Kepercayaan Rakyat: Aspek Penting dalam Kepemimpinan

masjid_agung_kraton_buton-1.jpg
Mesjid Keraton Buton

Wangi-Wangi – Dalam teori sosial yang dikembangkan oleh Pierre Boudiaeu, salah satu modal yang penting dalam suatu kepemimpinan adalah aspek kredibilitas atau kepercayaan. Di dalam teori Bourdieau, aspek sosial adalah suprastruktur pembangunan yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah kepemimpinan. Jika suprastruktur itu runtuh, maka kepemimpinan tidak akan efektif, mengapa? Karena kepercayaan rakyat adalah aspek paling penting dalam suatu kepemimpinan.

 

Baca Jugaย Bhangka atau perahu sebagai filosofi Hidup Orang Wakatobi

Dalam sistem pemerintahan kesultanan Buton, ada beberapa aspek yang membuat pemimpin itu jatuh yaitu:

  1. Sabaragau (merampas hak orang lain dengan menghalalkan segala cara), hak bersama dimiliki dan dikuasai oleh seseorang.
  2. Lempagi (melanggar, berhianat atau melangkahi ha-hak orang lain)
  3. Pulu Mosala Tee Mingku Mosala, Pulu Mosala artinya mengeluarkan perkataan yang bersifat menyalahi aturan atau menghina orang lain di muka umum. Sedangkan Mingku Mosala yaitu gerak gerik yang menunjukkan ketinggian hati atau keangkuhan, sehingga berpakaian yang tidak selaras dengan kedudukannya, gila pangkat, gila harta dan mabuk ketinggian derajat sehingga melakukan kejahatan maupun pelanggaran.
  4. pebula maksudnya:
    • melakukan perzinaan dalam kampung
    • penipuan dan pemerasan terhadap rakyat dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan pribadi.
    • penyalahgunaan pangkat dan jabatan
    • menggelapkan uang negara (korupsi)

Di dalam sistem kepemimpinan tradisional Buton, jika semua atau sebagian tindakan pake itu dilakukan oleh oleh seorang pemimpin, maka kredibilitas kepemimpinan itu sudah patut dipertanyakan. Karena semua pernyataannya yang dikatakan oleh pemimpin itu sudah tidak akan dipercaya oleh masyarakat. Dampaknya adalah dia akan menjadi olok-olokan masyarakat. Ketika dia berbicara, maka akan diolok-olok walaupun seorang anak kecil yang mendengarkan bahasanya.

Baca Jugaย 20 Tahun Tak Pernah di Aspal, Warga La Wele Tanam Pisang Demi Paru-Paru Anak-anak

Bahkan yang lebih bermasalah lagi adalah, bawahannya sudah tidak akan yang bekerja dengan baik. Mereka bekerja hanya karena diperintah, dan mereka melakukannya karena takutnya, bukan lagi mengembangkan inovasi untuk bekerja melayani masyarakat. Walaupun bawahannya masih takut padanya, tetapi mereka takut seperti takut pada ular. Di depan mereka takut, tetapi ketika di belakang, mereka ingin memukul kepala ular itu. Pemimpin seperti itu akan menjadi bahan perbincangan masyarakat, sehingga ia tidak punya tempat lagi. Kemana-mana ia tidak akan tenang, karena masyarakat sudah tidak percaya lagi padanya.

Ketika kondisi seperti itu terjadi, maka pemimpin tradisional Buton lebih banyak memilih untuk berhenti. Karena tanpa berhenti, ia justru akan semakin terjerumus kepada masalah. Hingga akhirnya kampung atau daerah akan mendapatkan bencana.

Semoga kepemimpinan modern, mampu menjadi karakter pemimpin yang memiliki integritas, sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat. Tokoh itu dalam dunia modern baru saja dipertontonkan oleh keberpihakan masyarakat Malaysia yang memilih Mahadhir Muhamad sebagai pemimpin, karena mereka percaya (su001).

Baca Jugaย Rasa Hormat yang Mulai Memudar Kepada Guru

Tradisi Bhanti-bhanti sebagai Kekuatan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata WakatobiPerahu di Tengah Badai Bhanti-Bhanti

4 thoughts on “Kepercayaan Rakyat: Aspek Penting dalam Kepemimpinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *