Membangun Desa Wisata Jauh Lebih Berat Dibandingkan dengan Membangun Hotel dan Resort

Membangun desa wisata, tidak sama dengan membalikkan telapak tangan, karena lebih muda membangun resort dan hotel mewah jika dibandingkan dengan membangun pariwisata berbasis masyarakat atau lebih kerennya disebut desa wisata. Mengapa karena membangun resort dan hotel mewah hanya membutuhkan modal finansial yang besar. Sementara membangun pariwisata berbasis masyarakat, bukan hanya membutuhkan modal finansial yang besar, untuk membeli bahan bangunan berupa besi batu pasir dan semen.

Membangun pariwisata berbasis masyarakat, atau lebih keren disebut pariwisata desa, membutuhkan banyak aspek yang perlu dibangun, terutama penyiapan sumber daya manusia yang ada ada di dalam sebuah desa. Infrastruktur dalam bentuk beton, yang terdiri dari paku, kayu, batu, pasir, semen dan besi, tidak susah kalau sudah ada modal finansial untuk membelinya. tukang juga gampang dibayar untuk membangun infrastruktur seperti itu. Tetapi ingin bangun pariwisata berbasis masyarakat membutuhkan upaya pemberdayaan masyarakat sebagai subjek dari pariwisata desa tersebut. Mereka harus dilibatkan sejak dari awal, mulai dari proses perencanaan, sudah harus mampu memetakan persoalan yang ada di dalam masyarakat. Mulai dari peta sumber daya alam, peta sumber daya manusia, peta model tata kelola, semuanya harus terpisahkan dengan baik. Pemetaan yang baik akan menghasilkan perencanaan yang baik, karena masyarakat akan memahami potensi mereka, potensi sumber daya alam, potensi sumber daya manusia, potensi sistem tata kelola, sampai dengan potensi modal sosial dan modal budaya yang mereka miliki. Masyarakat juga harus tahu, apa modal finansial yang mereka miliki saat ini.

Beberapa tokoh masyarakat yang rapat setahun yang lalu

Pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat, berarti upaya untuk membangun mindset, membangun kesadaran, membangun partisipasi dari seluruh komunitas yang ada dalam sebuah desa wisata. Pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, merupakan upaya untuk mendorong masyarakat untuk menjadi subjek dalam pembangunan desa mereka.

Di sini, membutuhkan tokoh-tokoh masyarakat atas stockholder yang mampu memahami seluruh potensi sumber daya yang ada di desa. Mereka adalah orang-orang atau organisatoris atau apa perencana, yang bukan hanya mendesain konstruksi bangunan tetapi mereka harus memahami konstruksi sosial, mulai dari modal budaya dan modal sosial yang dimiliki oleh sebuah masyarakat. Mereka harus mampu memahami sampai pada aspek habitus yang dimiliki oleh sebuah masyarakat, sehingga mereka mampu menggerakkan masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat tersebut. Seorang perencana pembangunan desa wisata atau pariwisata berbasis masyarakat, harus tokoh masyarakat yang mampu berdiri di tengah-tengah masyarakat sehingga dia menjadi panutan yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat. Namun untuk memahami potensi sumber daya yang ada dalam masyarakatnya, ia harus mampu naik ke loteng atau dalam ilmu akademiknya disebut dengan mampu menjaga jarak antara objek nya dengan dirinya sebagai seorang perencana. Sehingga ia mampu melihat dengan baik, kondisi dan konstelasi sumberdaya yang akan direncanakannya.

Baca Juga

Desa Wisata Penglipuran Bali: Model Wisata Desa Internasional

Demikian juga dengan pelaksanaan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, tidak segampang pembangunan infrastruktur hotel dan resort. Pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, melibatkan masyarakat sebagai subjek, tentunya memiliki sudut pandang yang banyak, masing-masing orang datang dengan cara berpikirnya. Maka yang perlu dilakukan adalah, membangun pariwisata berbasis masyarakat sebenarnya adalah membangun kesadaran bersama, mimpi bersama, sehingga yang menggerakkan masyarakat adalah harapan dan cita-cita atau mimpi mereka. pariwisata berbasis masyarakat harus menjadi mimpi seluruh elemen yang ada di dalam sebuah desa atau sebuah komunitas. Mereka dapat menjadi pelaksana atau dapat menjadi subjek dari pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, jika kesadaran mereka tentang pariwisata itu sudah dimiliki oleh setiap elemen masyarakat yang ada di desa itu. Mulai dari kepala desa, anggota atau pengurus desa, DPD, kampung kampung, ketua RT dan ketua rw, tokoh pemuda, tokoh-tokoh perempuan, remaja masjid, dan kau rohaniawan yang lain, harus memiliki visi dan misi bersama untuk membangun pariwisata berbasis masyarakat.

Demikian juga dengan elemen masyarakat yang lain, semuanya harus memiliki visi dan misi yang satu yaitu mewujudkan pariwisata berbasis masyarakat yang dapat mensejahterakan kehidupan mereka bersama, membangun pariwisata desa berbasis masyarakat yang dapat memberikan dampak kepada lingkungan secara berkelanjutan, mereka harus memiliki mimpi dan cita-cita bersama untuk menciptakan pariwisata berbasis masyarakat yang ikut membangun sosial budaya terlanjutkan.

Kalau di dalam membangun restoran dan hotel, tidak terlalu melibatkan publik, sejak keputusan-keputusan gampang diambil oleh pimpinan perusahaan yang memiliki segala aspek sumber daya termasuk finansial. Tetapi dalam pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, tidak demikian adanya. Harus mengerti tentang sumber daya manusia yang ada di dalam sebuah desa, jika sumber dayanya lemah, mata yang perlu dibenahi adalah penguatan sumber daya manusianya, sehingga mereka bisa berpartisipasi sebagai subjek dalam pembangunan pariwisata desa. Partisipasi masyarakat akan menentukan bagaimana keberhasilan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat yang ada di desa.

Banyak teori-teori yang jelaskan tentang pengorganisasian masyarakat dalam perencanaan pembangunan, namun yang paling penting, dari berbagai klasifikasi partisipasi sosial yang ada, yang paling dibutuhkan adalah kesadaran dari dalam individu masyarakat itu sendiri sebagai aspek paling penting. Mereka bergerak sendiri, karena digerakkan oleh harapan mereka, cita-cita mereka dan mimpi mereka. Untuk mencapai kesadaran seperti itu, tidak segampang membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan pribadi-pribadi yang tangguh, bukan hanya pada aspek konsep dan teori, pribadi pribadi yang tangguh yang langsung terjun ke masyarakat sebagai pemimpin. Mereka harus tampil sebagai contoh, kredibilitasnya harus jelas, integritasnya, harus menjadi tempat menggantungkan harapan bagi seluruh masyarakat.

Tokoh-tokoh masyarakat yang selalu menjadi pemimpin tradisional yang ada di desa, harus menjadi bagian penting untuk dilatih oleh pemerintah daerah. Karena mereka memiliki integritas yang tinggi, nggak masyarakat bisa percaya kepada mereka. Mereka adalah penggerak yang ada di dalam masyarakat. Mereka harus dilatih dan dirawat, sehingga mereka dekat menjadi ujung tombak pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.

Kalau kita melihat ke berapa desa wisata yang ada, hampir setiap desa wisata yang sukses memiliki tokoh yang menggerakan desa tersebut. Banyak desa desa wisata yang ada di Bali yang sukses, memiliki kepemimpinan tradisional yang berbasis masyarakat adat. Demikian juga dengan desa desa wisata yang ada di Nusa Tenggara Timur, kepemimpinan ada juga masih sangat dominan. Apa yang terjadi dengan kepemimpinan adat? Mengapa mereka selalu menjadi aspek penting dalam setiap pengembangan pariwisata berbasis masyarakat? Jawabannya sederhana, yaitu mereka memiliki integritas dan dipercaya oleh masyarakat.

Waha Tourism Center atau WTC yang ada di Wakatobi, tidak terlepas dari kepemimpinan tokoh lokal, seperti pak Sudirman. Beliau yang menggerakan masyarakat yang tergabung dalam WTC, tentunya memiliki kendala dan tantangan dari tahun ke tahun. Tapi karena ada komitmen dan integritas yang tinggi, menyebabkan WTC mampu bertahan sampai sekarang. Dampaknya sangat luar biasa, membangun kawasan perlindungan laut yang luar biasa dan diakui oleh dunia nasional dan internasional. Selanjutnya WTC juga, membangun kesadaran bersama masyarakat Waha dan sekitarnya, untuk peduli terhadap lingkungan.

Yah, banyak orang yang bisa membangun resort dan hotel mewah, tetapi belum tentu mereka mampu membangun pariwisata berbasis masyarakat seperti yang dilakukan oleh pak Sudirman dengan kelompok WTC nya. Demikian juga kepemimpinan La Asiru di Desa Wisata Kulati Tomia Timur, semua terbangun karena integritas yang dimiliki oleh tokoh.

Baca Juga

Pemetaan Potensi Desa: Awal untuk Bisa Membangun

Di desa Wisata Ponggok, kepemimpinan kepala Desa juga memegang peranan penting dalam kesuksesan pariwisata berbasis masyarakat ini. Mereka mampu menggerakkan masyarakat, untuk mewujudkan mimpi bersama. Mereka mampu menggerakkan masyarakat untuk bergerak, sesuai dengan mimpi bersama mereka.

Dengan demikian, membangun pariwisata berbasis masyarakat, intinya adalah membangun kesadaran masyarakat, sementara membangun resort dan hotel adalah membangun infrastruktur dan menggaji karyawan. Resort dan hotel membutuhkan uang sebagai kekuatan utama, sementara pariwisata berbasis masyarakat membutuhkan sebuah kesadaran untuk membangun visi dan misi bersama.

Bersambung ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *