Membongkar Mitos Kuliah (8)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Tak dapat diragukan lagi, saya yakin bahwa Allah SWT telah merapikan jalur pelayaran akademik saya hingga tiba pada satu perhentian, wisuda 2 Februari 2019.

Sebelum aktif kuliah, setelah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia tahun 2013, saya mendapat kepercayaan dari Arsip Nasional RI untuk menjadi narasumber pada kegiatan Sosialisasi Guide Arsip Pelabuhan. Saat itu, saya berdampingan dengan Prof. Dr. Susanto Zuhdi (guru besar Sejarah UI), yang kelak menjadi promotor saya.

Baca jugaย Membongkar Mitos Kuliah (7)

“Selamat siang, apakah benar ini dengan Pak Abd. Rahman Hamid?, demikian satu pesan singkat masuk di Handphone saya. Saya jawab, Iya benar. Maaf dengan siapa, tanyaku. “Dari Mas Rais, ANRI Jakarta”, jawabnya. Itulah awal percakapan kami. Sejak saat itu, saya dan Mas Rais saling kontrak via sms.

Mas Rais mengatakan bahwa telah membaca buku saya, Sejarah Maritim Indonesia (terbitan Ombak Yogyakarta). Kemudian meminta kesediaan saya untuk menjadi narasumber. Saya menyanggupi. Tapi, saya bicara khusus soal suku-suku bahari ya, terutama pelayaran Buton dan sedikit saja mengenai pelayaran Mandar, kata ku lagi. Okey, sepanjang itu berkaitan dengan penggunaan arsip.

Baca jugaMembongkar Mitos Kuliah (6)

Meskipun hingga saat itu (2013), saya belum pernah menggunakan arsip dari ANRI Jakarta. Saya punya pengalaman menggunakan arsip di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (BPAD) Sulawesi Selatan, jelas ku untuk memperkuat justifikasi saya selaku calon narasumber.

Seingat ku, itu adalah tampilan ku yang pertama pada sebuah lembaga nasional bergengsi di kalangan sejarawan. Tentu bukan main tantangannya, kalau tak mau dibilang grogi, bisa tampil pada forum ilmiah tersebut.
Saat pertama tiba di lokasi acara, di sebuah hotel mewah di Jakarta, saya langsung menemui panitia. Untuk beberapa detik, mereka memperhatikan kehadiranku, seakan tak yakin jika yang datang itu adalah narasumber. Betapa tidak, saya naik ojek (motor) dan penampilan saya pun seadanya. Setelah saya menjelaskan dan menanyakan soal Mas Rais, barulah keraguan mereka berubah dan memberikan pelayanan extra layaknya narasumber.

Baca jugaย Membongkar Mitos Kuliah (5)

Saya coba tampil dengan maksimal. “Saya tidak terlalu khawatir, jika nanti dalam paparan saya ada yang kurang, karena di sini ada Prof. Susanto, yang kelak mengajar saya pada program doktor Ilmu Sejarah UI”, begitu kata ku saat mengawali presentasi.

Setelah presentasi, beberapa peserta menghampiri dan berjabat tangan, sembari memberi apresiasi atas paparan saya. Kemudian datang seorang panitia menyodorkan lembar administrasi dan honor narasumber. Alhamdulillah, dana itu telah menambah saving dana studi saya pada tahun pertama (2013).

Pada tahun 2015, atas kepercayaan dari Dr. Tasrifin Tahara (dosen Antropologi Unhas Makassar), saya dilibatkan dalam risetnya tentang Budaya Bahari, dari proyek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Fokus kami mengenai konsep Sabangka-Asarope. Konsep itu sesungguhnya adalah studi lanjut dari temuan studi (tesis S2) saya pada PPs Antropologi-Sejarah Unhas (2007) mengenai Pelayaran Masyarakat Kepulauan Wakatobi 1942-1999.

Dari dua lokasi riset, Buton Daratan dan Kepulauan Wakatobi, saya memilih ke lokasi yang disebut terakhir. Fokus saya di Pulau Binongko, yang belum banyak saya kaji saat menulis tesis saya. Hasil riset itu terbit di Kemdikbud (2015) dengan judul SABANGKA ASAROPE: Tradisi Pelayaran Orang Buton.
Itulah pertama kali saya berkenalan dengan Pak Dedi Adhuri, peneliti LIPI yang fokus pada studi maritim. Beliau sebagai pembahas karya kami (Tasrifin Tahara, Abd. Rahman Hamid, La Ode Abdul Ganiu Siadi). Yang pertama juga saya bekerja untuk satu program riset dari Kemendikbud.

Baca jugaย Membongkar Mitos Kuliah (4)

Alhdulillah, dana riset tersebut telah membantu melunasi biaya kuliah saya untuk satu semester pada tahun 2015. Selain itu, sebuah artikel dari riset itu terbit pada dua jurnal nasional terakreditasi (Masyarakat Indonesia, LIPI dan Wacana FIB UI). Artikel tersebut memenuhi syarat publikasi ilmiah untuk ujian hasil riset pada program doktor UI, 20 Desember 2018.

Jumat, 8 Februari 2019

Diposting kembali pada 21 Desember 2019

Baca jugaย Membongkar Mitos Kuliah (1)

Membongkar Mitos Kuliah (2)

Membongkar Mitos Kuliah (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *