Membongkar Mitos Kuliah (3)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Tiga hari lagi, masa pembayaran kuliah berakhir. Saya belum punya cukup dana. Masih kurang 5 juta rupiah, dari seharusnya 8,5 juta. Tidak ada tanda-tanda sumber dana yang dapat saya peroleh. Lagi pula, jumlah kekurangannya cukup banyak. Jika hanya 1 atau dua 2 juta, saya bisa minta pinjam kepada keluarga.

Solusi terbaik saat itu adalah minta cuti kuliah dari kampus untuk semester yang akan jalan. Tetapi, bila cuti harus saya urus langsung ke Depok, biayanya hampir setengah dari kekurangan biaya tersebut.

Baca JugaMembongkar Mitos Kuliah (1)

Sembari berpikir mencari berbagai alternatif, saya tuangkan kegelisahan lewat status di BB, kira-kira begini kalimatnya “Tiga hari lagi, masa depan studinya ditentukan”. Ternyata, maaf sedikit gaptek, status itu bisa dibaca oleh orang lain.

Tidak lebih dari satu jam, Handphone saya berdering. Tampak nama rekan kerja, Koordinator Wilayah PKH Nusa Tenggara Timur 2, namanya Jakaria Amahala atau biasa disapa Bang Jeck. Seperti biasanya, dia menyapa saya Ustadz. Tanpa berbasah basi, dia langsung bertanya “Ada apa Ustadz?”. Saya karena tidak paham (alias gaptek dengan staus yang saya biat di BB), saya menjawab, Alhamdulillah baik. Dia tidak puas dengan jawaban saya, lalu bertanya lagi “apa maksud kalimat di statusnya?”. Saya sadar, bahwa status saya telah dibaca oleh Bang Jack. “Mengapa tiga hari lagi masa depan studi Ustadz ditentukan?” Seingat saya, ini baru tahun kedua, tidak mungkin langsung tamat (wisuda)?, begitu tanyanya.

Saya mencoba menyembunyikan kendala biaya studi saya, dengan alasan lain. Tetapi, Bang Jack tetap saja mendesak ingin tau sebabnya? “Kalau boleh saya tau, mungkin saya bisa bantu”? Ungkapnya lagi. Sampaikan saja?, katanya.

Dengan sedikit sungkang, saya jelaskan pada Bang Jack, bahwa saya lagi kesulitan mencukupi biaya studi. Sedang masa bayar sisa tiga hari lagi. Tanpa banyak tanya, dia langsung ke jantung masalah: “berapa kekurangannya?”. Saya bilang, saya sudah punya sebagian dana studi, tapi masih kurang 5 juta. Lantas, dia bilang, kirimkan nomor rekeningnya, kira-kira dua jam lagi saya kirim, karena sekarang dalam perjalanan, kata Bag Jack.

Tidak sampai 2 jam kemudian, Bang Jack menelpon, bahwa dana 5 juta sudah saya transfer ke rekening Ustadz, sembari berkata: setelah dapat honor atau punya dana, barulah dikembalikan. Alhamdulillah, saya bisa kuliah lagi pada semester akan datang. Saya sampaikan banyak terima kasih kepada sahabat saya itu.

Baca juga Al Qur’an sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan Modern

Saya tidak menduga, jika bantuan itu datang dari sahabat saya itu, yang jauh di sana. Betapa tidak, dia termasuk rekan kerja yang tak mau ambil pusing dengan urusan orang lain. Bahkan, kadang lebih santai pada saat kegiatan.

Ternyata, saya dan rekan2 yang lain keliru, karena terlalu melihat sisi luar dari seorang kawan. Dia sangat peduli kepada saya.
Terima kasih sobat, walau kami tidak lagi bersama di PKH, saya doakan moga sehat, sukses, dan bahagia selalu. Amin.

Kisah di atas membuat saya yakin, bahwa Allah SWT memberikan kemudahan bagi studi saya lewat tangan hambanya, sahabatku yang baik, Bang Jack.

Selasa, 30 Januari 2019.

Diposting kembali dari Pinrang, Sulsel
Selasa 17 Deaember 2019

Baca juga Membongkar Mitos Kuliah (2)

Novel “BAJAK LAUT”: Sebuah Catatan

Hari Guru: Mengenang Guru-Guru Kita yang Hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *