Keragaman Kuliner dan Inovasinya: Dapat Menjadi Produk Unggulan Wakatobi di Bidang Kuliner

Salah satu keunggulan Yogyakarta sebagai destinasi unggulan Indonesia adalah kekuatan produk wisata kuliner mereka. Sepanjang Yogyakarta terdapat berbagai ragam kuliner yang murah dan baik. Kondisi ini menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota tujuan Pendidikan anak-anak muda, karena di samping kota yang nyaman, juga ditunjang oleh kuliner yang beragam dan murah.

Sebagai salah satu dari sepuluh destinasi unggulan Indonesia, Wakatobi harus memiliki kuliner yang hegienis dan mudah. Untuk itu, diperlukan pelatihan berbagai inovasi kuliner sehingga masyarakat Wakatobi dapat berparan aktif dalam pengembangan pariwisata Wakatobi. Setiap desa wisata, minimal memiliki restodesa atau rumah makan yang hegienis dan murah.

Dalam pelatiha kuliner hendaknya mengggunakan bahan-bahan lokal, dengan mengembangkan jenis kuliner dasar masyarakat Wakatobi yang  hanya terdiri dari soami dan ikan bakar. Untuk mendapatkan variasi, perlu dikembangkan varian-varian makanan ini dalam sajiannya. Di sini kita membutuhkan keahlian gizi makanan. Sebagai contoh, selama ini masyarakat Wakatobi menjadikan sayur kelor sebagai makanan favoritnya, ternyata belakangan dapat diketahui bahwa daun kelor merupakan tanaman yang kaya gizi. Penuh dengan vitamin dan dikenal sebagai makanan ajaib yang menyelamatkan warga miskin di negara-negara berkembang.

Untuk mengembangkan kuliner tersebut, seorang mahasiswa Jurusan Seni pada Pendidikan Seni Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo Rasnia, mengembangkan baruasa dengan memanfaatkan daun kelor sebagai bahannya. Dari inovasi ini, diharapkan akan muncul berbagai bentuk varian inovasi kuliner baruasa, yang tadinya sangat konvensional menjadi baruasa yang baru, dengan tekstur yang baru dan nilai gizi yang baik. Dalam konteks Wakatobi, keahlian dalam bentuk inovasi kuliner seperti ini sangat dibutuhkan karena selama ini kue-kue sebagai oleh oleh dari Wakatobi hanya berkisar itu-itu saja, yaitu gule-gule, kue wajo, luluta dan karasi. Belum ada inovasi yang lebih baik.

Tempat  Wisata dan  Berfoto (Baru) di Kendari  Camping Ground

Di sini perlunya intervensi pelatihan kepada pelaku wisata kuliner yang ada di Wakatobi. Pemerintah daerah kabupetan Wakatobi sudah saatnya untuk memberikan dukungan skill atau keterampilan kepada seluruh pelaku wisata kuliner yang ada di setiap spot-spot wisata yang ada di Wakatobi. Pelatihan kuliner ini dapat dilakukan berbasis desa, sehingga setiap desa memiliki inovasi kuliner yang dapat menjadi salah satu kekuatan kuliner yang ada di desa mereka.

Kita dapat menyaksikan betapa wagra lokal Wakatobi belum bisa melihat peluang bisnis di bidang  kuliner. Rata-rata penjaja kuliner malam kalau kita berjalan di Wakatobi, masih dilakukan oleh saudara-saudara kita dari luar Wakatobi. Di sisi yang lain, kuliner Wakatobi masih tergolong mahal, bayangkan nasi ayam di Wakatobi masih berkisar Rp.35.000 per porsi, sementara di Yogyakarta masih di angka 13.000-15.000/satu kali makan. Ini tentunya, akan menentukan kunjungan wisata ke Wakatobi. Jenis makanan yang ditawarkan juga masih lalapan ayam seperti di Jawa, belum disajikan beberapa jenis makanan tradisional seperi heloa sira dan kambalu (su001).

Pinang: Tanaman yang Jangka Panjang yang Bernilai Ekonomis

Pinang: Tanaman yang Jangka Panjang yang Bernilai Ekonomis

Pentingnya Daun Kelor untuk Buka Puasa

4 thoughts on “Keragaman Kuliner dan Inovasinya: Dapat Menjadi Produk Unggulan Wakatobi di Bidang Kuliner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *