Kepulauan Buton, Melayu atau Melanesia?

Oleh: Saleh Hanan

Terutama di Kepulauan Tukang Besi, Wakatobi, lebih dekat dengan garis sebaran rumpun Melanesia. Rupa, warna, rambut, banyak yang mirip ciri Melanesia.
Pun saat lahir, tumbuh remaja, orientasi hidup ke timur. Langke, atau berlayar ke pulau-pulau di Maluku, Papua, NTT. Sampai tahun 1990-an lebih banyak yang mengenal Ambon, Buru, Seram, Halmahera, Ternate, Fakfak, Sorong, Dobo, Rote, Flores, dari pada Kendari.

Sampai sekarang penduduk berbahasa Kepulauan Buton, lebih banyak di timur.
Sumber-sumber lisan menyebut migrasi Ratu Surubaende dari Key, ke Wangi-Wangi, ribuan tahun lalu. Ekspedisi bajak laut dari awal tahun 1000. Dan terkini tentara Lei Hitu yang ditawan Belanda, tapi dalam pelayaran ke Batavia mereka berontak, lalu turun di Wakatobi.
Well, inspirasi masa remaja yang orientasinya ke timur Nusantara, itu petunjuk bahwa ‘timur’ telah ada dalam memori budaya beberapa wilayah Kepulauan Buton tentang dunia timur. Dan itu Melanesia.

Catatan atas tulisan Saleh

Pada tahun 2015 yang lalu, saya menjadi salah satu peserta aktif dalam seminar Melanesia yang diselenggarakan oleh direktorat jenderal sejarah, dalam diskusi tersebut banyak makanan yang disajikan oleh para pakar dari berbagai bidang ilmu ilmu sosial humaniora. Yang menarik di situ adalah, berapa provinsi yang masuk wilayah ras Melanesia yang ada di Indonesia? Dari beberapa informasi yang dihimpun dalam seminar tersebut, ditemukan bahwa ras Melanesia ditemukan di 6 provinsi yang ada di Indonesia, yaitu provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara (mungkin yang mewakili adalah etnis yang ada di kepulauan Buton) yang dimaksudkan oleh penulis artikel ini, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Jika ditelusuri dari entitas kebudayaan yang ada di wilayah-wilayah itu, maupun dari aspek kebudayaan lainnya, masyarakat yang ada di 6 provinsi itu memiliki kemiripan kebudayaan. Berbagai peristiwa modern bisa saja berubah dengan cepat sesuai dengan perkembangan yang ada, tetap identitas dan gerakan kebudayaan yang menjadi deppย  structure kebudayaan tidaklah gampang berubah. Bisa-bisa kita menemukan untaian kebudayaan Melanesia yang tidak gampang dirubah oleh berbagai kebudayaan yang berkuasa yang datang ke daerah ini. Ada entitas-entitas kebudayaan yang masih tetap bertahan hidup, kita hampir menemukannya di berbagai daerah yang yang menjadi wilayah ras Melanesia tersebut, sebuah ras yang banyak hidup di kawasan timur Indonesia.

Apakah kapten ada di kepulauan Buton adalah ras Melanesia? Tentu jawabannya bisa ya bisa tidak, pulau Buton sebagai batas cakrawala Indonesia barat Indonesia timur, lintasan pelayaran yang telah terjadi selama berabad-abad, telah menjadikan Buton sebagai salah satu identitas kebudayaan yang terdiri dari berbagai ras. Sudah jadi miniatur Indonesia, ditinggali oleh berbagai suku bangsa di dunia. Karena kepulauan Buton merupakan wilayah yang harus dilalui oleh setiap pelayaran dari kawasan timur Indonesia ke kawasan barat Indonesia.

Tetapi masyarakat, lebih lama tinggal di daerah ini adalah masyarakat pribumi yang memiliki kedekatan dengan ras Melanesia. Oleh karena itu,ย  partikel ini akan mendorong berbagai penelitian yang berhubungan dengan ras Melanesia yang ada di kepulauan Buton. Karena memahami kebudayaan sebuah bangsa akan membantu kita untuk memahami bagaimana cara mengembangkan bangsa itu. Mungkin kita bisa belajar dari pernyataan Tasya Jepang dalam film The Last Samurai, yang menyatakan bahwa “kita bisa saja menggunakan komputer seperti orang Eropa, kita bisa makan hamburger seperti orang Eropa, kita bisa menggunakan sajadah seperti perang timur tengah, kita bisa menggunakan berbagai handphone seperti Oppo dari Cina, tetapi kita harus tetap semangat karakteristik kebudayaan kita” inti dari pernyataan dari kaisar Jepang yang ada dalam film adalah bangsa Jepang bisa maju tetapi jangan lupakan kebudayaannya. artinya bahwa pembangunan kebudayaan di eks kesultanan Buton harus berdasarkan nilai-nilai budaya yang ada. Demikian juga dengan kebudayaan Indonesia, atau dengan kata lain Indonesia bisa maju dalam berbagai peradaban dan teknologi modern, tetapi kebudayaan nasional Indonesia harus mendukung tumbuh dan berkembangnya kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh berbagai suku dan etnis yang ada di Indonesia, termasuk kebudayaan Indonesia yang ada di wilayah wilayah Melanesia di kawasan timur Indonesia.

Baca Jugaย Rahasia Al Qurโ€™an tentang Konsep Kabupaten Maritim (1)

Tindoi: Jejak Peradaban (ini Catatan untuk Kadis Pertanian, tentang Kebijakan Pertanian Raja Liya)

Icon Perahu Pinisi: Simbol Maritim di Pantai Losari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *