Kelor Tanaman Ajaib: Menjadi Tanaman yang Wajib Ditanam di NTT

Sebagai tanaman ajaib yang memiliki banyak nutrisi, kelor menjadi tanaman yang wajib di tanam dan dikonsumsi oleh kaum perempuan Nusa Tenggara Timur. Mengutip dari Liputan06.com yang mewajibkan perempuan untuk makan kelor sebelum menikah.

“Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan bahwa perempuan NTT wajib tanam kelor sebelum menikah”.

Masyarakat wajib tanam kelor di halaman rumahnya. Ini tentunya sebuah kesadaran dari pemerintah daerah akan kebaikan gizi yang ada pada tamanan kelor. Badan Pangan Dunia WHO menyebut tanaman ini sebagai tanaman ajaib yang mampu menjadi penyelamat masyarakat miskin di negara negara berkembang.

Masyarakat desa di Indonesia memiliki tingkat keakraban dengan tanaman ini. Masyarakat Buton khususnya pulau Binongko, menjadikan kelor sebagai sayur utama dalam kehidupan masyarakatnya. Kondisi tanah yang berbatu, membuat tanaman ini sebagai salah satu asupan gizi masyarakat.

Beberapa tahun yang lalu, saya telah mengkampanyekan untuk tanam kelor di Longa dan Tindoi. Saya menyampaikan bahwa kelor adalah penyelamat ibu hamil dan menyusui, termasuk salah satu tanaman untuk mengurangi stunting di Wakatobi dan desa desa lainnya di Wakatobi.

Kaudhawa atau Kelor: Sumber Gizi Masyarakat Wakatobi

Kebijakan gubernur NTT, dapat diadopsi oleh kepala kepala desa di seluruh Indonesia, untuk upaya pemenuhan gizi masyarakat desa. Kebijakan ini tentunya tidak akan terlalu berat untuk dilaksanakan oleh masyarakat. Jika masyarakat menanam di halaman rumah mereka, sebanyak 5 pohon per rumah, maka setiap keluarga dapat terjamin gizinya.

Namun, kalau melihat kebutuhan pangan global, kelor dapat menjadi kekuatan pangan yang dapat diolah oleh desa desa di Indonesia. Kelor dapat menjadi salah satu produk Bumdes, yang jika dikelola dengan baik, akan menjadi salah satu komoditas ekspor Indonesia ke berbagai belahan dunia.

Mengenal Manfaat Daun Sirsak: Obat Alternatif untuk Warga Desa

Untuk menunjang pengembangan kelor, sebaiknya menjadi salah satu syarat ritual di dalam masyarakat. Misalnya, seorang pasangan yang akan menikah, minimal mereka memiliki surat keterangan bahwa mereka sudah menanam kelor. Ini penting untuk pemenuhan gizi keluarga barunya. Menanam kelor sebagai tanaman ajaib, yang tentunya jika dihubungkan dengan upaya peningkatan kualitas SDM, paling tidak berkontribusi dalam pemenuhan gizi masyarakat.

Saat ini, kelor ajaib ini dipercaya sebagai tanaman yang mampu menangkal radikal bebas. Sehingga mengkonsumsi kelor dapat menjadi upaya untuk memperlambat penuaan.

Baca juga Makanan Buka Puasa dan Perubahan Orientasi Akademik

Saat ini, kelor sudah banyak diinovasi menjadi berbagai bahan makanan. Salah seorang mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo Kendari, Rasnia telah melakukan riset mengenai inovasi bahan kue baruasa dengan memanfaatkan kelor sebagai campuran bahannya. Ini sebuah inovasi pemanfaatan kelor dalam berbagai bentuk inovasi kuliner. Di dalam masyarakat Wakatobi, kelor sudah lama dijadikan sebagai obat pengembali tenaga ketika seseorang mabuk laut.

Baca JugaDaun Pepaya: Obat Alternatif Demam Berdarah bagi Warga Desa

Sampah atau Bumi? Saya Pilih Bumi kata Rustam Awat

Dari Paris ke Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *