Jauh Jalan Ke Tanjung Bira (Bagian 1)

Oleh: Saleh Hanan

Ya, Tanjung Bira, Bulukumba Sulawesi Selatan, benar-benar jauh. Bukan hanya dari tempat asal kami datang, dari Wakatobi, kepulauan paling tenggara Pulau Sulawesi. Namun, jauh juga dari Makassar, bandar transit.
Empat-lima jam dari Kota Makassar dengan kendaraan mobil, untuk lima penumpang.

Tanjung Bira benar-benar tanjung, serupa gambaran jari jempol yang lurus meninggalkan telapak dan jemari lain yang terlipat. Jadi tanjung itu jauh ke laut, menghasilkan teluk d kiri jalan, tempat pelabuhan berada.
Sebelah kanan ujung tanjung adalah pantai pasir. Inilah center point Tanjug Bira: sepotong jalan menuju anjungan pantai di ujung tanjung dan pantai pasir di antara dua tebing, di kanan anjungan.
Panjang pantai tidak seberapa. Di Sebelah barat pantai itu lagi, di atas tebing batu, disitulah restoran berbentuk perahu pinisi berdiri.
Kira-kira itulah ikon Tanjung Bira. Daerah para pembuat perahu pinisi dari kayu.
Tentang sepotong jalan dari pintu gerbang ke anjungan pantai, jaraknya 1020 langkah malas saya. Dua langkah malas itu kira-kira 90 – 100 cm.
Pada pintu gerbangnya tertulis pemberitahuan: Kawasan Wisata Tanjung Bira. Dan seperti umumnya tempat seperti ini, di kaki pintu gerbang dua ruas jalan itu berdiri portal dan ruang karcis.
Tanjung Bira, bukan cuma jauh dari Wakatobi, jauh juga dari bandar transit, Makassar. Namun dalam kawasan yang hanya sejauh 1020 langkah saya itu, pada jarak 500 langkah terakhir ke pinggir laut, terasa menegaskan kami langsung bukan cuma jauh datang dari Wakatobi, tapi sekaligus jauh tertinggalkan.
Apa sebabnya? Pada area 500 langkah itu hidup hotel, coteks, home stay, wisma, dan aneka istilah. Dalam beragam kelas, kontruksi, dan harga. Di kiri kanan jalan penuh penjual pakaian, kerajinan, makanan, yang keseluruhannya menggambarkan kita sedang berjalan-jalan di lokasi wisata.
Tahun 2006, Tanjung Bira yang dijelaskan ini masih berupa tempat kosong.
Detik pertama kami turun dari mobil, kami berpikir Wakatobi harus berlari dengan kesadaran, agar tak semakin jauh.
(bersambung)

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *