Kejujuran sebagai Modal Budaya dalam Pembangunan Desa Wisata

Salah satu modal budaya yang dibutuhkan dalam pembangunan desa wisata di Indonesia adalah kejujuran. Kejujuran adalah sebuah indikator yang perlu dimiliki oleh semua individu yang ada di sebuah desa wisata. Lawan dari kejujuran adalah dusta atau kebohongan. Mereka yang jujur akan cenderung memiliki rasa tanggung jawab yang kuat untuk dirinya sendiri, orang lain dan Tuhan. Mereka yang memiliki sifat jujur akan mendapatkan kepercayaan dari siapapun yang menjadi relasi bisnis mereka. Sebaliknya mereka yang berdusta akan kehilangan kepercayaan dari siapapun yang pernah berbisnis dengan mereka. Itulah sebabnya agama melarang umatnya untuk berbohong, karena kebohongan adalah pangkal kejahatan.

Sesungguhnya kejujuran melahirkan keberkahan dan kebaiakan pada pelakunya, sedangkan kebohongan menyelamatkan sementara dan menghancurkan selamanya. Pembohong pada hakikatnya hanyalah membohongi dirinya sendiri bukan membohongi orang lain. Tentunya kejujuran adalah sifat yang harus dipupuk terus-menerus oleh seluruh anggota komunitas yang ada di sebuah desa wisata. Sementara kebohongan adalah harus menjadi lawan bersama. Jika sebuah desa wisata menginginkan kesuksesan bersama maka tentunya seluruh warganya harus memiliki karakter untuk jujur.

Kalau anda jalan-jalan di desa Penglipuran Bali, sebagai desa wisata yang sukses, Penglipuran Bali memiliki sistem sosial yang sangat luar biasa. Jika anda jalan-jalan ke sana, singgah di salah satu kios yang ada di desa itu, lalu anda merupakan dompet atau barang anda, anda tidak perlu mencari dompet anda di tempat itu, tetapi anda datang ke pusat informasi desa, barang anda sudah pasti di sana. Kondisi ini merupakan salah satu nilai keunikan pada dan modal budaya masyarakat yang ada di desa Penglipuran Bali.

INOVASI DESA WISATA SEBAGAI MODEL PEMBANGUNAN EKONOMI KREATIF

Sehubungan dengan pentingnya kejujuran dan berbahayanya kebohongan, Al-qur’an dan hadist secara jelas mencela bagi manusia yang suka berbohong. Di dalam Al-quran, berbohong adalah termasuk perbuatan orang-orang yang tidak beriman. Rasullullah menegaskan haramnya perbuatan dusta atau kebohongan dan menjadi salah satu sifat orang munafik:

Artinya: Tanda orang munafik ada tiga: berkata bohong, ingkar janji, mengkhianati amanah (HR Bukhari & Muslim).

Kebagai modal budaya, kejujuran harus menjadi karakter utama yang ada pada sebuah warga desa wisata. Dengan adanya kejujuran, maka desa wisata akan mendapatkan kepercayaan dari para turis yang akan datang ke sana. Dan sebaliknya, jika masyarakat di sebuah desa wisata masih selalu berbohong, mereka akan melahirkan ketidakpercayaan publik untuk datang ke desa mereka. Oleh karena itu, kejujuran merupakan salah satu modal sosial yang harus dimiliki oleh setiap individu yang ada di sebuah desa wisata.

iya, memang kejujuran dan kebohongan adalah dua hal yang sangat bertentangan, tapi dalam sejarah peradaban manusia ada kebohongan yang diperbolehkan, sehubungan dengan itu imam Ghazali mengatakan bahwa

“Ada tiga perkara yang memperbolehkan berbohong seperti Imam Ghazali didalam kitab Ihya Ulumiddin jilid IV/284 , mengutip sebuah hadist yang memperbolehkan untuk berkata bohong :

Artinya: Rasulullah tidak mentolerir suatu kebohongan kecuali dalam tiga perkaran: (a) untuk kebaikan; (b) dalam keadaan perang; (c) suami membohongi istri dan istri membohongi suami (demi menyenangkan pasangannya).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menukil perkataan Ibnu Bathal Rahimahullah, Apabila Seseorang mengulang-ulang Kedustaan hingga berhak mendapat julukan berat sebagai Pendusta, maka ia tidak lagi mendapat predikat sebagai mu’min yang sempurna, bahkan termasuk berpredikat sebagai orang munafik.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah kemudian menjelaskan,”Hadist Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang tanda-tanda orang munafik yang dimaksud disini mencakup perbuatan dusta, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan. Tanda pertama, dusta dalam perkataannya; Tanda kedua, dusta dalam amanahnya; Tanda ketiga, dusta dalam janjinya. Berikutnya Imam Bukhari mengetengahkan Hadist tentang jenis ancaman hokum diakhirat bagi para pendusta, yaitu mulutnya akan disobek sampai ketelinga, karena mulutnya itulah yang menjadi lahan kemaksiatan.

Taman Baca Desa Longa: Cara Inovatif untuk Jalani Tinggal di Rumah Saat Corona

Hadist-hadist di atas menjelaskan kewajiban berlaku jujur dan menjelaskan tentang keharaman perilaku dusta. Namun pada kenyataannya kenapa sering sekali ketidak jujuran merajalela bahkan menjadi darah daging yang melekat?

Sebagai modal budaya, kejujuran merupakan hal yang perlu dihargai dan dijunjung tinggi oleh siapapun di dalam sebuah desa atau komunitas atau dalam kehidupan pribadi sekalipun. Saat ini masih banyak orang yang menganggap bahwa bohong merupakan sesuatu yang sepele. Pada hal kita tahu sekecil apapun kebohongan tetap saja dianggap sebagai dosa besar.

Allah SWT berfirman di dalam surat An-Naml:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” [QS. An-Nahl ayat 105]. Sementara kejujuran adalah sesuatu yang memiliki nilai yang sangat besar dan penting dalam membangun karakter dan kepercayaan baik untuk pribadi, masyarakat desa maupun untuk kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bohong atau dusta adalah sifat buruk yang sangat dibenci, dan Allah sendiri mengutuknya. Kebohongan merupakan induk dari berbagai macam perkara buruk yang tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Tentunya dalam konsep pengembangan desa wisata, kebohongan akan menjadi batu sandungan untuk gagalnya visi bersama membangun desa wisata. Sebaliknya kejujuran adalah modal yang harus diperjuangkan bersama oleh seluruh individu yang ada di desa wisata.

Berbohong adalah pangkal dari berbagai kejahatan, dan salah satu ciri golongan orang munafik adalah mereka yang suka berkata dusta.

Dari Ibnu Masud bahwa Rasulullah bersabda,

“Berkata benar jadikanlah kebiasaan bagimu, karena benar menurut kebaikan dan mengantarkan ke surga. Seseorang selalu berkata benar (pasti) ditentukan siddiq di sisi Allah. Dan berhati-hatilah kamu pendusta, karena dusta menimbulkan kekejian (kejahatan) dan akibatnya akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Seseorang berdusta akhirnya ditentukan pendusta di sisi Allah”.

Kejujuran merupakan landasan iman bagi seorang Muslim. Bentuk kejujuran itu dapat dibuktikan melalui ucapan maupun perilaku sehari-hari.

Pada saat hari kebangkitan dan hari pembalasan kelak, seorang pendusta akan datang bersama kelompoknya (pendusta) dan datang kepada Allah dengan keadaan yang mengerikan. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” [QS. Az-Zumar ayat 60]

Allah juga berfirman:

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [QS. Az-Zumar ayat 3]

Seperti yang Allah sudah firmankan dalam ayat diatas, orang yang berbohong pasti akan mendapatkan ancaman siksa neraka. Dan mereka memiliki ciri yaitu dengan muka yang sangat hitam legam.

Perbuatan dusta adalah salah satu perbuatan yang dapat merusak dan melenyapkan amal ibadah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga walaupun ia salat, puasa, walaupun ia mengira bahwa ia menjadi seorang Muslim, yaitu berdusta saat berbicara, jika berjanji dia ingkar, dan berhianat apabila diberi amanat (kepercayaan)”.

Bahkan, lebih parah lagi Allah tidak akan mau melihat dan mensucikan mereka yang berbohong dan Allah akan menyiksa mereka dengan siksa yang pedih.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;

“Ada tiga golongan di hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat dan mensucikan mereka bahkan akan ditimpakan siksaan yang pedih yaitu, orangtua yang berzina, raja yang berdusta, dan fakir yang sombong.” [HR. Muslim]

Dusta adalah perbuatan yang dilarang Islam, dan Allah akan mencatat dosa sekecil apapun dan akan tetap membalasnya.

Akibat dari semua itu antara lain terjadinya korupsi, pedagang buah melakukan penipuan timbangan, pelajar dan mahasiswa membuat laporan keuangan palsu atau yang sering terjadi dinegeri ini ialah kebiasaan menyontek pada saat ujian.

Jika hal diatas terjadi pada lembaga lembaga pendidikan yang notabane nya lembaga kaderisasi manusia dan pemimpin masa depan, maka kelak akan lahir manusia-manusia yang terdidik sebagai pembohong atau pendusta ulung.

Oleh karena itu, apabila sebuah bangsa ingin menjadi bangsa besar, berwibawa dan disegani, maka bangsa itu harus berani membangun dirinya sebagai bangsa yang selalu jujur dan meninggalkan sifat pembohong atau pendusta, betapapun beratnya.

Semoga kita bisa menjadi insan yang selalu jujur dan meninggalkan sifat pembohong dan pendusta, sehingga kita bisa menjadi generasi Rabbani yang selalu dilindungi oleh Allah SWT dan mendapatkan rahmat-NYA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *