Legenda Cinta Sedarah, Kampung yang Tenggelam

Danau Cinta, itulah nama salah satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Buton Tengah sekarang. Danau ini aslinya oleh warga di sana bernama Danau Pasi Bungi yang terletak di perkampungan Lamena, Desa Losari, Kecamatan Mawasangka Timur, Kabupaten Buton Tengah, letaknya juga tidak jauh dari pantai. Danau seluas lima hektar yang berbentuk gambar hati (love) itu memiliki kisah menarik dari warga setempat. Konon katanya, akibat cinta terlarang dari dua sejoli yang bersaudara, sebuah kampung yang ramai, sejahtera, hidup damai dan indah harus tenggelam dan berubah jadi danau.

Sebelum kita mendarat di Bandara Betoambari Baubau, dari jendela pesawat akan terlihat dengan jelas pemandangan menarik sebuah danau di tengah hutan berbentuk gambar hati (Love). Karena itu, Danau Pasi Bungi oleh Pemerintah Kabupaten Buton Tengah memberinya nama dengan Danau Cinta, Danau yang lahir mengorbankan banyak jiwa dan harta akibat hubungan cinta terlarang dua sejoli yang masih bersaudara..

Ceritanya, menurut Camat Mawasangka Timur Ahmad Nasmudin, Danau Pasi Bungi dulunya merupakan sebuah perkampungan yang hidup damai. Namun di antara penduduknya, ada sebuah keluarga yang anaknya terpisah sejak kecil, tidak saling mengenal, bahkan orang tua dan warga sekampung itu tidak ada yang tahu siapa La Pasi, pemuda yang membawa petaka itu.

Baca Juga Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati

Setelah dewasa, La Pasi kembali di kampungnya tapi menjadi orang asing. Dia bertemu dengan seorang gadis bernama Wa Unda, mereka pun berkenalan, berkomunikasi akhinya tumbuh benih-benih cinta suci di antara mereka. Dalam perjalananya cinta mereka semakin kuat, mereka saling suka hingga sepakat untuk membangun mahligai rumah tangga, mereka bercita-cita  akan membangun sebuah rumah tangga bahagia, ingin melahirkan anak-anak yang manis sebagai pelanjut generasi masa depan yang lebih baik.
Keduanya pun bersepakat untuk menikah, sampai di situ rencna mereka masih berjalan mulus, semua pihak memberikan dukungan. Apalagi, La Pasi walau tidak jelas asal usul dan keluarganya, tapi dia pemuda yang ganteng, menjadi idola semua wanita sekampung, tapi Wa Unda yang beruntung. Wa Unda adalah gadis cantik, idola para lelaki kampungnya. Wa Unda juga memiliki keluarga yang harmonis, terpandang dan kaya raya di kampung itu.

Setelah cita-cita La Pasi dan Wa Unda tercapai, mereka berhasil menjadi raja dan ratu sehari, semua mata memandang mereka bahagia, mereka datang memberikan ucapan selamat menyambut kebahagiaan. La Pasi dan Wa Unda  melempar senyum bahagia, juga sekali-sekali meneteskan air mata bahagia. Dalam angan-angannya La Pasi berpikir keras tidak lama lagi bisa memadu cinta yang sebenarnya dengan gadis idamannya, gadis tercantik dan terbaik di kampungnya. Dia pun membayangkan jika pestanya usai, dia tidak sabar ingin mengakhiri pesta yang membosankan itu, mereka akan masuk kamar berdua, tidak ada lagi orang yang bisa menghalanginya, keluarga yang berkumpul cuek saja, tidak perlu dihiraukan. Dalam kamar, La Pasi akan memulai membuka gaun pengantin Wa Unda, dia bingung harus dimulai dari mana, dari kepala atau kaki, tapi lebih tertarik memulainya dari tengah. Di situlah bulu La Pasi merinding membayangkan tubuh Wa Unda yang masih perawan tulen itu dia sentuh, dia membayangkan bagaimana reaksi Wa Unda menyambut puancak perjuangannya untuk mendapatkan Wa Unda, gadis kampung yang tidak ada saingannya itu.

Baca Juga Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Pesta pun selesai, dalam hati La Pasi kegirangan, keinginannya untuk menjamah seluruh tubuh mulus Wa Unda sudah di depan mata. Dia pun gemetaran, soalnya belum punya pengalaman sedikit pun menyentuh perempuan, yang memang dia selalu bayangkan sejak kecilnya, dan itu wajar sebagai laki-laki normal. Dia pun meninggalkan lokasi pesta yang dari tadi sangat membosankan baginya, dia pun menuju kamar pengantin, menyusul Wa Unda yang berjalan anggun di depannya. Belum sampai ke kamar pengantin tiba-tiba terdengar bunyi hujan, akhirnya terjadi huru-hara warga menyambut hujan, tapi bagi La Pasi dan Wa Unda, berpikir ini hujan berkah, semakin keras hujan bagi mereka berdua semakin enak memadu kasih di hari yang bahagia, mereka sepakat tidak perlu lagi menunggu malam hari.

Hujan yang mengiringi peraduan kasih kedua sejoli yang sudah disahkan agama dan adat itu semakin keras, tapi bagi mereka berdua tetap sumber keberkahan. Ketika keduanya sudah hampir telanjang bulat menyambut kebahagiaannya, tiba-tiba huru hara di luar kamar semakin serius air pun mengalir sampai dalam kamar, kebahagiaan yang mau direnggut pun batal, mereka berusaha menyelamatkan diri ternyata sia-sia, air yang ganas pun memisahkan cinta suci mereka yang belum sempat mengotori hubungan tali persaudaraannya, mereka harus dipisahkan sebelum terlanjur, keduanya pun dibawa oleh arus air yang ganas secara terpisah entah ke mana, namun cinta suci mereka terselamatkan oleh Allah melalui bencana alam yang dahsyat itu.

Ternyata bukan hanya La Pasi dan Wa Unda yang menjadi korban pada bencana alam itu, tapi juga seluruh warga desa itu. Bahkan kampung itu amblas tertelan bumi. Walaupun masih ada beberapa warga yang selamat, mereka yang cepat lari meninggalkan kampung itu dan mereka yang sedang berada di luar kampung. Dari merekalah legenda itu lahir, dari hasil kajian dan penelusuran mereka ternyata La Pasi bersaudara kandung dengan Wa Unda, dan musibah itu terjadi untuk menyelamatkan cinta suci mereka berdua agar semua warga tidak ikut terlibat dosa.

 Dari bekas kampung tersebut muncullah air yang kemudian meluas menjadi danau. Berdasarkan kisah tersebut, danau itu kemudian diberi nama Danau Pasi Bungi. Agar lebih dikenal lagi, Dinas Pariwisata Kabupaten Buteng menjadikannya sebagai objek wisata dan menjulukinya sebagai Danau Cinta karena bentuknya yang menyerupai hati bila dilihat dari udara.

Baca Juga Mandi Kembang dan Kacang Jodoh

Setahun terakhir ini, Pemkab Buteng telah membuka jalan yang bisa dilewati kendaraan menuju Danau Pasi Bungi tersebut. Sebelumnya hanya merupakan jalan setapak yang berjarak sekitar 900 meter dari Desa Lasori. Danau Pasi Bungi ini memiliki panjang 1 KM lebih, diamater 800 meter lebih, dan luas sekitar lima hektar. Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui berapa kedalaman danau yang rasanya hambar dan berpalung tersebut.“Pernah ada yang coba menyelam, tapi semakin kedalam terasa panas hingga tidak berani lagi melanjutkan penyelamannya,” beber Ahmad Nasmudin.

Selasa 2 Januari 2018 lalu, Bupati Buteng H Samahuddin telah meninjau langsung lokasi Danau Pasi Bungi tersebut untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan konsep “Ekotourism” atau Ekowisata. Untuk mencapai bibir danau, bupati dan rombongan harus bersusah payah menelusuri jalan setapak yang menurun.

“Untuk pengembangannya sebagai Ekowisata, jalan menuju bibir danau akan kita buatkan “Wisata Trekking” semacam jalan setapak dari kayu yang kita buat berkelok. Jadi pohon disini tidak ada yang ditebang, karena kawasannya akan kita jadikan kebun raya,” ungkapnya usai meninjau lokasi wisata Pantai Bungi tersebut.

Untuk menahan titian kayu tersebut, akan dibuatkan tiang pancang dari paralon yang diisi dengan semen dan besi. Sebab, kalau kayu ada masa ketahanannya, sedangkan paralon seperti itu kuat dan tahan lama.

Pengembangan lainnya, dari lahan parkir akan dibuatkan jalan setapak melingkar dan dititik-titik tertentu ada tempat duduk semacam Gazebo. Antara jalan setapak dengan bibir danau merupakan kebun raya yang harus terpelihara keasliannya karena dihuni berbagai satwa burung didalamnya.“Saat ini kita masih buka akses jalan dari desa terdekat. Kalau sudah teraspal, baru kita lakukan pengemabngan Ekowisata di Danau Pasi Bungi ini,” katanya.

Baca Juga

 Tumpukan Sampah di Wakatobi telah Mengkhawatirkan

Hepatirangga: Ruang Jodoh dan Pengobatan Alternatif

Produk Wisata Lanskap Sombu Daragunti: Dibangun dengan Model Padat Karya

Penulis:  Ramli Ahmad

Editor: Sumiman Udu

3 thoughts on “Legenda Cinta Sedarah, Kampung yang Tenggelam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *