Mansa’a sebagai Tradisi Bela Diri dalam Masyarakat Wakatobi

Kalau kita melihat sejarah peperangan di dunia, Amerika pernah menderita kekalahan paling parah dalam sejarah militer, mereka kalah perang menghadapi tentara Vietnam yang menggunakan strategi perang gerilya. Perang yang sangat berbeda kemampuan dan kekuatannya, Amerika memiliki perlengkapan persenjataan yang sangat luar biasa, sementara pasukan Vietnam mengandalkan strategi perang gerilya, dengan menjadikan masyarakat sebagai pasukan cadangan.

Baca Juga Buton dan Woena, Disigi dari Luwu

Belajar dari Indonesia, Vietnam melakukan perang gerilya, membuat pasukan elit Amerika pusing tujuh keliling ketika berada di tengah hutan. Mengapa? Karena pasukan Vietnam menyatu dengan rakyatnya, sehingga sangat sulit untuk membedakan mana tentara dan mana rakyat biasa, sementara semua bisa berubah menjadi pembunuh dalam seketika.

Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa, berbagai jenis kebudayaan termasuk pencak silat atau ilmu bela diri. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki bela diri masing-masing, dan ini merupakan salah satu kekuatan Indonesia ketika berperang melawan negara lain.

Pasukan Indonesia hanya kurang dari satu juta orang, tetapi ketika Indonesia perang melawan negara lain, maka sudah dapat dipastikan bahwa sekitar 100 juta orang akan terlibat secara sukarela dalam perang itu. Mereka memiliki taktik perang yang sangat luar biasa berdasarkan kebudayaan masing-masing suku. Di Wakatobi misalnya, beberapa ilmu bela diri yang dapat digunakan sebagai kekuatan dalam mendukung tentara mereka ketika terjadi perang dengan negara lain.

Baca Juga Kreativitas Pemuda Karang Taruna Desa Waara Olah Limbah Gelas Plastik Menjadi Lampu Hiasan

Kalau Anda berjalan di berbagai daerah yang ada di Indonesia, dapat dipastikan bahwa hampir seluruh etnis dan suku etnis yang ada di Indonesia memiliki keterampilan bela diri yang sudah diturunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini adalah potensi yang luar biasa yang berdiri di belakang tentara Nasional Indonesia. Karena lebih dari 100 juta penduduk akan terlibat secara langsung dan secara sukarela ketika terjadi perang melawan negara lain yang mencoba untuk mengganggu NKRI.

Kalau kita jalan-jalan ke Wakatobi, hampir setiap sore adat tradisi pencak silat atau mansa’a. Di sana adu strategi dan kekuatan menyatu dalam permainan masyarakat itu, mereka menggunakan taktik dan strategi untuk melawan. Setelah permainan semua bisa selesai, dan akan menunggu event berikutnya untuk membalas kalau ia kalah dalam satu permainan.

Sebagai tradisi, mansa’a telah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi mansa’a menampilkan berbagai ilmu bela diri, ada balaba, ada silat, ada taichi, ada kungfu, tetapi dalam tradisi mansa’a, semua bela diri tersebut harus tunduk pada aturan yang sudah ada.

Dari sisi pertahanan Nasional, berbagai tradisi beladiri yang ada di berbagai etnis di seluruh Indonesia, harus dibina dan dikembangkan, karena mereka adalah pasukan cadangan yang bisa bergabung secara sukarela jika terjadi perang dengan negara lain. Beladiri yang berbasis masyarakat adat ini, akan menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan oleh negara manapun, ketika mereka berpikir untuk mengganggu Indonesia.

Pada beberapa abad silam, Sultan Lakarambau, telah mendesain perang gerilya yang membuat Belanda kewalahan dalam berbagai perang. Dan strategi perang itu, kemudian digunakan oleh jendral Sudirman, pada perang kemerdekaan untuk melawan Belanda di tanah Jawa. Pengalaman perang itu kemudian, ditulis dan dipelajari oleh jenderal Vietnam dan kemudian diterapkan dalam perang melawan Amerika pada perang Vietnam berapa puluh tahun silam. Amerika kalah perang, dan Amerika tahu bahwa Indonesia adalah guru Vietnam dalam hal perang gerilya.

Baca juga Novel “BAJAK LAUT”: Sebuah Catatan

Mansa’a sebagai ilmu bela diri tradisional, ada di Wakatobi sampai hari ini masih tumbuh dan berkembang. Mansa’a, dapat menjadi modal budaya sebagai kekuatan pasukan cadangan ketika Indonesia berhadapan dengan negara lain di medan perang. Masyarakat akan memiliki ilmu bela diri, dengan kemampuan mental dan strategi perang yang tidak bisa diabaikan atau diremehkan (su001).

Baca Juga Rewu dan Reso

Permandian Bantimurung: Sumber Devisa Kabupaten Maros

Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *