JALAN BERLIKU MENUJU “DOKTOR”

Perjalanan ini dimulai ketika diterima sebagai dosen PNS di UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2014. Saya berniat melanjutkan pendidikan sesegera mungkin jika secara aturan sudah memungkinkan. Pada tahun 2015 saya mendapat kabar yang menggembirakan dari Erasmus University Rotterdam untuk melanjutkan pendidikan Ph.D dalam bidang International Health Law dengan melengkapi beberapa berkas lagi. Kabar tersebut saya sambut dengan segera merampungkan berkas.

Kabar menggembirakan tidak selamanya berjalan mulus. Semua niat untuk melanjutkan Program  Doktoral seketika luntur karena Ibu saya terdiagnosis kanker. Proses perawatan orang tua yang harus dirujuk ke kota Makassar sehingga saya harus mengajukan permohonan maaf khusus secara resmi kepada sponsor program doktoral. Pada tahun 2016 saya mengambil keputusan untuk mengajukan program tugas belajar S3 di dalam negeri saja yaitu di Universitas Hasanuddin, Makassar  dengan Skema beasiswa MORA 5000 Doktor Kementerian Agama agar bisa menemani proses perawatan secara intens.

Baca Juga Pemahaman yang dalam tentang Al Quran dan Sunah adalah Hikmah atau Karunia

Menemani orang tua di kota Makassar menjadi titik balik karena pada saat itulah saya memutuskan untuk menikah dan memberikan inspirasi untuk mengambil topik tentang penderita kanker yang saya temui sehari-hari. Pendidikan doktoral sunggulah menguras energi dan pikiran, ditambah lagi harus meninggalkan keluarga kecil yang masih butuh perhatian besar. Pukulan terberat karena ibu saya meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit kanker di tahun pertama kuliah. Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar benar-benar menempa saya menjadi sosok akademis yang tangguh. Ini Ini juga berkat kebersamaan dan kekompakan teman-teman kuliah serta dukungan civitas akademika FKM Universitas Hasanuddin yang sungguh melebihi ekspektasi saya.

Tantangan lainnya adalah tidak memiliki dana untuk penelitian disertasi sehingga saya harus mencari dana tambahan. Di saat harus fokus mengerjakan disertasi saya juga mengerjakan banyak project penelitian lain dengan harapan bisa menutupi kekurangan anggaran penelitian. Alhamdulillah beberapa diantaranya sudah lolos dengan proses yang kompetitif. Dalam proses pendidikan dengan bimbingan Tim Penasehat Doktroral, saya berhasil mempublikasikan 4 jurnal terindeks scopus, 1 jurnal nasional, 1 buah buku serta Paper pada International Conference beberapa Negara diantaranya Bali, Malaysia, India dan Thailand. Pada tahun 2020 terdapat 2 paper terindeks Scopus Quartile 2 (Q2) dengan status Accepted/siap publish.

Saat menjalani program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar saya juga lolos tes dan bekerja sebagai Penyuluh Anti Korupsi LSP KPK RI, dan Asesor Kompetensi BNSP RI. 

Baca Juga Membangun Desa: Enam Indikator yang dibutuhkan untuk Bisa Maju

Berkat dukungan dan doa seluruh keluarga pada di hari Jumat yang Agung tanggal 24 Januari 2020, sy melewati ujian Promosi dan berhak menyandang Gelar Doktor (Dr) dengan predikat Cum Laude dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, dengan Kepakaran Kebijakan dan Hukum Kesehatan. Semoga Gelar Doktor ini dapat menjadi license bagi saya agar menghasilkan karya-karya riset yang inovatif dan solutif untuk kemanusiaan (Research for Humanity) di masa mendatang.

“Ada Akhir dalam Setiap Perjalanan Panjang, Ada Hikmah dalam  Setiap Cobaan”.

 Oleh: Dr. Zuardin Arif, SKM, M.H.Kes

Lecture and Research at UIN Sunan Ampel Surabaya Health Law dan Policy Specialist

Editor: Sumiman Udu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *