Mati Sunyi

Oleh:  Saleh Hanan

La Kalibomba mati. Entah kapalnya terjebak badai atau tertabrak kapal tanker. Atau seperti mistikasi karang Koko; ditelan imbu, gurita raksasa monster penghuni perairan selatan Wakatobi? Tidak ada yang tau, tak satupun awak kapal pulang bawa kabar. Tak ada perdebatan di darat seperti kabar duka yang menimpa para aktivis di kota. Surat kabar, tivi, tak kebagian berita.
La Kalibomba mati saja, begitu. Bersama anak buah kapal dan bersama kapalnya. Di laut antara Pulau Binongko dan Timur Leste itu.
Di laut itu sebenarnya, La Kalibomba dan kawan-kawan seharusnya tak sendiri. Ada negara di laut itu. ALKI III, jalan kapal lintas Pasifik – Hindia Ocean. Jalur pelayaran niaga barat – timur Nusantara.

Tapi seperti ribuan pelaut mati di laut, sunyi hanya milik istri dan anaknya yang menunggu di pulau. Seperti istri dan anak ribuan pelaut lainnya, mereka mengabadikan waktu untuk memuja pejuangnya.

Di belakang La Kalibomba masih hidup ratusan pelaut Wakatobi, melayani perdagangan komoditi dan logistik antarpulau dengan kapal rakyat.

Baca Juga Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (2)

Visi kabupaten maritim sebenarnya kesempatan Wakatobi berkontribusi, mewakili negara, merintis kembali masa depan negara dari laut. Mencoba menghidupkan kematian-kematian pelaut pelayaran rakyat Indonesia sebagai konstitusi. Lusinan tahun, naskah akademik pelayaran rakyat begitu kumuh. Pelayaran rakyat beridentitas tradisional, kapal kayu, GT kecil, teknologi minim, modal mandiri. Itu sebenarnya penindasan legal, akademistik.

Mestinya pelayaran rakyat adalah pelayaran yang pemilikan modal dan operasinya dari dan oleh gotong-royong rakyat. Maka kapal tanker, kargo, dan pelayaran berbasis teknologi, tonase besar, berjaminan, tidak lagi hanya domain korporasi, semisal Tinto Line, Meratus Line, K Line, atau kapal-kapal bersubsidi TOL Laut dan lainnya. Akan tetapi juga berlabel pelayaran rakyat, milik rakyat.

Baca Juga Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Tanpa modifikasi struktural, pelayaran rakyat akan punah. Bukan cuma kematian demi kematian pelaut tanpa kehadiran negara. Kultur memenuhi kebutuhan hidup di pulau, dari kemampuan menguasai ruang laut, mengontrol harga dan rantai pasok secara aktif, bergeser menjadi budaya konsumerisme. Pasif, menunggu di tempat. Mengerikan, itu kematian kultural paling mematikan.

Di belakang La Kalibomba, ribuan yang lain harus pergi. Pelaut atau nelayan Wakatobi, menjadi awak kapal Malaysia. Menangkap ikan atau bahkan mewakili negara lain ‘mencuri’ ikan Indonesia, negara mereka. Ribuan yang kita sudah beberapa kali lihat, menjadi incaran bajak laut Abu Sayaf.

Maka untuk pelayaran rakyat sebenarnya negara jangan mati sunyi. Dimulai dengan mendukung visi maritim Wakatobi, yang seutuhnya.

Baca Juga Tindoi: Jejak Peradaban (ini Catatan untuk Kadis Pertanian, tentang Kebijakan Pertanian Raja Liya)

Bungkulawa Ingkar Janji?

Wa Saridi: Yang Selalu Tau Cara Pamit Dengan Indah, Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *