Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (2)

Oleh: Sumiman Udu
Lebah (An-Naĥl):14 – Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

Salah satu aspek yang jelaskan oleh Al-Qur’an di atas menjelaskan bahwa kamu akan mengeluarkan dari lautan perhiasan yang kamu pakai. Ini artinya, Al Qur’an memberikan gagasan untuk menemukan mutiara dan mengembangkan budidaya mutiara. Sebagai masyarakat maritim, mestinya harus mampu mengembangkan budidaya mutiara sebagaimana yang diungkapkan dalam Alquran. Budidaya mutiara akan memberikan berkah untuk manusia sebagai bagian terpenting dari karunia yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Baca Juga Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (1)
Di era modern, ternyata keindahan bawah laut tidak mesti dinaikkan ke atas, tapi perlu dikembangkan konsep surga nyata bahwa laut sebagaimana yang menjadi visi dari kabupaten Wakatobi pada periode pertama yaitu “Surga Nyata bawah laut’ yang merupakan salah satu keindahan yang menjadi kekuatan dari pariwisata Wakatobi. Ini artinya bahwa, kabupaten Wakatobi harus mampu menjaga dan memelihara konsep pembangunan Taman Nasional Wakatobi,  karena ini adalah amanah dari Alquran yang menjelaskan tentang keindahan, laksana mutiara atau bahkan tempat tumbuhnya mutiara.
Sebuah keindahan yang dapat membawa kepada kemajuan, dan kemaslahatan serta kemakmuran bagi kehidupan masyarakat Wakatobi.

Konsep pariwisata bawah laut ini harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Karena di sana, masyarakat Wakatobi dapat melakukan budidaya mutiara, budidaya karang, budidaya kerang, budidaya ikan hias yang semuanya akan memperlihatkan kecantikan dan keindahan sebagai perhiasan Wakatobi.
Kalau kita merujuk kepada kebudayaan Wakatobi di masa lalu, berbagai potensi bawah laut Wakatobi dipenuhi dengan berbagai cadangan makanan yang terdiri dari berbagai jenis ikan yang dapat dikonsumsi dan diolah oleh masyarakat Wakatobi.

Namun, sejak awal tahun 1980-an, terjadi tindakan destruktif manusia, dimana terjadi banyak pemboman yang merusak habitat ikan, karang, yang pada akhirnya berdampak pada berkurangnya sumber daya yang ada di bawah laut Wakatobi. Bahkan sampai sekarang, pemboman, racun rumput, dan berbagai pestisida lainnya masih marak terjadi di karang Wakatobi. Karang yang semestinya dipelihara oleh masyarakat Wakatobi Indonesia dan dunia, sekarang adalah tempat mutiara yang dapat di ambil oleh manusia, tempat berbagai jenis biota laut yang dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran manusia. Pertanyaan, apakah konsep Al Qur’an ini sudah kita pahami? Menjadi pertanyaan yang perlu dijawab.

Lalu bagaimana dengan pengembangan desa wisata saat ini? Adakah gagasan untuk membangun Bundes yang bisa mengelola sumber daya laut sebagaimana yang dijelaskan di dalam Alquran di atas? Dalam buku Inovasi Desa Wisata menuju Power Society Wakatobi Indonesia karya Sumiman Udu, dijelaskan bahwa pengembangan desa wisata harus memprioritaskan aspek pengembangan sumber daya manusia, terutama modal budaya dan mudah sosialnya. Modal budaya merupakan sebuah modal kultural yang berbasis pada nilai-nilai Alquran, di mana masyarakat Wakatobi harus mampu memahami konsep ayat di atas dalam rangka pembangunan kelautan berkelanjutan. sebagai nilai dasar ayat di atas telah terimplementasi dalam kehidupan masyarakat Wakatobi di zaman dahulu, tetapi ini rupanya terlupakan pada zaman sekarang, oleh karena itu, buku itu menawarkan konsep, pengembangan modal budaya dan modal sosial untuk pembangunan sebuah desa wisata.
Sebenarnya untuk mengimplementasikan ayat tersebut di atas dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan di setiap desa wisata bukan menjadi hal yang sulit, masyarakat adat  nilaitelah memanfaatkan nilai-nilai itu untuk pembangunan lingkungan berkelanjutan di wilayah masyarakat adat Wakatobi. Namun dewasa ini, upaya untuk mengembangkan lingkungan berkelanjutan di setiap desa harus diturunkan dalam bentuk peraturan desa, dalam bentuk peraturan desa administrasi pemerintah, dalam bentuk peraturan desa adat, dimana Wakatobi memiliki 13 wilayah desa adat sesuai dengan wilayah wilayah adat pada zaman kesultanan Buton.

Baca Juga  Membongkar Mitos Kuliah (11; selesai)
Sebagai contoh, masyarakat adat Wali mampu melindungi sumber daya alam mereka yang ada di wilayah laut dengan hukum adat Wali. Mereka mampu memberikan denda yang besar melalui hukum karambici sebagaimana yang ditulis oleh La Rabu Mbaru, dalam bukunya Culada tape tape: kebudayaan Binongko Wakatobi Buton. di situ di jelaskan berbagai jenis hukuman dan pelanggaran yang ada di wilayah adat Kadia Wali.

Melihat semakin tingginya tekanan lingkungan dari masyarakat Wakatobi, maupun para wisatawan yang datang berbisnis di Wakatobi, maka untuk pembangunan lingkungan berkelanjutan, semestinya setiap desa bekerjasama dengan desa adat atau kadia perlu mendorong peraturan adat dan atau peraturan desa untuk melindungi berbagai sumber daya yang ada di wilayah mereka. Karena bagi masyarakat Wakatobi laut merupakan lumbung makanan yang dapat memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan mereka.

Baca Juga Wa Saridi: Yang Selalu Tau Cara Pamit Dengan Indah, Senja

Kalau kita merujuk pada ayat di atas, akhirnya menjelaskan tentang rasa syukur yang harus dimiliki oleh seluruh masyarakat Wakatobi Indonesia dan dunia. Rasa syukur itu harus diwujudkan dalam bentuk perlindungan terhadap berbagai sumber daya yang ada di laut Wakatobi dan Indonesia. Rasa syukur itu harus diwujudkan dalam bentuk penelitian tentang berbagai sumber daya ada di bawah laut Wakatobi dan Indonesia secara umum. kita harus mulai memikirkan bagaimana melakukan budidaya terhadap lopster mutiara, sebagaimana yang telah memberikan manfaat kepada masyarakat Vietnam. Mereka menyumbangkan atau membesarkan bibit lobster dari Indonesia, dengan sistem budidaya itu mereka mendapatkan manfaat yang besar.

Sebagai kabupaten maritim yang memiliki sumber daya laut yang bagus, air yang jernih dengan arus yang stabil, Wakatobi seharusnya mengembangkan budidaya lobster melalui dana dana desa yang ada di setiap desa. Mereka bisa di fasilitasi untuk pelatihan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, atau mereka bisa mendatangkan kerjasama dengan Vietnam agar mereka bisa mengembangkan lobster mutiara di kabupaten Wakatobi. Ini salah satu model dari cara bersyukur yang diajarkan oleh Al-Qur’an dalam surat An-Nahl tersebut.

Baca juga Membongkar Mitos Kuliah (1)

TINDOI:BUMDES Bikin Mudah Masyarakat Sejahtera

TINDOI:BUMDES Bikin Mudah Masyarakat Sejahtera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *