Membongkar Mitos Kuliah (9)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Pada awal tahun 2015, seseorang mengirimkan pesan singkat ke Handphone saya, menanyakan bahwa “apakah ini benar dengan Pak Rahman?. Saya jawab, benar. Dia melanjutkan, saya adalah Ryan Fathonah dari Kementerian Luar Negeri RI, dapat kontak bapak dari Pak I Made Andi Arsana. Beliau merekomendasikan bapak untuk ikut dalam kegiatan kami, Maritime Fulcrum. Kapan rencana acara tersebut? tanyaku. Selanjutnya disampaikan dengan surat resmi, katanya.

Pak Andi Arsana adalah dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang sering dilibatkan dalam kegiatan Sekolah Staf dan Pimpinan Kemlu (Sesparlu). Pada saat itu, dia sedang menjadi peneliti tamu pada satu universitas di Australia. Dua tahun sebelumnya, dia mereview buku saya, Sejarah Maritim Indonesia (terbitan Ombak Yogyakarta, 2013), pada jurnal KITLV-Brill.
Setelah itu, saya kerap berkomunikasi dengan Pak Ryan soal kegiatan tersebut. Saya diminta menyampaikan materi tentang Sejarah Maritim Indonesia, tepatnya, What can Indonesia learn from its historical roots as a maritime nation? Dari situ saya membuat makalah “Menjadi Negara Maritim: Perspektif Sejarah”.

Peserta kegiatan terdiri dari diplomat senior yang sudah berkarya di Kemlu lebih dari 15 tahun dan paling tidak telah ditempatkan di dua perwakilan RI di luar negeri. Setelah mengikuti Sesparlu, para peserta diproyeksikan untuk menduduki berbagai jabatan pimpinan di Kemlu dalam tiga sampai lima tahun mendatang.

Dalam acara itu, peserta dibekali isu-isu strategis yang terkait dengan visi Presiden Joko Widodo, terutama mengenai isu penegasan karakter maritim. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Sesparlu, CSIS, dan TNI AL.

Baca juga Membongkar Mitos Kuliah (8)

Melihat isu dan peserta diklat, tentunya bukan perkara mudah bagi saya. Mereka berpengalaman dan telah lama bertugas di luar negeri, yang saya sendiri baru pelajari lewat buku di antara negara-negara tempat mereka bertugas. Tetapi, karen yang diminta adalah soal Sejarah Maritim Indonesia, maka itu kurang sulit bagi saya, karena saya telah menerbitkan buku bertema hal itu.

Baca juga Membongkar Mitos Kuliah (1)

Tantangan utama saya adalah menjawab pertanyaan mereka soal relevansi sejarah maritim bagi Indonesia ke depan. Hal itu kadang kurang mendapat perhatian di kalangan sejarawan. Saya juga banyak belajar dari peserta.

Dalam tempo 2015 – 2018, saya mendapat kepercayaan mengajar pada lima angkatan: 53 (Agustus 2015), 54 dan 55 (Maret dan September 2016), 56 dan 57 (Maret dan Oktober 2017), dan 58 (Maret 2018). Jumlah peserta antara 15 sampai 30 orang.

Pada setiap acara, saya diinapkan pada Hotel Atlet dekat Stadion Gelora Bung Karno, sebuah hotel berbintang di ibukota negera, Jakarta.
Kesempatan tersebut saya gunakan untuk mengurus kepentingan akademik saya di Kampus UI Depok. Tentunya, dari honor kegiatan itu, saya dapat menyimpan dana untuk biaya studi saya.

Baca Juga Membongkar Mitos Kuliah (2)

Tampak jelas bagi ku sekarang, bahwa Itu semua adalah kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT bagi saya saat menimba pengetahuan di Program Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (2013-2019) lewat kegiatan Sesparlu Kemlu (2015-2018).

Minggu, 10 Februari 2019

Baca juga Membongkar Mitos Kuliah (3)

Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (1)

Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *