masih selamat sampai tujuan.
Pemilik perahu lega. Sauri akan diberi hadiah, tetapi ditolaknya. Sauri hanya ingin menjemput istri dan anak di Pulau Binongko dengan perahu itu, lalu bersama Istri dan anaknya numpang berlayar ke Maluku. Pergi mencari sumber kehidupan.

“Berarti Watu Kapala Tosore itu kapal mati?” tanya Lima Pemuda yang lari dari langgar setelah mengetahui sholat Idul Fitri tak boleh berlangsung dalam langgar kecintaan mereka.
Sekian bulan mereka terkurung wabah kolera. Pemuka agama juga tak kunjung kembali ke langgar dari pengungsian.
Rasa kecewa tak terbendung. Mereka pergi menggelar sholat Idul Fitri di situs keramat Watu Kapala Tosore. Di tengah hamparan padang rumput.
Ajaibnya, La Kamba, laki-laki yang selalu datang dan pulang diam-diam di langgar selama bulan Ramadhan, telah menunggu di padang rumput.
Di langgar, La Kamba tak sekalipun mencoba menjadi imam sholat. Namun pagi ini tiba-tiba ingin memimpin sholat Idul Fitri di puncak bukit situs keramat Watu Kapala Tosore.

“Kita sedang di atas batu yang ceritanya terwariskan sebagai kapal karam menjadi batu. Bagi sebagian orang, ini tempat keramat. Tempat menaruh daun sirih dan menyebutkan permintaan pada yang Maha Kuasa. Bagi kita berenam, ini tempat sholat Idul Fitri.”
La Kamba tersenyum, memulai khutbahnya. Sebelumnya memekikkan takbir.
“Jika benar kita berada di atas fosil kapal karam itu, maka di kiri dan kanan kita pada jaman dahulu kala adalah dua pulau yang terbagi oleh selat.
Muara sungai kecil yang meluncur melalui hutan-hutan dari bukit utara.
Jutaan tahun lalu, sejak jaman Tersier, Kepulaun Tukang Besi terbentuk dari gerakan naik dasar laut. Hamparan fosil karang dan kerang yang mengelilingi kita membuktikannya.
Terbalik dari kisah Atlantik yang tulis Plato tenggelam ke dasar laut.
Jutaan tahun lamanya, waktu telah menjadikan kapal ini fosil. Proses yang dimulai dari penggantian unsur organik oleh berbagai mineral seperti pasir, kapur, di ruang minim oksigen.
Lihatlah, bagian yang disebut sebagai haluan kapal berada di arah kiblat. Di barat. Kapal itu sedang berlayar dari arah matahari terbit.
Jutaan tahun lalu juga, pelayaran melintasi laut hanya mungkin dilakukan King Solomo atau Nabi Sulaiman. Raja Bani Israil yang kaya raya, yang bisa mengatur angin. Pemilik emas yang melimpah ruah.
Jutaan tahun kemudian, Bangsa Spanyol mengira menemukan harta karun King Solomo ketika tiba tahun 1500 an di Kepulauan Solomon, kepulauan bangsa Melanesia di Samudra Pasifik, ratusan mil di timur pulau kita ini.
Ini fosil kapal siapa?
Pelayaran tua lainnya dikenang menek moyang kita sebagai pelayaran Wa Surubaende. Seorang puteri dari rumpun Melanesia yang mencari ayahnya ke arah matahari tenggelam, siowa, magribi, sesuai petunjuk ibunya.
Dalam sebuah versi, Wa Surubaende disebut tiba di Pulau Koba, pulau ini, tetapi ayahnya telah kembali ke tanah Arab. Sang ayah bernama La Sumaila, seorang nabi.
Apakah La Sumaila adalah Nabi Ismail atau Nabi Sulaiman? Kita tak pernah tau.
Kisah yang tak pernah ditulis bisa pudar, huruf bisa tertukar, kata bisa hilang.
Kita hanya tau, yang mungkin memiliki ratusan pengantin wanita seperti disebut dalam kitab-kitab lain adalah pemilik riwayat pelayaran, penakluk angin, dan itu persis untuk King Solomo.”

Setelah menarik khutbahnya ke dalam dalil-dalil, La Kamba melanjutkan perumpamaannya, “Islam mengenal Nabi Sulaiman bisa berbicara kepada hewan-hewan.
Jika batu ini fosil kapal King Solomo, terbayanglah, hewan-hewan yang khawatir mungkin sibuk mengirim signal ke kapal King Solomo sebelum karam.
Paus, mamalia laut, melambai-lambaikan ekor, menghempaskan udara yang terkondensasi menjadi air ke udara. Burung-burung di atas pohon tak henti bersahutan melihat kapal itu mendekati selat. Kucing gelisah dari tebing pantai dan ular kecil nan kilap yang menggantung di dahan pohon bereaksi melihat kapal tetap melaju memasuki selat.
Hewan-hewan kesukaan malaikat itu mengirim sinyal bahaya.
Cerita selanjutnya, kapal itu karam. Hewan-hewan kesukaan malaikat, diam terpana.”

La Kamba membaca takbir, lalu menegaskan, “Kita tak akan mengimani kisah yang tak diriwayatkan dalam Al Quran dan hadist.
Akan tetapi firman Allah meliputi sinyal pada flora dan fauna, gunung-gunung, sungai, laut, dan pengalaman hidup manusia, tak akan kita abaikan.
Ilmu Tuhan sungguh banyak, ada di mana-mana. Bahkan jika laut digunakan sebagai tinta dan semua daun pohon digunakan sebagai kertas untuk menulisnya, tak akan pernah cukup.
Pertemuan kita di situs ini mengaktifkan imajinasi tentang masa lalu. Imajinasi yang turut membatu turun-temurun. Apa perlunya?Masa lalu adalah masa depan. Bangsa-bangsa maritim membuktikannya. Dimulai dari abad penjelajahan samudera. Petburuan rempah ke Nusantara dibangkitkan tulisan-tulisan masa lalu. Pencarian harta karun King Solomo karena tulisan masa lalu. Bahkan hebatnya spirit masa lalu, kedatangan bangsa Israel moderen ke Yerusalem karena tulisan mereka tentang masa lalu.”

La Kamba merampungkan seluruh rukun khutbah. Sebelum mengakhiri dengan takbir, cerita Watu Kapala Tosore, King Sulaiman, Wa Surubaende yang disetingnya ditutup, dalam intonasi lembut, “Kapal karam ini dalam pelayaran dari Kepulauan Melanesia ke Yerusalem. Terkubur jadi batu bersama kargo penuh emas, di bawah termpat sujud kita pada hari kemenangan ini.”

Apapun dongeng yang diseting sebagai perumpamaan pada khutbah La Kamba dalam sholat Idul Fitri di situs keramat Watu Kapala Tosore, telah tumbuh menjadi parade imajinasi Lima Pemuda. Sekian bulan terkurung wabah kolera, kini seakan memberi mereka hidup yang kedua.

“Mereka berlari, mengejar angin.
Menjumpai embun di padang rumput.
Bermandi cahaya dalam udara bebas.
Merayakan kemenangan Ramadhan dengan merdeka.”

Tak kita abaikan, sebab dongeng ialah visi.

                            *****

45 tahun kemudian, di tepian Vieux Port La Rochelle, , Perancis, kami temukan jejak ekspedisi Kapal Riset Calypso tahun 1989 ke Kepulauan Tukang Besi, dari pelabuhan tua ini, seperti memberi hidup kedua untuk Wakatobi.

CeritakanWakatobi

(bersambung ke seri Dunia Desa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *