Menemukan kembali jejak peradaban Buton dalam buku Sejarah Maritim Nusantara

Kalau kita mau melihat tentang konsistensi seseorang dalam meniti karir akademik, maka kita bisa melihat tokoh muda, seorang itu pada sejarawan muda Indonesia yang bernama doktor Abdul Rahman Hamid. Dia telah mendedikasikan diri untuk menulis tentang sejarah maritim Indonesia.

Doktor lulusan Universitas Indonesia, dengan disertasi mengenai Sejarah Mandar ini sangat produktif dalam menulis sejarah maritim Indonesia. Buku pertamanya yang diterbitkan oleh penerbit Ombak yang berjudul “Spirit Bahari Orang Buton, merupakan buku yang ditulisnya berdasarkan sejarah maritim kebudayaan Buton, ia banyak mengulas tentang sejarah pelayaran orang-orang Wakatobi terutama yang ada di pulau Binongko. Buku itulah yang memperkenalkan dia dengan saya, saya bertemu pada acara bedah buku yang dilaksanakan oleh Penerbit Ombak di auditorium Universitas Haluoleo tahun 2010 yang lalu.

Sebuah pertemuan yang tak disangka-sangka, saya bertemu dengan beliau dalam kapasitas kami sebagai penulis buku. Waktu itu ada 2 buku yang akan dibedah pada diskusi itu, yaitu buku Spirit Bahari Orang Buton karya Abdul Rahman Hamid, dan buku Perempuan dalam Kabanti: Tinjauan sosiofeminis karya Sumiman Udu. Sejak saat itu, saya sudah mengenalnya lebih dekat, hampir setiap diskusi kami selalu mendapatkan ide-ide baru untuk menulis. Mungkin menulis bagi dia adalah hobi, sekaligus ruang ekspresi yang bebas.

Sejak pertemuan itu, Abdul Rahman Hamid mampu menerbitkan lagi bukunya dengan judul Sejarah Maritim Indonesia, melalui buku itu beliau banyak dipakai dalam berbagai pelatihan sebagai pemateri sejarah maritim Indonesia. Beliau di undang dalam berbagai tingkat pelatihan di berbagai kementerian.

Pada tahun 2015 yang lalu, saya berhasil menerbitkan 1 buku yang berjudul Di Bawah Bayang-Bayang Ode, dan dicetak ulang pada tahun 2019. Buku ini kemudian menjadi bahan diskusi yang panjang terutama bagi mereka yang berada pada pusaran arus kebudayaan Buton, dan juga pada mereka-mereka yang mengalami masa-masa sulit ketika berhadapan dengan adat. Buku ini kemudian, ditransformasi menjadi naskah drama yang berjudul Di Bawah Bayang-bayang Ode, merupakan adaptasi dari novel kita sendiri. Drama yang disutradarai oleh Tanti Nur Wulandari, berhasil ditampilkan di studio drama FKIP Hniversitas Halu Oleo, merupakan ruang apresiasi terhadap karya sastra. Mungkin buku ini bisa ditransformasikan ke dalam sebuah film drama. Namun, seorang sutradara meminta dana sekitar 1,5 Miliar untuk bisa digarap. Saya hanya bergumam, semoga suatu saat nanti film itu bisa tampil di layar.

Dan pada, awal 2020, himpunan pelajar mahasiswa Wangi-wangi, mementaskan naskah ini dalam festival budaya dan kuliner yang diselenggarakan di Wakatobi. Walaupun sangat minim pengetahuan drama, tetapi mereka tampil dengan kreativitas yang juga sangat lumayan. Sayangnya pentas ini tanpa dokumentasi.

Kembali kepada pertemuan dengan tokoh Abdul Rahman Hamid, setelah menyelesaikan disertasinya, yang tentunya dengan perjuangan dan pengorbanan yang sangat luar biasa, setelah pulang ke Makassar, kampung di mana dia mengabdi di Universitas Hasanuddin, dia kemudian menulis lagi buku yang berjudul Sejarah Maritim Indonesia. Dalam buku keduanya ini, ia menulis lebih banyak tentang dua budaya pelayaran maritim atau etnis maritim yaitu sejarah Buton dan sejarah Mandar. Dua daerah yang sangat familiar di kepala Abdul Rahman Hamid, karena kedua daerah itu adalah daerah penelitiannya. Wakatobi Buton adalah penelitiannya di saat mengambil magister sejarah di Universitas Hasanuddin, sementara sejarah maritim Mandar, ia sangat familiar karena selama menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, ia banyak bergaul dengan peradaban itu. Ia mengambil mandar atas saran dari promotornya, pak Susanto Zuhdi.

Menariknya adalah dia mampu menemukan simpul-simpul pertemuan budaya Buton dan budaya mandar dalam dunia perahu atau dunia maritim mereka. Orang Buton banyak dikenal oleh orang mandar, bahkan jenis perahu Karoro atau bangka atau boti, diakui oleh orang mandar sebagai perahu orang Buton. Demikian juga orang mandar juga ada dalam dunia maritim Buton, khususnya Wakatobi.

Abdul Rahman Hamid merupakan salah seorang tokoh muda yang mendedikasikan hidupnya untuk menulis tentang sejarah maritim. Iya terinspirasi dari tokoh sejarah maritim Indonesia yang telah pergi, Prof. B. lapian. Tokoh yang banyak menginspirasi penulisan sejarah maritim Indonesia, tokoh ini terkenal dengan karyanya yang berjudul Orang Laut, Bajak laut, Raja Laut. Rahman Hamid banyak melihat karya ini sebagai ruang inspirasi bagi penulisan sejarah maritim Indonesia yang masih kosong. Banyak sejarawan Indonesia tetapi mereka adalah sejarahwan continental, mereka adalah sejarawan yang konsen untuk menulis pusat-pusat peradaban atau kerajaan.

Melalui promotornya, Prof. Susanto Zuhdi, Abdul Rahman Hamid mendalami lebih dalam tentang sejarah yang kalah, yaitu sejarah Buton dan sejarah Mandar. Sejarah maritim Buton dan sejarah maritim mandar, adalah 2 sejarah peradaban yang kalah dalam sejarah Indonesia. Dia melihat ruang ini sebagai ruang untuk berekspresi, ruang untuk mengisi kekosongan sejarah maritim Indonesia yang saat ini sangat kurang referensinya. Keduanya berada di pinggir alki 2 yaitu selat Makassar dan alki 3 di Wakatobi. Dua kawasan strategis, yang apabila semua kapal yang lewat dipajak oleh negara, satu ton satu dolar, Indonesia bisa kaya karena dua Alki ini sangat penting untuk perdagangan global.

Dengan hadirnya buku, sejarah maritim Indonesia yang barusan diterbitkan oleh Penerbit Ombak tahun 2020, diharapkan dapat menjadi salah satu referensi yang dapat dibaca oleh seluruh generasi muda yang ada di Indonesia. Buku ini akan membangun perspektif kita tentang negara ini, sebuah perspektif baru yang dapat mendukung tol laut yang digagas oleh presiden Joko Widodo. Melalui buku ini kita akan memahami bagaimana karakter bangsa kita, bangsa yang pantang menyerah, bangsa yang kuat, bangsa yang memiliki karakter yang mampu menaklukan samudra.

Selanjutnya, 2019, saya menerbitkan buku Inovasi Desa Wisata: Menuju Power Society Wakatobi Indonesia pada penerbit Ocenia Press. Buku yang berlatar desa desa Wisata di Wakatobi ini menjadi salah satu ruang diskusi yang menarik mengingat bangsa ini telah menghabiskan triliun rupiah untuk mendukung pengembangan desa. Buku itu hadir untuk memberikan konsep pengembangan desa wisata. Buku ini sudah akan memasuki cetakan kedua, karena cetakan pertama sudah menjadi bagian penting dalam perpustakaan desa desa yang ada di Indonesia. Desa Wisata Sombu, mengambil buku ini sebagai ruang untuk membangun kesadaran masyarakatnya. Karena membangun desa wisata sama dengan membangun sumber daya manusia. Dan buku adalah kunci dari upaya peningkatan kapasitas masyarakat desa.

Di tengah terpaan virus Corona, dan gejolak ekonomi, serta ancaman resesi, buku ini dapat mengingatkan kita untuk meminjam semangat leluhur kita dalam menaklukan samudra beberapa apa silam. Tentunya, buku ini harus dijadikan sebagai referensi, terutama bagi seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Karena mereka yang memahami sejarah bangsa ini, mereka yang akan memberikan jiwa dan raganya untuk bangsa ini, sebaliknya mereka yang tidak memahami sejarah bangsa ini, mereka akan menjadi burung pipit yang hanya dapat memakan sesuatu yang ada di bangsa ini. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, melihat bangsa ini sebagai ladang yang harus di habisi. Mereka yang lupa sejarah, akan kehilangan respek dirinya dalam melihat bangsa ini secara baik, mereka akan melakukan aji mumpung, mumpung berkuasa, mumpung punya duit, mereka tidak akan peduli pada nasib bangsa ini. Dengan memahami bagaimana sejarah peradaban kita, orang-orang akan melihat bangsa ini sebagai ruang untuk membangun peradaban baru peradaban yang mampu membuat semua orang tertawa, membuat semua manusia bisa bersukacita, saling mencintai, dan saling memberi satu sama lain.

Selamat berjuang, saat semuanya tertutup, kerja dari rumah, buku Abdul Rahman Hamid menjadi teman yang bisa membangun gagasan-gagasan baru, dan terutama dalam memahami sejarah maritim Indonesia.

bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *