Jodoh Pilihan Tuhan

Oleh: Irsad Syamsul Ainun⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Siapa yang tak baik? Siapa yang tak pantas? Siapakah aku? Semua cerca kulayangkan padanya yang berani datang dihadapan orang tuaku dan menyatakan bahwa dia akan menjadikanku penjaga hati dan pembimbing generasinya!!! Hah (berlaga sombong), salah apa aku sampai harus dipaksa untuk menerima lamaran yang aku sendiri tak tahu harus berkata apa.!!!⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Sejak Ibu mengatakan aku tak boleh menolak lamarannya membuatku seakan terpuruk, makan-minumku tak lagi bernafsu, hari-hariku dipenuhi dengan rasa sesak, dan tiap malamnya aku harus menangis. Entah apa yang merasukiku, hingga semua terasa ganjil bagiku.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Apakah aku tidak berhak menentukan pilihanku sendiri? Apakah aku tak pantas berdikari tentang cinta? Hidupku seolah terikat oleh semua kehendak Ibu, hingga aku bergejolak memeras amarah pada-Nya. Tuhan, rasanya tak adil jika aku yang saat ini tengah menjalani jalan hijerahku, berusaha taat pada-Mu harus menerimanya, yang tak tahu batasan interaksi. Rasanya aku lebih memilih untuk masuk dalam gulungan ombak dan terbangun dimana pun dia membawaku.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Sebulan, dua bulan, tiga bulan semua rencana berjalan sesuai apa yang diinginkan, tersusun rapi laksana buku-buku yang memanjakan mata ketika harus memasuki ruangannya. Ya, berjalan seperti yang kuinginkan, tak boleh ada unsur musik, ada sekat, tak ada unsur adat dan ini yang paling fenomenal dalam setiap ingatanku dia yang kini menjadi calon pemilik hati harus memberikanku mahar Ar Rahman minimal 1-5 ayat, itu pintaku padanya. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Tak ada interaksi berarti diantara kami, kublokir nomor-nomor yang berhubungan dengannya dan kukatakan jika ingin tahu tentangku silahkan tanyakan pada sahabat, kelaurga atau ibuku. Semua berjalan hampir normal, kenapa tak full normal?? Aku tak ingin munafik disini, juga tak ingin memojokan hati ya sebab kami masih saja suka mencuri-curi waktu untuk saling bertanya kabar.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Ada banyak hal yang membuatku terus bertanya, mengapa harus dia? Mengapa harus aku? Kukatakan pada Ibu, “Ibu, sampai detik ini tak ada rasa sedikit pun untuknya”. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Entahlah, apakah aku egois atau bersandiwara. Yang aku tahu, mungkin saja hatiku tengah bergemuruh melawan kemustahilan.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Hari-hariku seakan penuh misteri, ketika ibu mencoba menghubungiku seketika itu jiwa dan ragaku goyah, tak bisa berucap, yang ada hanyalah linangan air mata. Aku mencoba menerawang garis takdirku, mengapa cinta seakan menyiksaku? Bukankah setiap insan lahir dengan cinta dan segala tetek bengeknya? Apa yang tengah aku lakukan? Apakah aku telah terjebak dengan kata atau sedang mencoba bermain api asmara yang belum sepenuhnya menemukan muaranya?⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
𝐒𝐞𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢…⁣⁣⁣⁣
Keraguanku mulai memasuki klimaks dari segala klimaksnya, yang aku sendiri belum sepenuhnya bisa memahami apakah ini ujian pra nikah atau hanya ilusi dari pemuas hawa nafsu. Kuluncurkan berbagai bahasa kepada Ibu agar semua dibatalkan dengan berbagai alasan seribu satu cara. Namun, sayang dan lagi-lagi sayang, ibu tetap kokoh dalam pendiriannya. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“Dia adalah yang terbaik untukmu”, Aku sangat sadar atas apa yang dikatakan Ibu yang tetap ngotot dengan pendiriannya, yang kembali memunculkan semua argumen-argumenku di atas permukaan yang saat itu aku ucapkan dengan sadar dan tanpa sebuah paksaan dikala itu.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩.”⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪, 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘻𝘪𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘮𝘦𝘴𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨,”⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶𝘯𝘺𝘢.”⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢”.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Dengan ungkapan-ungkapan itulah hati ibu terbuka. Namun sayang semua tinggalah fatamorgana semata baik aku, ibu dan dia tak ada yang merasakan kebahagiaan yang apabila semuanya dilaksanakan mungkin saja ibu akan sangat bahagia. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Bukan pasal aku dan dia yang akan bersatu kemudian membina segala hubungan yang ada, tapi harapnnya yang pupus tentang adanya penjaga untukku, dan ibu akan pergi tanpa beban.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
𝐋𝐚 𝐓𝐚𝐡𝐳𝐚𝐧….⁣⁣⁣⁣
Dua bulan setelah pembatalan kabar bahagia yang membuat ibu merasa sangat dihargai kala itu, dan seiring hembusan angin, detik-detik meregangnya sendi-sendi, saat itu pula aku harus merasakan rasa bersalah atas apa yang terjadi. Menghancurkan seluruh impian, harapan dan doa-doa untuk kebahagiaan yang tak pernah ibu utarakan padaku, namun hanya mampu mengutarakannya pada sang kakak. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Ibuu… Ibuu… Ibuuu… Aku telah ditinggalkan oleh sayapku sendiri. Meninggalkanku seorang diri, tanpa bahu yang bisa kujadikan sandaran, tanpa mata yang bisa kuajak melihat, tanpa bibir yang bisa kuajak cerita, dan tanpa hati yang bisa kuajak untuk merasakan pedihnya kehilangan. Lagi-lagi kehilanganku yang kedua berulang, pertama kehilangan sang Hero, dan sekarang kehilangan pemilik syurga ditelapak kakinya.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“Tolong sampaikan pada adikmu, menikahlah agar ada yang menjaganya”.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Rabbi…!!!! Hatiku luka berkeping-keping bukan karena perpisahan dengan dia yang belum halal, sebab pupusnya harapan ibu yang hingga jiwanya telah pergi bersama Malaikat maut aku belum bisa mewujudkan permintaannya. Dengan alasan adik-adik jauh lebih penting bagiku.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Mengutuk diri atas apa yang terjadi, menutup hati untuk semua yang datang. Dan inilah salah satu kebodohan dan keangkuhanku, bermodalkan ego dan penilaian manusia semata merasa lebih baik dari orang lain.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Maafkan aku wahai malaikatku, tak ada ucapan dan perpisahan diantara kita. Aku datang dengan wajah dan kesedihan, namun kau tak lagi bisa berucap, kau telah terbujur kaku bahkan aku sendiri tak kuasa menahan diri, tak ada acara memandikanmu, aku hanya bisa melihatmu dari jarak sekian. Rasanya aku telah menutup hati untuk bisa memaafkan diriku sendiri. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Yang pada akhirnya semua telah usai, aku dan dia kini tengah berusaha memperbaiki diri dan doa-doaku akan terus terpatri dalam setiap sujudku untuk siapa pun kelak, aku atau dia semoga mendapatkan yang terbaik.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
𝐋𝐚 𝐭𝐚𝐡𝐳𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡𝐤𝐮𝐥𝐥𝐢𝐡𝐚𝐥 𝐢𝐧𝐧𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡𝐚 𝐦𝐚𝐚𝐧𝐚⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Ketika aku, ibu atau dia tak pantas menentukan takdir diri sendiri dan orang lain, sebab siapa pun itu statusnya hanyalah seorang hamba yang telah ditakdirkan dan lahir dengan membawa takdir masing-masing. Juga tak pantas menghakimi apalagi merendahkan orang lain. Tak pantas menyalahkan cinta, sebab Takdir Cinta-Nya jauh lebih indah. Dan ingatlah selalu dengan salah satu ayat-Nya: ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
“𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯”, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘶𝘫𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳….” (𝐐𝐒 𝐀𝐥 𝐀𝐧𝐤𝐚𝐛𝐮𝐭:𝟐-𝟑)⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Seseorang selalu mengharapkan yang terbaik, namun kadang lupa untuk menjadikan dirinya sebagai orang terbaik. Jika pun Tuhan menakdirkanmu dengan mereka yang buruk ingatlah, bahwa itu semata-mata karea bentuk cinta-Nya. Belajarlah dari kisah Raja Fir’aun yang memiliki istri sholehah, dan kisah Nabi Luth yang beristrikan seorang yang durhaka.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
𝐓𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚⁣⁣⁣⁣
Oleh: Irsad Syamsul Ainun⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯⁣⁣⁣⁣
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘤𝘦𝘩⁣⁣⁣⁣
𝘐𝘣𝘶, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘧𝘴𝘪𝘳𝘢𝘯⁣⁣⁣⁣
𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢⁣⁣⁣⁣

𝘒𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨⁣⁣⁣⁣
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢⁣⁣⁣⁣
𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘧𝘢𝘵𝘢𝘮𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢⁣⁣⁣⁣
𝘐𝘭𝘶𝘴𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘮𝘪𝘯𝘨⁣⁣⁣⁣
𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘴𝘢𝘪⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
⁣⁣#𝐆𝐞𝐫𝐟𝐢𝐤𝐅𝐢𝐥⁣⁣
#𝐋𝐢𝐟𝐞𝟒𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡⁣⁣
#𝐓𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡⁣⁣
#𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧𝐓𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧⁣⁣
⁣⁣⁣⁣­

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *