Lia Sempa-Sempanga: Jejak Cinta Zaman Jepang di Wakatobi

Oleh Abas

Kalau anda jalan-jalan di Kaliurang Yogyakarta, Anda juga akan menyaksikan sebuah tempat wisata yang ada di bukit Kaliurang. Orang-orang menyebutnya gua Jepang, apakah itu adalah gua pertahanan Jepang atau sama dengan goa Jepang di pulau Tomia Wakatobi.

Gua Jepang di Wakatobi disebut dengan gua tempat tersembunyi, atau mereka menyebutnya gua sempa sempanga atau gua tempat tinggal. Letaknya tidak begitu jauh, di pinggir perkampungan berjarak sekitar 50 meter dari jalan rabat yang di buat oleh TNI dan masyarakat saat kegiatan TNI masuk Desa, di sebelah baratnya ada jalan setapak kecil yang menghubungkan jalan rabat tersebut dengan pantai Tiroau tempat berlalu lalangnya para nelayan dengan berjalan kaki.

Lia Sempasempanga begitulah masyarakat menamainya adalah Gua kecil dengan diameter lebar mulut Gua kurang lebih 4×4 meter, kedalaman Gua ini sekitar 7 meter dari permukaan tanah, memiliki stalagmit yang tidak begitu banyak dan permukaan tanah di dalamnya datar serta rata karena poripori lubang Gua yang kecil kecil di tutup dengan kerikil.

Lia Sempasempanga atau Gua Persembunyian merupakan saksi sejarah bagi masyarakat Tiroau saat Perang Dunia Ke Dua dan pendudukan Jepang di Indonesia.

Masa itu adalah masa ketakutan yang luar biasa, orang orang menyebut tentara Jepang dengan Nipo, ketakutan melanda semua Negeri tidak terkecuali di Kampung kecil Tiroau, kabar kekejaman Jepang menjadi mimpi buruk bagi semua orang,Pesawat tempur Jepang yang melintas di udara menjadi monster yang sangat menakutkan warga, saat rombongan pesawat itu melintas maka berhamburanlah semua orang, lari tunggang langgang menuju Lia Sempasempanga untuk bersembunyi membawa apapun yang bisa di tenteng, di pikul ataupun dijunjung utamanya bahan makanan dan minuman.

Mereka tinggal berhari hari di Gua tersebut, Ibu ibu mengajarkan dan mengerjakan keterampilan tangan kepada anak anak mereka menganyam tikar, keranjang, menenun dan keterampilan lainnya, para lelakinya bersiaga di bawah pohon pohon besar di sekitar Gua berjaga dan mengamati situasi dengan aneka peralatan yang bisa dijadikan senjata, tugas lain dari para lelakinya memasok bahan makanan ke dalam Gua tempat bersembunyi para ibu, gadis dan anak anak mereka.

Di malam hari nyala obor diredupkan agar sinarnya tidak tembus ke luar Gua, di sela sela ketakutan itu para pemuda dan pemudinya berusaha menghibur diri, duduk melingkar berbalas pantun dan bernyanyi di iringi musik gambus yang di kecilkan suaranya.

Bila situasi sudah aman merekapun kembali ke rumahnya masing masing dan kembali lagi ke Gua tersebut saat situasi tidak aman. Lia Sempasempanga tidak hanya menjadi Gua Persembunyian dan Pertahanan di kampung Turoau, Ia juga adalah saksi sejarah terjalinnya romantisme antara pemuda dan pemudi di kampung ini.

Goa ini merupakan jejak perang dunia ke-2, dimana masyarakat dunia mengalami ketakutan yang luar biasa. Jika ingin melihat bagaimana perang dunia kedua terjadi di Wakatobi, apakah Anda datang ke tempat ini untuk menyaksikan tempat persembunyian bawah tanah. Goa ini seperti bungker alam yang ada di dalam masyarakat Tomia.

Konon di pulau Wangi-Wangi, orang-orang lari bersembunyi ketika terjadi perang antara pesawat Sekutu dan pesawat Jepang di atas langit Wakatobi. Di pulau Tomia, tempat persembunyian di Goa ini. Ini merupakan salah satu situs perang dunia ke-2 yang ada di pulau Tomia.

Tiroau, 27 Februari 2020
Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *