Kota Naga Tempat Mujur di Wakatobi?

Oleh: Saleh Hanan

Sepotong tempat pada kawasan pelabuhan rakyat di Wanci, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, dinamai Naga. Mulanya, di Naga itu terdapat benteng, di atas tebing pantai, dari batu-batu yang membentuk tembok tebal, dan tinggi.
Dalam bahasa lokal benteng kecil disebut kota; yaitu tempat mengekslusifkan penghuninya karena sebab tertentu, semisal jabatan atau kehormatan lain. Maka tempat itu disebut Kota Naga.
Luas Kota Naga tak melebihi lapangan sepak bola. Memiliki batas pada empat penjuru mata angin dengan jalan raya, kini.
Kota Naga dibangun Portugis. Jika benar, ini cerita spesial. Anda tahu, segala sesuatu dalam sejarah Buton, dimana Wakatobi wilayah Kesultanan Buton, menyimpan nama Belanda? Saudara dan cucu perempuan Sultan Himayatuddin dibawa pergi Belanda. Konon dari situlah, rahasia tersembunyi mengapa sultan generasi berikutnya memanggil kakak dalam surat-surat ke Ratu Belanda. Bahkan, di Pulau Wangi-Wangi semua jalan raya bernama sala Walanda, Jalan Belanda: jalan berteknologi Belanda, jalan masa Belanda, artinya.
Akan tetapi Kota Naga ‘berdarah’ Portugis.

Baca juga Catatan dari 30th session of the ICC – MAB UNESCO (bagian 1)
Imperium itu masuk Nusantara dalam perburuan rempah 86 tahun. Sekitar tahun 1509 – 1595, mendahului Belanda. Mudah menghitungnya, Kota Naga dibuat diantara waktu itu.
Dua pilihan selalu dimana Portugis akan membangun benteng. Pada sebuah kota, bandar dagang, semisal Malaka, dan tempat kedua di pulau rempah. Perhatikan, di Ternate ada Benteng Kalamata, Kota Janji, Talukko dan beberapa. Benteng Tohulla di Tidore, Benteng Belgica di Banda, Benteng Victoria di Ambon.

Kabar tentang Kota Naga, mengkonfirmasi riwayat perubahan nama Pulau Wangi- Wangi, dari nama lokal Pulau Koba. Aroma wangi cengkeh memotong haluan kapal-kapal dagang, melayang di depan hidung para pelaut yang melewati Kepulauan Tukang Besi dalam pelayaran rempah. Dan karena alasan itu nama pulau berubah.
Maka untuk apa Kota Naga bagi Portugis? Terang, untuk gudang cengkeh, untuk kebun cengkeh, di Pulau Wangi-Wangi. Selesai? Belum! Ainda não terminou.
Naga dalam keyakinan orang pulau dikenal sebagai La Wero, hewan ajaib bertelur emas.
Sesungguhnya, di bawah tebing batu Kota Naga, terdapat goa pantai. Kesitu La Wero pergi, mengeluarkan telur kuningnya. Warna pilihan bangsa-bangsa Asia Tenggara untuk melambangkan kemakmuran.

Baca juga Dari Paris ke Palembang

Tak ada yang tau, apakah tamsil kemakmuran itu sampai ke raja Portugis. Yang terjadi ialah, Bangsa Portugis memilih Kota Naga untuk mengontrol gerbang pelayaran masuk dan keluar Laut Banda.
Tak ada puing apapun sebagai petunjuk ke Kota Naga, tetapi Portugis meninggalkan pesan mujur, Kota Naga tempat mengorganisir sumber kemakmuran di kawasan Laut Banda, laut yang dikurung pulau-pulau yang kaya.
Esta é a ditosa pátria minha amada. Inilah tanah keberuntungan kekasihku: mungkin yang dimaksudnya sebuah pelabuhan.

Editor: Sumiman Udu

Baca juga Paus Mati di Wakatobi: Alaram Ke Masyarakat Global tentang Sampah dan Masa depan Kehidupan

Bungkulawa Ingkar Janji?

Festival Lalo’a: Kearifan Masyarakat Adat Liya dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *