Komala Tergenang Air, Butuh Kebijakan Alternatif

Hujan deras beberapa hari ini mengakibatkan Desa Komala, Kecamatan Wangi-wangi Selatan (Wangsel) Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, tergenang air. Akibatnya Tempat ibadah dan rumah warga tergenang air setingi lutut orang dewasa. Salah seorang Warga La Mapu, mengatakan Beberapa tahun terakhir ini Desa Komala menjadi langanan banjir pada saat musim hujan. Lanjut dia, kondisi ini sangat merasahkan warga, mengingat desa Komala menjadi jalur menuju bandara Matahora yang selalu di lintasi pejabat Wakatobi. Tapi anehnya mereka seakan akan menutup mata terkait masalah di Komala. “Kalau sudah musim hujan, Warga disini sudah mulai resah, Pasti akan banjir lagi dan hampir seluruh rumah warga tergenang air,” ujar dia Ia mengharapkan agar pemerintah setempat secepatnya untuk.mengatasi banjir di alami Desa Komala. ” Saya berharap pihak pihak terkait untuk secepatnya menangani banjir di desa Komala” Harap dia.

Kalau kita melihat posisi desa Komala yang merupakan salah satu daerah resapan air yang ada di Wilayah Pada, maka potensi banjir akan selalu ada pada setiap tahunnya. Namun, diperlukan strategi alternatif, sehingga masyarakat yang tinggal di daerah resapan seperti Komala dapat mengantisipasi datangnya banjir. Di sini, membutuhkan kebijakan alternatif untuk mengantisipasi banjir yang akan datang setiap tahunnya. Ini disebabkan karena desa Komala berada di Aliran Sungai kecil yang turun dari gunung.

Baca Jugaย Potensi Pengembangan Desa Wisata Posalu

Pada zaman dahulu, wilaha rawa ini selalu dihindari dan dijadikan sebagai daerah pertanian, karena disanalah rawa itu menjadi lahan yang subur untuk daerah pertanian. Pertanyaanya, bagaimana mengantisipasi banjir yang pasti hadir setiap tahun ini? Pemerintah daerah kabupaten Wakatobi harus memiliki peta daerah rawan banjir, sehingga dapat dijadikan daerah pertanian yang subur, dan jangan dijadikan sebagai tempat pemukiman. Dalam konteks ini, juga kehadiran sara Mandati untuk mengatur secara adat untuk tetap memanfaatkan fungsi resapan air yang menjadi penyangga sumber air minum di wilayah selatan pulau Wangi-wangi.

Kebijakan untuk membangun drainase seperti di Kawasan Kaindea Teo yang merupakan wilayah resapan yang juga rawan banjir, juga merupakan alternatif terbaik, karena pengelolaan air di pulau-pulau kecil seperti Wangi-wangi kalau seluruh cadangan air diteruskan melalui drainase ke laut, maka cadangan air tawar di bawah tanah akan semakin menipis, dan ini adalah ancaman serius untuk krisis air tawar di masa mendatang. Oleh karena itu, kebijakan alternatif dalam pengelolaan air tawarย  yang saat ini banjir di Komala, harus direncanakan dengan baik, misalnya di alirkan ke daerah-daerah galian tanah bekas proyek penggalian C yang ada di wilayah komala. Namun, harus dikelola secara modern, sehingga bisa menjadi sumber penampungan air tawar, dan sekaligus sumber air pertanian yang ada di kawasan.

Baca Jugaย Pemilihan Kepala Desa Longa: Kembang Setaman

Di samping itu, Pengelolaan air tawar juga harus disesuiakan dengan kebijakan Izin Membangun bangunan (IMB) yang ada di Wakatobi, dimana setiap izin harus ditambahkan syaratnya untuk menyiapkan sumur resapan, untuk kepentingan cadangan air tawar bawah tanah kita. Kita tidak bisa berpikir praktis bahwa air tawar yang membuat banjir seperti Komala ini harus dibuatkan drainase ke laut. Kita dapat belajar dari Sara Mandati yang pernah menutup sungai kecil di sekitar Numana, dengan alasan bahwa jangan sampai naik buaya, tetapi sesungguhnya mereka telah memberikan sebuah pelajaran bagi kita bahwa air harus ditahan di darat untuk menghasilkan daerah pertanian yang subur. Bagaimana mereka juga mereka membuat hanta tooge sebagai kawasan pertanian yang dikuasai sara Wanse dan sara Mandati. Kedua daerah pertanian itu, selama ini dikelola oleh adat sebagai hak sara dan masyarakat hanya memiliki hak guna tanah, sehingga fungsi tanah itu tetap terjaga sebagai daerah pertanian yang subur. Namun, karena daerah itu sudah dijadikan milik pribadi seiring melemahnya peran kedua sara, akibatnya dijadikan daerah pemukiman yang tentunya akan selalu banjir (su001 dan dgl005).

Baca Jugaย Tumpukan Sampah di Wakatobi telah Mengkhawatirkan

Penulis : Dariono dan Sumiman Udu

2 thoughts on “Komala Tergenang Air, Butuh Kebijakan Alternatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *