Membongkar Mitos Kuliah (4)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Bagi sebagian orang, kisah ini akan menjawab, bagaimana perjuangan seorang doktor dari kalangan kebanyakan, tetapi mampu menaklukkan Universitas Indonesia. Tentunya, hari ini kisah itu akan dilanjutkan, berikut cerita ini dimulai oleh yang punya cerita.

Pada akhir Oktober 2014, lima hari lagi, saya dan keluarga kecilku, akan kehabisan biaya hidup di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat. Saat itu, anak kami yang kedua, Annisa Fikriana, baru berusia empat bulan. Saya sengaja membawa Nisa, karena tiga jam setelah ia lahir di RB. Sophiara Makassar, saya langsung tingalkan ke Depok untuk kuliah. Waktu itu, kakaknya, Nurul Azkiyah, ikut dengan neneknya ke kampung (Seram, Maluku).

Baca Juga Membongkar Mitos Kuliah (1)

Pagi itu, saya berkeliling kompleks, sembari berpikir berbagai alternatif yang dapat saya lakukan untuk mendapatkan biaya hidup kami. Setiap ada info yang terpajang di jalan, saya coba mendekati. Berharap ada lowongan kerja untuk saya. Kadang tiba di satu lorong buntu, sehingga harus balik lagi dan mencari jalan lain. Maklum, hari itu saya jalan tanpa tujuan tertentu, kecuali melihat-lihat keadaan dan peluang informasi pekerjaan.

Setelah setengah jam lamanya berkeliling, Handphone saya berdering. Assalamu Alaikum Pak Rahman, apa kabar?, begitu kata pembukanya. Saya balik bertanya, maaf dengan siapa? Penelpon menjawab, Pak Joko. Saya masih belum kenal baik, tapi dari nada suaranya, tampak saya sedikit kenal. Setelah itu, beliau melanjutkan, saya.. Prof. Djoko Marihandono. Oh, iya Prof, kataku. Ada apa Prof? Saya balik bertanya. Bagaimana kuliahnya?, beliau bertanya lagi. Saya jawab: Alhamdulillah baik Prof, sekarang lagi kuliah.

Baca Juga Membongkar Mitos Kuliah (2)

Begini Pak Rahman, ada Seminar Nasional Proklamasi di 8 Provinsi. Pak Anhar Gonggong, sebagai calon pembicara, berhalangan. Kesehatannya kurang baik. Kami perlu pengganti beliau. Apakah bisa dibantu carikan calon pembicara dari Indonesia Timur? Untuk membicarakan Proklamsi di Indonesia Timur, khususnya Provinsi Sulawesi dan Provinsi Maluku.

Saya mengajukan beberapa nama dari Indonesia Timur, tetapi Prof. Joko belum setuju. Kira-kira 3 atau 4 nama saya ajukan. Setelah itu, tiba-tiba beliau katakan, bagaimana kalau Pak Rahman saja? Saya sulit menjawab. Waduh pak, kataku. Mengapa?, tanya Beliau. Apakah bisa buat makalah, besok sore jam 4 selesai? Awalnya saya ragu, karena saya tidak di Makassar. Sumber-sumber saya ada di Makassar. Kemudian saya respon, baik Pak. Saya upayakan. Terima kasih pak Rahman, kemudian beliau menutup teleponnya.

Baca juga Membongkar Mitos Kuliah (3)

Saya bergegas kembali ke rumah. Tanpa banyak bicara, saya sampaikan ke isteri saya soal tawaran itu. Saya minta agar diberikan waktu luang untuk kerja. Isteri aya setuju dan mendukung sepenuhnya. Saya bersiap, lalu ke kampus.

Tujuan utama saya di kampus tentunya adalah perpustakaan Universitas Indonesia. Saat tiba di pintu timur perpustakaan (dekat BNI), saya bertemu kawan saya. Tanpa basa basi, saya sampaikan, maaf, saya ada urusan penting. Saya harus segera masuk ke perpustakaan.
Saya masuk ke perpustakaan. Lantai 2 dan 4 adalah tujuan saya. Pertama saya ke lantai 2. Di sana banyak buku-buku sejarah lokal tentang Sulawesi dan Maluku. Saya langsung pinjam. Sekitar 10 buku, karena itu batas maksimul jumlah pinjaman bagi mahasiswa pascasarjana. Kemudian, saya naik lagi ke lantai 4 untuk membaca koleksi khusus yang tidak bisa dipinjam. Sampai kira-kira jam 4 atau 5 sore, saya kembali ke rumah, dengan membawa sejumlah buku.

Di rumah, isteri dan anak saya menunggu. Isteri saya tahu bagaimana saya dalam kondisi seperti itu, jika mau menulis. Dia menyiapkan menu ala kadarnya, sembari menjaga putri kami, Nisa.

Saya mulai menulis. Beristirahat hanya pada waktu shalat dan makan malam. Saya tetap di meja belajar saya, yang menghadap ke timur, di pojong kamar, dekat pintu masuk. Satu demi satu buku dibuka, sesekali melipat bagian yang penting, kemudian menuliskannya (diketik di laptop). Tidak terasa, saya tidak tidur semalam. Bahkan, jika tak salah ingat, sampai jam 3 sore hari berikutnya, barulah tulisan (makalah) saya rampung.

Alhamdulillah, sekitar 24 jam lamanya saya menulis makalah, dengan judul “Proklamasi dan Dilema Republik di Indonesia Timur”. Saya langsung kirim via e-mail ke Panitia dan mengabarkan via sms kepada Prof. Joko bahwa saya sudah mengirim makalah ke Panitia seminar.

Prof. Joko mengingatkan agar lusa, 30 Oktober 2014, saya ke lokasi acara tepat waktu.

Pagi tgl 30 Oktober, saya bergegas ke stasiun UI, naik kereta ke Juanda. Tak disangka, saat saya kelyar dari pintu keluar stasiun, tampak Prof. Joko sedang ngopi di Indomaret/Alfamaret Stasiun. Ternyata beliau juga melihat saya, dan langsung memanggil. Saya mendekat. Beliau langsung sampaikan, silahkan pesan, ambil kopi atau teh hangat. Saya masih ragu. Betapa tidak, sebenarnya saya tak punya duit lagi. Beliau bilang begini, pesan saja, nanti saya yang bayar, kata Prof. Joko.

Sedianya, saya rencana jalan kaki ke tempat seminar. Kata Security di stasiun, jarak ke museum tidak terlalalu jauh. Bisa dijangkau jalan kaki, jika mampu. Tentu, sebagai anak kampung dan terbiasa jalan kaki, saya sudah terbiasa dan siap jalan kaki ke sana.

Syukurlah saya ketemu Prof. Joko. Niat untuk jalan kaki berubah menjadi naik Bajae, kendaraan khas kota Jakarta. Kami ke lokasi. Di sana sebagian peserta sudah datang. Beliau memperkenalkan saya kepada panitia, lalu registrasi dan masuk ke ruangan. Acara dimulai, dengan pembicara utama adalah Prof. Taufik Abdullah (sejarawan senior). Lanjut ke sesi panel 1, yang dipandu oleh Ibu Erwiza Erman, yang sudah saya kenal saat memberi kami kuliah Sejarah Perburuhan di Pascasarjana Unhas tahun 2006. Sembari memotivasi, beliau berpesan, agar saya tampil percaya diri dan lebih baik.

Peserta saat itu, selain mahasiswa, ada juga para dosen yang mendampingi mahasiswanya. Antara lain, mahasiswa Sejarah Unhas dipandu oleh Dr. Bambang Sulistyo, saat itu sebagai ketua jurusan. Tentu saya agak canggung, karena beliau adalah dosen saya dan kajur di mana saya mengajar sebelum lanjut studi di UI.

Sesi ke-2, dipandu oleh Dr. Yuda Benharry Tangkillisan, dosen sejarah UI, yang tak lain kemudian menjadi Kopromotor saat menulis Disertasi. Pembicara lain adalah Prof. Dr. Wasino, Dr. Tunjung, Dr. Abdulrahman (UI), dan saya Abd. Rahman Hamid, M.Si. Hanya saya yang bergelar master, lainnya doktor dan professor.

Setelah presentasi berapa peserta datang menyalami, di antaranya dosen dari Sumatera, yang sudah membaca buku saya, Pangantar Ilmu Sejarah (Ombak, 2011). Ada juga Abd. Malik Raharusun, mahasiswa PPs UNJ, dari Tual Maluku Tenggara, yang tak lain adik kelas saya saat kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah UNM Makassar.

Baca juga Tindoi: Jejak Peradaban (ini Catatan untuk Kadis Pertanian, tentang Kebijakan Pertanian Raja Liya)

Seminar selesai. Saya dipanggil oleh Panitia untuk tanda tangan administrasi sebagai narasumber. Saya ingat menerima dua amplop, satu untuk honor dan satu biaya pembuatan makalah. Tampak tebal. Saya langsung masukan dalam tas. Lalu pulang naik mobil bersama rombongan Prof. Joko dan Prof. Wasino. Saya turun di stasiun dan kembali ke UI. Sampai akhirnya tiba di rumah. Dalam hati ku bertanya, kok amplopnya besar. Berapa ya? Tapi, saya tak mau membukanya di jalan.

Baca Juga Membongkar Mitos Kuliah (5)

Setelah sampai di rumah, saya berikan ke isteri saya. Dia membuka dan menghitungnya. Alhamdulillah, kata dia. Kita bisa hidup dengan ini untuk satu bulan ke depan. Masalah biaya pun teratasi saat itu.

Sungguh, Allah telah melapangkan kehidupan ku dan keluarga saat studi di Kota Depok, Jawa Barat.

Depok-Jawa Barat,
Kamis, 31 Januari 2019.

Diposting kembali di Makassar,
Rabu 18 Desember 2019.

Baca juga PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PADA UPACARA BENDERA PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2019

Dedikasi Akademik Prof. Dr. Susanto Zuhdi (24 tahun Meneliti Buton)

Jaka, sang Inovatif: Pemenang karya Inovasi dalam Wakatobi Wave

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *