Kenari Sabiji

(Bagian 5, fiksi wabah kolera 1970, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020)

Oleh: Saleh Hanan

Tirus, bagai buah kenari sebiji. Profil Querque, remaja ini, padat bagai cangkang kenari. Mama Manado, papa mantan pelaut Wanci. Epos cinta dari dusun penggergaji kayu di Falabisahaya, di tepian hutan-hutan Pulau Mongoli, mengantarnya lahir ke dunia.

Kini Querque tiba, numpang perahu Tomia milik Haji Sabri, untuk mencari ayahnya, sang mantan pelaut Wanci.
Kedatangannya di langgar subuh ini riuh rendah. Bernada. Ditandai lagu dan gurauan.
Dua jalan menuju langgar, sama. Penuh dengan lagu.
Pemuda dari jalan setapak kampung di bagian utara, dari arah lembah, kebun dan perbukitan, sudah terdengar suaranya sejak jarak satu lemparan. Menyanyi sampai di muka pintu langgar.
Tiga remaja, jamaah baru di masa wabah ini, datang dari kampung di bagian selatan, arah pantai. Ini paling ramai, bernyanyi sampai saat ujung obor daun kelapa di tangan mereka terbanting ke tanah halaman langgar, dan padam. Querque berada di sini.
Bila saja imam tulen langgar ini masih ada, belum mengungsi, bukan main, ini suasana berbahaya. Menyanyi adalah mainan jin, katanya selalu.
Akan tetapi ini pagi, kami sisa-sisa jamaah, nyaman saja. Bacaan imam tadi juga merdu, tak kalah berirama.

Kemana mantan pelaut yang sering mampir menjadi imam sholat itu? Querque, anaknya, yang datang penuh lagu dan gurauan, berharap bertemu di langgar. Namun tidak juga La Kamba, yang serba tau segala, mengetahuinya. Kecuali sebuah cerita lain dari La Kamba, tentang asal mula terjadinya wabah saat ini.
Konon seorang lelaki berwajah kelam, berjalan di laut selutut, sambil menarik perahu sope-sope yang bocor. Lelaki berwajah kelam itu kehabisan air minum saat berlayar, dan ingin singgah meminta air, tetapi tak seorang pun penduduk pantai perduli. Lelaki berwajah kelam itu, ketika warga menyadari siapa dia, telah menghilang. Tak ada yang lihat haluan kemana.
“Lelaki berwajah kelam itu โ€ฆ.,” Querque mengembara dalam cerita lelaki berwajah kelam.
Anak ini melihat ayahnya, pelaut yang kapalnya tenggelam saat laut teduh. Kapal yang pelautnya terpedaya hantu laut, yang meluncur dari tiang layar, lalu menyamar sebagai pelayan juragan.
Anak ini melihat ayahnya, pelaut yang kelelahan di tepi hutan Tindoi. Air menetes ke dalam matanya, dari sayap burung terbang usai minum mata air Polio.
Pelaut itu bangkit, berlari turun ke lembah, menghisap dalam-dalam udara savana. Tubuhnya bermandikan sinar matahari yang melimpah di Watu Kapala, situs kapal yang karam menjadi batu.
Pelaut itu berlari ke timur, tapi tiba di barat. Melewati perahu para pemburu tuna, yang mendarat di antara pohon-pohon kelapa pantai Waha. Menaklukkan puncak Kanturu Bumbu, mercusuar peninggalan Balanda. Dari situ, dipanggil-panggilnya Laut Banda yang memeluk kapalnya, dalam lagu kabanti:
Kami tak punya emas dan jagung
Hidup selalu begini
Berlayar kapal tenggelam
Berdagang selalu tertipu
Bertani diserang hama
Hidup selalu begini

Sang Pelaut berlari ke utara, tapi tiba di selatan. Menyusuri ladang-ladang singkong. Ketela untuk tepung soami, roti orang-orang pulau.
Tiba di tebing benteng Ponto u Lange, nama yang berarti cincin langit, kedua tangannya direntangkannya. Dari situ, diciumnya aroma sebelas pulau kecil, yang menaburi laut selatan.
Bayangan telapak tangan kirinya menyentuh Pulau Sumanga, telapak kanan menyentuh Pulau Simpora. Berturut-turut pulau-pulau kecil, Nua Toli-Toli, Pahara Tongatonga, Nua Manggasa, Nua Lontolonto, Nua Taintai’a, Nua Tapa Ro”o, Nua, Nua Loho, Pulau Oroho, terhimpun dari rentang lengan, bahu, hingga dadanya. Nama tempat ini Liya.
Pelaut itu sangat bersemangat. Direngkuhnya temali, dan dayung sebagai kemudi. Sambil berlayar menuju pulau, suaranya meledak dalam kabanti.
Oh buah hatiku
Segeralah melihatku
Hidup selalu begini
Hidupmu tak boleh sama

Air laut menyerap panas matahari. Melepas udara ke daratan yang dingin. Angin laut menggiring pelaut kembali ke darat dalam dahaga. Tanpa usaha, tanpa daya, pelaut terlentang di dalam perahu, mengapung-apung.
Sebelas mata air dalam jurang-jurang vertikal Liya dituju. Beribu anak tangga akan mengantarnya melepas dahaga. Dalam air Kohondao yang sejuk, ke air Efla’a yang lembut, di air Ewatu yang manis, atau air Balalaoni yang wangi. Menuju mata air Efe’ata dan Esaho yang bening bagai kaca permukaan airnya; hingga tafakur bermain verbatim mata air Uwe Moori. Air tuhan atau air milik yang dipertuan. Moori meliputi dua makna itu: Tuhan, dan yang dipertuan.
Pelaut itu kemudian berenang menyeberangi danau air tawar Ewuwu yang berwarna emas, untuk sampai di air Tee Meantuu. Mata air raja, mata air untuk yang dipertuan. Meantuu juga meliputi makna itu.
Tiba disitu, pelaut minum dari timba buah maja bergagang bambu dua depa. Fungsi gagang bambu mengulur timba menyentuh permukaan air.
Pelaut mengumpulkan tenaganya, untuk memanjat anak tangga batu ke atas tebing. Menuju jalan sempit di atas titian dari beribu kubik batu karya arsitektur kolonial Belanda. Titian yang membelah dua jurang, untuk menghubungkan kampung bawah atau Woru dan kampung Wawo atau atas bukit, dimana Benteng Liya berada.
Jurang di utara jalan titian dipenuhi pohon-pohon besar, tempat bergantung ribuan kelelawar. Tebing-tebing di bawah pohon mengurung goa yang menyembunyikan mata air Uwe Balo, dan aneka margasatwa. Di Uwe Balo itu, pada zaman dahulu kala seorang anak masuk mengejar ayam jagonya dan tersesat. Entah berapa lama mengembara di dalam jalan-jalan bawah tanah, orang itu muncul ke permukaan sudah menjadi lelaki tua. Tubuhnya kumal, wajah penuh bulu, rambut panjang kusut, dan yang mengisahkan sendiri perjalanannya, meski dengan bahasa yang kadang berbeda sebab saat tersesat dalam goa belum fasih berbicara. Apalagi sekian lama tak memiliki teman berbicara.
Sebuah celah terang, tempat cahaya masuk, menuntunnya menemukan jalan keluar. Tempat itu diketahui sebagai sebuah liang, lobang kecil, di permukan tanah di depan masjid Benteng Liya. Orang-orang menandai kisah itu sebagai asal penggunaan nama Liya. Dari tamsil liang, terlihat, celah nan terang.
Adapun di sebelah selatan titian, pohon-pohon kelapa yang menua jauh terlihat di dasar jurang. Tangga turun melingkar landai, rapi seperti potongan cangkang keong. Bagian dari arsitektur titian. Dua bak sumur di dasar jurang juga menyimpan peninggalan kolonial. Bak sumur yang membundar, dikelilingi puluhan lobang kecil, tempat menyimpan tembikar, itu tanda khusus sumur air minum. Sedangkan sumur dengan bak segi empat, untuk tempat menimba air mandi. Bak-bak itu dibuat orang Belanda, tapi badannya tinggi besar, hitam dan berbulu. Tidak putih.
Seluruh tempat itu, jurang yang dibelah jalan titian batu, di utara dan selatan, batu-batu titian dan jalan, mata air, pepohonan dan margatwa, itulah ekosistem Tambaa.

Seperti hasrat seorang anak yang mengejar ayam jagonya, dan mengembara di jalan-jalan bawah tanah, dari ekosistem Tambaa ke Benteng Liya, Querque mencari ayahnya.
Anak itu akhirnya menemukan seorang lelaki yang akan roboh. Anak itu melihat ayahnya, lelaki berwajah lelah menuruni tangga, menuju mata air Tambaa Langelange.
Air yang telah ditimba seluruh penduduk untuk memandikan anak pertama mereka, sepekan dari hari kelahiran atau kapanpun punya waktu pertama. Mata air yang harus ditukar dengan emas dan jagung tua saat ditimba.
Pelaut dan anaknya, Querque, melompat, mandi dalam mata air: Querque ialah anak pertamanya, dan mantan pelaut itu merasakan baru lahir pertama kali lagi saat bertemu anaknya.

Kami tak punya emas dan jagung
Hidup selalu begini
Berlayar kapal tenggelam
Berdagang selalu tertipu
Bertani diserang hama
Hidup selalu begini
Oh buah hatiku
Segeralah menandaiku
Hidupmu tak boleh sama 

Mantan pelaut dan Querque anak laki-lakinya;
lagunya menjadi sejarah yang bernyanyi.

“Untuk buah hatiku, kenari sabiji.”

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *