Maulid Haroana Maludhu dalam Perspektif Masyarakat Buton

Oleh: Kamaluddin Z

Besok adalah hari 12 Bulan Rabiulawal adalah hari peringatan kelahiran nabiullah Muhammad SAW. Dalam masyarakat etnis Buton Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa yang sakral dan diagungkan dimana saja mereka berada. Maludhu adalah bahasa Wolio yang berasal dari bahasa Arab Maulid yang berarti kelahiran. Komitmen untuk memperingati hari maulid sudah menjadi keyakinan masyarakat Buton secara turun temurun hingga hari ini sebagai bukti atau pertanda kecintaan mereka yang mendalam terhadap sosok Nabi Muhammad SAW. Selain itu kegiatan Maludhu juga diniatkan untuk menanamkan rasa cinta di kalangan umat agar bersemangat menjalankan risalah yang dibawahnya

Proses pelaksanaan Maludhu Wolio berisikan memperdengarkan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dan perjuangannya, memperdengarkan puji-pujian yang patut baginya guna menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah serta menebar suka cita dikalangan umat. Riwayat hidup dan perjuangan Rasulullah SAW merujuk kepada Kitab Maulud Syaraf Al Anam dan Syair-Syair Buton.Yang diakhiri dengan penyajian aneka makanan yang disiapkan dalam talang untuk santap bersama.

Pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Kesultanan Buton biasanya dibaca oleh tetua adat, kapasitas bacaanya fasih dan khususnya tawadhu kepada Allah SWT. Dalam pembacaannya ada tiga kali perhentian dan tiga kali tafakur memohon kepada Allah, yaitu awal memulai membaca, tafakur pertengahan (Asraaka) dan tafakur penutup (hendak membaca doa). Ketiga tingkatan ini filosofinya adalah mengenang perjalanan diri atau kejadian manusia ketika berada di kandungan ibunya, yaitu:
Sebagaimana firman Allah, Al-Quran Surat Az Zumar ayat 6 :

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Al qur’an menyebut, tiga kegelapan yang dimaksud ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim. Masyarakat Buton menyebut tiga kegelapan tersebut sebagai; i). kegelapan di alam misal, ii). kegelapan di alam ajsamu, dan iii). kegelapan di alam insan.

Secara rinci prosesi pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada masyarakat Kesultanan Buton berisi tentang hal-hal sebagai berikut:
1) Salam kepada Nabi Muhammad
2) Pria pilihan yang menjadi penyelamat umat manusia
3) Bulan penuh berkah.
4) Proses kejadian manusia
5) Kelahiran manusia pilihan dan beberapa perlakuan pada rasul sejak lahir, seperti diberi celak pada kedua matanya, dipotong plasentanya, disunat, ditawafkan, diberitahu tentang isi dunia dll.
6) Masa kanak-kanak dan saat awal menyebarkan agama.
7) Alhamdalah: ungkapan rasa syukur
8) Badatilana: kisah kemuliaan rasul
9) Asraka: Puji pujian terhadap rasul
10) Fiymaani: kedudukan dan peran Rasul di mata manusia.
11) An nabi ( tidak ada di dalam syafal an’am) : kebesaran rasul
12) Falakum: penjelasan kisah kanak-kanak
13) Fathuruqu: kisah Halimah yang menyusui rasul
14) Fazatihalima: sanjungan terhadap Halima
15) Ta’allama liynahu: ajaran keluarga Halima untuk rasul
16) Man mitsulu: kisah kanak kanak bersama Zahra
17) Ya maulid: kisah dibersihkannya dada rasul pada saat kanak-kanak dan saat miraj
18) Shalal ila: kisah kelahiran rasul, diwaktu subuh dan kejadian alam saat kelahiran rasul.
19) Ta’lubina: pernyataan tentang kelebihan rasul.
20) Habibu: pernyataan rasa sayang ummat terhadap rasul.
21) Fiyhubbi: pernyataan umat akan keagungan rasul
22) Fiy rujuha ( sair Walio )
23) Ilaahi adhimi ( sair Wolio ) pada syafaal an’am disebut ilaahi tamimi

Dengan keyakinan yang dalam seperti ini masyarakat Buton menyambut bulan Maulid, tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, karena masing-masing berupaya untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi, paling tidak kalau betul-betul pada bulan Rabiulawal sedang tidak mendapatkan kemampuan untuk memenuhi isi talang secara komplit (Tala Rasulu), maka cukup mengisi Bhalobu/Baskom dengan seadanya. Tala Rasulu atau talang Rasulullah yang dimaksud adalah talang yang penuh hidangan makanan atau kuliner yang telah disaratkan dalam budaya masyarakat Buton. Seandainya pun untuk mengisi Bhalubu atau baskom belum juga atau tidak sanggup, maka untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan Peringatan Maulid, cukup dengan menyediakan air putih diisi dalam satu tempat khusus sebagai air suci yang telah di doakan oleh seorang tetua/ imam. Keyakinan seperti ini sudah mendarah daging yang dilakukan secara turun- temurun sejak zaman kesultanan hingga saat ini.

Persyaratan keluarga yang memulai mengadakan peringatan maulid setelah berumah tangga yaitu pada tahun pertama diharuskan mengikuti orang tua dengan mengisi bhalobu, baskom selanjutnya berturut-turut 3 kali baru boleh untuk mengisi Tala Rasulu, talang Rasulullah untuk memperingati sendiri atau sudah bisa mandiri dan seterusnya. Dengan keyakinan dan kejelasan seperti ini sehingga masyarakat Buton menyebut Maulid sebagai Bulan yang dikhususkan untuk memperingati Peristiwa Kelahiran Nabi yang dalam Bahasa Buton disebut Maludhu Wolio atau biasa juga diberi nama Bula kasongoana Rasullullah Muhammad SAW, bulan sepenuhnya, khusus untuk Rasullullah Muhammad SAW.
“Haroana Maludhu”, dalam masyarakat Buton dibagi dalam tiga tahapan peringatan yaitu (i) Goraana Oputa, (ii) Haroana Mia Bhari, dan (iii) Maludhuna Hukumu.
i) Goraana Oputa
Goraana Oputa adalah semacam tanda pembukaan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiulawal yang dilaksanakan oleh Sultan atas nama negeri dengan tujuan permohonan agar negeri kesultanan yang ia pimpin mendapat Rahmat dan terhindar dari marabahaya. Hal ini terkandung maksud bahwa merupakan tanggung jawab mutlak seorang sultan/pemimpin memohon kepada Allah Rabbul Izzati untuk keselamatan negeri dan rakyatnya serta mendapatkan kesejahteraan lahir dan bathin, dijauhkan dari marabahaya, wabah penyakit dan terhindar dari musibah/bencana alam. Diperingati tepat pada tanggal 12 Rabiul awal dan dilaksanakan pada pukul 24.00, diperingati oleh Sultan dan bertempat dikediaman sultan.

Peringatan Maulid diawali oleh Sultan sebagai Ulil Amri bersama perangkat Mesjid Keraton (Sara Kidhi) yang disebut Goraana Oputa yang dimaknai dengan “ Munajatnya Sultan “ kepada Allah SWT untuk mendapatkan kekuatan dan istiqamah dalam menjalankan sunnah Nabi. Ritual ini merupakan akulturasi budaya Buton dengan Islam yang mengandung arti tentang permohonan Paduka Sri Sultan Buton kepada Allah SWT. Ritual ini diawali dengan pembacaan Fatiha oleh Moji yang ditunjuk, kemudian diawali oleh Imam membaca riwayat hidup Nabi Besar Muhammad SAW lalu dilanjutkan oleh dua orang Moji secara bergiliran. Tata cara peringatan maulid tersebut merupakan gambaran tentang tanggungjawab seorang pemimpin/sultan terhadap rakyatnya. Demikian pula seluruh masyarakat ikut pula bermunajat dan berdoa untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa, agar negeri diberi keselamatan, keamanan, jauh dari segala mara bahaya.

Masyarakat Buton menganggap wakil Tuhan di bumi adalah Muhammad dan wakil Muhamad adalah sultan dan imam. Sultan dan imam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sistem pemerintahan di Buton. Saat pelaksanaan Goraana Oputa berlangsung, menurut keyakina masyarakat kesultanan Buton, pintu-pintu rejeki terbuka dan menngalir disegenap penjuru wilayah kesultanan maka disarankan untuk membuka pintu-pintu rumah mereka, pintu-pintu kamar, dan pintu lemari dengan harapan rejeki yang mengalir tersebut memenuhi rumah- rumah yang terbuka tersebut (wawancara, Lakina agama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *