Kodak

(Bagian 4, fiksi wabah kolera 1970, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020)

Oleh: Saleh Hanan

Hari berfoto. Ini hari berfoto. Sisa-sisa jamaah langgar akan berfoto. Pake kodak milik Bang Giom. Kodak hadiah dari kapal Jepang yang akan muat aspal di Pasar Wajo.
Kapal itu hampir karam dihempas badai wandensangia, atau angin utara, ke pantai Wabula, bagian timur – tenggara, Pulau Buton. Akan tetapi karena kemampuan bahasa bendera, smafor, Bang Giom, kapal itu bisa kembali ke pelabuhan Banabungi. Baru sekali digunakan untuk memfoto kabel ban, sebutan untuk kereta gantung yang meluncur memuat aspal dari tambang di perbukitan ke pelabuhan, Bang Giom sudah pulang ke pulau.

“Wait, tunggu baginda.” Pintanya.
Sisa-sisa jamaah subuh di langgar yang sudah lama ditinggal imam, khotib, modim, itu sudah bersiap di tangga batu. Berdiri lurus, dengan mata luruh. Ada yang tangan menyilang di bagian bawah perut, turun ke samping, atau mendekap dada. Fokus mereka tak melepas barang mewah di tangan Bang Giom.
Beberapa saat kemudian, seseorang yang nampak klimis datang. Itu Marhasdin. Lelaki flamboyan yang baru pulang dari Hawai. Pergi main judi bertahun-tahun. Darinya cerita-cerita tentang kutang yang digunakan dengan cara dilemparkan ke sasaran, kami dengar. Katanya jika tepat sasaran, saat kutang mendarat akan berbunyi bhaakkk. Mirip letupan kecil. Gara-gara udara yang mempet antara kulit dan balula, kain tebal berbahan karet. Cerita itu tidak porno. Malah lucu, tapi terbayang itu pasti eksotis.

Marhasdin, baginda yang Bang Giom maksud. Baginda berdiri ditengah, diantara sisa-sisa jamaah. Akan ikut berfoto. Gayanya diatur Bang Giom begini: sebuah kotak bersampul diserahkan ke salah seorang jamaah langgar. Tangan pemberi dan penerima harus kelihatan agresif. Wajah pemberi harus ceria, raut penerima harus bahagia.
Akan tetapi sudah dua, tiga kali, gagal jepret. Jamaah datar saja. Tetap memandang arah kodak, bahkan saat goyang ke atas, bawah, kiri, kanan, kodak itu, mata mereka ikut bergerak ke situ. Kodak adalah sebutan untuk kamera, seperti sebutan honda untuk semua sepeda motor, merek apapun.
Selesai sesi foto Bang Giom dan Marhasdin pergi. Hasil foto, baru akan dikirim setelah dicuci, saat Bang Gion pulang ke Banda Naira, pesannya sebelum meninggalkan langgar.
Jamaah membuka kotak hadiah itu. Isinya sebuah kotak kecil lagi, warna merah, bertulis huruf latin dan Cina. Ternyata balsem. Bahan oles hangat, cap Harimau Gok Shoe Khin.
Sisa-sisa jamaah langgar bubar, pulang, diam. Kecuali mereka, lima pemuda yang biasa datang siang dan petang ke langgar, berebut mencium aroma balsem. Entah muncul dari mana, tiba-tiba La Kamba maju, menangkap balsem itu, mencolek isinya, lalu mengolesi perut di bawah bajunya. Mungkin maksudnya menunjukkan cara pakainya: oles, jangan cium.

Bang Giom memang turunan kampung ini, lahir di Pulau Banda, tetapi tamat sekolah dasar di sini. Kakek – nenek yang melahirkan ayah dari kakek bapaknya, dulu pekerja pada perek, atau perkein, bangsal kebun pala milik orang kaya VOC.
Jadi nenek moyangnya itu orang Buton asli asal pulau. Tinggal di Banda setelah Gubernur Hindia Belanda, Jan Pieter Zoon Coen membantai pribumi tahun 1621.
Tete-nenek, atau kakek-nenek Bang Giom lalu dimobilisasi untuk mengisi perek-perek kosong.
Nama Bang Giom aslinya Rojiudin Tuwutuwu. Orang sini selalu begitu, punya tiga nama. Waktu lahir mungkin dipanggil La Sinta oleh orang tua, tapi di sekolah oleh tuan guru kepala sekolah menawari nama baru. Disebut nama sekolah, nama yang ditulis dalam ijazah. Ditengah teman sejawatnya, punya nama khas lagi. Panggilan akrab. Tergantung, bagi yang merantau di timur, macam-macam nama aliasnya. Ada Markus, Yakob, Roy, Marcopolo, dan lainnya. Giom itu salah satunya.

Sore hari, saat air pasang telah surut, La Kamba memungut batang-batang kayu terdampar untuk dibakar, sebagai perapian di depan rumah-rumah. Tradisi saat wabah terjadi selain meletakkan daun melai dan potimpa di simpang jalan dan depan rumah, adalah membut perapian di halaman. Kayunya dari batang-batang terdampar dan daun tertentu. Mungkin tafsir dari wabah sebagai bencana yang datang, terdampar, lalu dimusnahkan dengan dibakar.
Lima pemuda jamaah langgar, menguping pembicaraan La Kamba dengan Bang Giom di pantai. Bang Giom ingin melamar Wa Kidakosa, nona ponakan baginda Marhasdin yang tinggal di Wabula, Pasar Wajo. Dari situ asal muasal foto bersama sisa-sisa jamaah di tangga langgar tadi pagi. Buah bisikan Bang Giom pada baginda, bahwa uang judinya bisa halal. Dicuci dengan cara nyumbang langgar.
Maka terjadilah sumbangan balsem cap Harimau Gok Shoe Khin itu tadi pagi.

“Orang selihai Bang Giom tak boleh mati. Hanya dia yang bisa kalahkan negara Israel dan Arab, jika kita bernegosiasi.” kata La Kamba.

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *