Intrik Kuasa: Memicu Seteru, Memacu Konflik Wuna–Buton

Oleh: La Yusri

Sejarah perlu dijelaskan, agar generasi memiliki pengetahuan masa lalu, untuk memahami hari ini dan sekaligus mereka mampu membangun masa depan. Buton Wuna harus berupaya untuk membangun masa depan yang lebih baik. Untuk itu La Yusri menulis jejak masa lampau, yang bisa memberikan pemahaman kita mengenai hubungan Buton Wuna saat ini. Demikian La Yusri menulisnya di laman Facebook miliknya.

KUNAEFI Raja Batukara dari semenanjung Malaya datang di Wuna, ia kemudian bertemu Sawerigading di Bahutara. Dinikahkanlah kedua anak mereka: Ndoeku (Bonto Kapili, Raja Wuna kesatu, 1321—1350) putera Kunaefi mengawini Wa Tandriabe saudara Sawerigading, dari hubungan itu lahirlah dua putera mereka: Runtu Wulou/Sugi Rupa dan Kaghua Bongkano Fotu/Sugi Patola.

Runtu Wulou/Sugi Rupa pulang ke Luwu, negeri asal ibunya, sedang Kaghua Bongkano Fotu/Sugi Patola meneruskan tahta Ayahandanya Ndoeku sebagai Raja Wuna kedua.

Sawerigading, lelaki pengelana dari Luwu kepincut juga gadis Wuna, ia lalu menikahi perempuan jelita itu yang digambarkan cantiknya seperti saja bulan yang purnama, kulitnya bersih dan langsat serupa daging kelapa saja putihnya, dari sana lahirlah lelaki misterius bernama La Piikore.

Baca juga Mansa’a sebagai Tradisi Bela Diri dalam Masyarakat Wakatobi

Karena misterius itu, tidak disebutkan La Piikore menikah dengan siapa, ia hanya diceritakan menurunkan dua anak lelaki: Sugi Laende Raja Wuna ke-5 dan La Pombangu. Sugi Laende adalah ayahanda Sugi Manuru Raja Wuna ke-6, sedang La Pombangu mempunyai dua anak lelaki: La Pokainse dan Titakono Sangia Tekarawawono, Raja ke-9 di Wuna.

Intrik Pemicu yang Memacu Konflik:

TITAKONO– Sangia Tekarawawono, putera La Pombangu, memerintah 1555—1575 memulai sebuah kerja pembagian kekuasaan dengan mengangkat La Marati putera La Pokainse—Kemanakannya sendiri sebagai Bonto Balano pertama di Wuna, langkahnya itu tampaknya memicu intrik yang kemudian memacu terjadinya konflik yang tajam di internal elite Wuna.

Baca juga Buton dan Woena, Disigi dari Luwu

Titakono Sangia Tekarawawono turun tahta, seorang yang bukan dari jalur lurus keturunannya naik menggantikannya sebagai raja Wuna ke-10. Raja suksesor Titakono itu bernama La Ode Saaduddin—Memerintah 1575–1585, dialah yang menerima Islam di Wuna sebagai agama resmi kerajaan.

La Ode Saaduddin turun tahta, kekuasaan kembali dialih ke jalur lurus Titakono Sangia Tekarawawono. Anaknya yang bernama La Ode Ngkadiri Sangia Kaindea naik menggantikan La Ode Saaduddin sebagai raja Wuna ke-11, ia memerintah dua puluh sembilan tahun lamanya: 1585–1614.

Di sinilah bermula intrik yang mulai meruncing di internal elite Wuna dan terus melebar melibatkan campur tangan Kesultanan Buton. Terjadi perbedaan sikap antara Raja Wuna ke-10 La Ode Saaduddin dengan raja Wuna ke-11 La Ode Ngkadiri. La Ode Saaduddin tidak menginginkan La Ode Ngkadiri membangun aliansi kerja sama dengan kerajaan Gowa.

Langkah Sangia Kaindea—La Ode Ngkadiri yang memberi jalan lapang bagi Gowa telah memicu kemarahan Kesultanan Buton dan memacu hubungan disharmonis dikedua negeri berjiran itu. Ekspansi dan aliansi Gowa—Wuna adalah ancaman serius bagi eksistensi Kesultanan Buton

La Elangi—Sultan Buton keempat (memerintah 1597—1631)—kemudian mengambil langkah cepat dan dianggapnya tepat. Ia menekan Wuna dengan meneken sebuah undang-undang kesultanan yang menetapkan Wuna sebagai Bharata—semacam daerah vassal—bawahan— atau taklukan Buton, sesuatu yang penyebutan itu tidak disenangi oleh Raja Wuna Sangia Kaendea—La Ode Ngkadiri.

Sangia Kaindea dengan dukungan penuh Sara Wuna melawan tekanan “Pembharataan” Buton itu dengan terus “merapat” ke kerajaan Gowa, bahkan dengan terang-terangan Sangia Kaendea—La Ode Ngkadiri menyampaikan dukungan terhadap ekspedisi militer Raja Gowa Sultan Hasanuddin ke Buton dalam bulan Januari 1655.

Dua aliansi besar yang berdiri diametral kemudian terbangunlah. Gowa—Wuna melawan koalisi kuat Buton—Ternate—Belanda. Sebuah operasi rahasia yang diinisiasi Belanda dengan melibatkan Buton dan Ternate berhasil menangkap Raja Wuna La Ode Ngkadiri Sangia Kaindea. Suami Wa Ode Wakelu itu kemudian dibawa ke Ternate sebagai tawanan, ia ditahan dan diasingkan selama satu tahun di sana

Seteru kemudian melebar tak hanya melulu dalam urusan politik dan kekuasaan, bahkan juga telah terbawa dalam urusan marital kawin mawin. Pertunangan La Ode Pontimasa—Kapitalau Wawoangi dengan Wa Ode Kamomona Kamba, Puteri Omputo Sangia—La Ode Husaini Raja Wuna ke-13 telah digagalkan sepihak oleh Raja Wuna sebelum sampai ke perkawinan.

Baca jugaAra Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Gagalnya pernikahan itu membuat berang kesultanan Buton sehingga memicu meruncingnya seteru yang memacu terjadinya pemakzulan Raja Wuna La Ode Husaini—Omputo Sangia oleh Kesultanan Buton dimana seluruh perangkat kerajaan Wuna dibawa ke Kesultanan Buton.

Masalah marital kawin mawin serupa lainnya yang ikut juga menambah parah buruknya hubungan Wuna—Buton dalam masa itu adalah digagalkannya pernikahan La Ode Kentukodha—La Ode Khairun Barzai—Omputo Kantolalo Kamokula dengan Puteri Raja Gowa yang disiasati oleh Kesultanan Buton karena bermusuhan dengan kerajaan Gowa.

bersambung.

Baca Juga BERHARAP Cinta dalam Sarung

Metode La Uge: Konsep Survival dalam Era Industri 4.0 (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *