Keunikan Pantai Moli’i Sahatu ( Pantai 100 mata air tawar)

Wakatobi memiliki banyak potensi wisata, salah satunya adalah Moli’i yang tersebar hampir seluruh wilayah pantai bagian timur, airnya rata-rata tawar sedikit hambar. Mulai dari moli’i sahatu, hingga moli’I watu molombu desa Matahora, airnya dapat dikonsumsi untuk diminum dan untuk mencuci pakaian. Mata air yang mengalir hanya pada waktu air turun ini, menjadi menarik sejak zaman dahulu. Nenek moyang masyarakat Wakatobi telah menjadikan moli’i sahatu dan moli’i Pu’u-pu’u (mata air tetes-tetes) sebagai tempat ritual untuk membersihkan masalah-masalah sosial yang ada di kampung-kampung di wilayah timur pulau Wangi-Wangi. Bahkan mereka percaya bahwa kalau laut terlalu keras, maka mereka melakukan sesajian dengan memberikan minyak pada batu cadas yang ada di muara kedua moli’i ini. Mereka percaya akan itu, dan biasanya laut akan mulai teduh.

Dalam konteks pengembangan desa wisata, kedua tempat ini merupakan potensi desa wisata yang ada di desa Patuno dan Desa Matahora. Keduanya dapat dikembangkan sebagai produk wisata yang dapat ditawarkan oleh kedua desa. Walaupun Moli’i Sahatu ini berada di dekat Patuno Resort, tetapi akses ke tempat ini seharusnya tetap milik public dan dikelola oleh Desa Patuno. Demikian juga dengan Moli’i Pu’u-pu’u, pengelolaannya juga harus tetap dilakukan oleh desa Matahora.

Patuno Resort
Patuno Resort yang tak jauh dari Moli’i Sahatu

Kalau melihat potensi yang Pantai  Moli’i  Sahatu yang merupakan salah satu pantai  unik yang ada Wakatobi. Moli’i Sahatu  memiliki arti “seratus mata air”. Pantai  Moli’i  Sahatu disebut demikian karena tempat ini memang mempunyai ratusan mata air yang tersebar di sekelilingnya. Uniknya, mata air ini terasa tawar meski ke luar dari celah batu. Konon, airnya dipercaya bisa membuat seseorang  awet  muda. Bahkan ada yang percaya bahwa kalau mandi atau cuci muka dengan pacar di tempat ini, akan membuat hubungan itu menjadi lebih romantic dan dapat berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.

Pantai yang terletak di desa Patuno, Kecamatan Wangi-wangi ini jaraknya kurang lebih 10 km dari pusat kota. Hamparan  pasir putihnya tergenapi dengan barisan  pohon  kelapa yang meneduhkan, plus mata air yang menyegarkan, kemudian memang paling asik ditelusuri dengan jalan kaki. Keunikan  Pantai  Moli’i  Sahatu  merupakan daya tarik tersendiri agar dapat menarik minat  wisatawan yang berkunjung ke pantai tersebut.

Baca Juga Inovasi desa Wisata dan Pengembangan Sultra Menjadi Bali Alternatif

Maka dari itu perlu di jaga kelestariannya  agar daya tarik yang ada  tetap bisa kita nikmati. Tentunya perlu pengawasan dari masyarakat sekitar  dan perlu malakukan pembinaan kepada generasi muda sebagai penerus dalam pengawasan dan perlindungan pantai tersebut dengan mengadakan pelatihan-pelatihan. Karena ketika pengelolaan pantai itu dikelola dengan baik oleh masyarakat desa Patuno dan dijadikan sebagai ruang-ruang public, maka pantai itu bukan saja tempat karomah untuk membersihkan segala masalah sosial di kampung, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan masyarakat, karena mereka dapat mengelola produk wisata ini dengan baik, semoga  (ARJ006).

Editor: Sumiman Udu

Baca Juga 

Janji Pantai Oro Binongko & La Promesse de Plage Chatelaillon

Bukit Tumada: Destinasi Wisata Tempat Melepas Lelah

Desa Kulati Menyediakan Home Stay: Berkualitas dan Murah

Cara Hebat Konservasi: Pantai Sousu di Sulap Menjadi Ruang Publik Wisata Desa

4 thoughts on “Keunikan Pantai Moli’i Sahatu ( Pantai 100 mata air tawar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *