Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Wangi-Wangi – Sejak beberapa tahun terakhir gadis-gadis yang menjual kacang tanah yang disangrai atau lebih popular disebut kacang jodoh telah banyak diliput oleh media. Istilah Kacang Jodoh merupakan istilah yang baru terkenal beberapa tahun terakhir, karena pada saat menjual kacang inilah, muda-muda mendapatkan media untuk bertemu sehingga terkadang berakhir dengan cinta. Kesan inilah kemudian, media menyebut jual kacang ini sebagai Kacang Jodoh.

2Namun kalau kita melihat dari sisi pengembangan pariwisata Wakatobi, maka kacang jodoh sebenarnya adalah suatu kebudayaan yang selama ini telah tumbuh dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya, dimana ibu-ibu melatih anak-anak gadisnya untuk berbisnis. Jadi sebenarnya, kacang jodoh adalah ruang pendidikan kultural bagi anak-anak muda untuk belajar berbisnis.

Dalam konteks pengembangan pariwisata, budaya kacang jodoh dapat menjadi modal budaya dan modal sosial dalam pembentukan karakter ekonomi kreatif. Di masa yang akan datang kacang jodoh dapat dikemas dengan lebih inovatif. Kacang jodoh sudah harus lebih kreatif, mulai dari cara pengolahan, kemasan sampai dengan cara promosinya. Di harapkan, pada masa yang akan datang potensi kacang jodoh dapat dilihat oleh pemerintah khususnya bidang ekonomi kecil dan menengah untuk dikembangkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat, khususnya generasi mudanya.

Untuk itu, pelatihan dan pendampingan bisnis berbasis anak muda ini harus didorong oleh pemerintah, karena penguatan modal budaya dan modal sosial, sekaligus melatih mereka untuk lebih trampil dalam mengelola produk mereka, menjadi kebutuhan anak muda sekarang. Bahkan kalau kita melihat tantangan lapangan kerja, kacang jodoh dapat diintegrasikan dengan sistem pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di Wakatobi. Anak-anak Wakatobi harus didik dengan kemampuan komunikasi sejak dini, karena bisnis kacang jodoh membutuhkan keterampilan komunikasi yang pas, sehingga anak-anak mudanya dapat datang setiap malam untuk membeli kacang yang dijual oleh gadis-gadisnya. Oleh karena itu, kalau melihat konteks materi pendidikan modern, maka sebaiknya kacang jodoh dapat dijadikan sebagai ruang praktek pelajaran kewirausahaan, baik di tingkat sekolah maupun di tingkat mahasiswa.

Baca Juga Mandi Kembang dan Kacang Jodoh

1Dengan dijadikannya kacang jodoh sebagai salah satu materi pembelajaran di sekolah, maka pemerintah perlu melakukan pengembangan dan inovasi yang dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan kepada pelaku bisnis ini. Karena tanpa pengembangan dan inovasi yang berbasis bisnis professional, maka bisa jadi kacang jodoh bisa saja menjadi ajang yang tidak menarik. Karena melalui kacang jodoh yang tidak tertata dengan baik, bisa melahirkan komunikasi cinta yang lebih mengarah hal-hal yang melanggar budaya. Kacang jodoh bisa saja mengarah kepada hal-hal yang mengarah kepada seks yang tentunya kita tidak harapkan.

Oleh karena itu, budaya kacang jodoh disetiap bulan puasa ini, sebaiknya dikembangkan menjadi pembelajaran bisnis bagi generasi muda baik ditingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Pelatihan dan pendampingan seharusnya dilakukan oleh pemerintah melalui dinas terkait. Kita juga berharap, ada area kacang jodoh sebagai salah satu areal bisnis ekonomi kreatif sepanjang bulan Ramadhan. Kawasan itu merupakan ekonomi kreatif yang diperuntukan bagi muda-mudi Wakatobi sekaligus ruang pertemuan dengan para wisatawan (su001).

Baca Juga  Makanan Buka Puasa dan Perubahan Orientasi Akademik

Kelapa: Salah Satu Komoditas yang Terabaikan

2 thoughts on “Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *