INOVASI DESA WISATA SEBAGAI MODEL PEMBANGUNAN EKONOMI KREATIF

Oleh :

Sumiman Udu

Rektor Universitas Muslim Buton

Sejak disahkannya undang-undang nomor 6 tentang desa tahun, 2014 disahkan, sebenarnya ada arah pembangunan bangsa yang berorisentasi desa, atau paling tidak perhatian kepada desa sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah. Sejak kepemimpinan Joko Widodo, dana desa sudah ratusan triliun. Dan bahkan pada tahun 2020, dana ini meningkat menjadi 73 triliun rupiah. Oleh karena itu, sejak tahun 2016, saya sudah focus pada riset mengenai inovasi desa wisata sebagai salah satu alternatif dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa.

Hasilnya adalah sejak 2018, kami telah menerbitkan satu buku berjudul Inovasi Desa Wisata: Menuju Power Society Wakatobi – Indonesia yang diterbitkan oleh Oceania Press. Dua tahun kemudian, dunia sedang digoncang oleh masalah pandemic covid-19 dan semua hendak menuju “dunia baru yang Kembali normal” sebuah dunia yang membutuhkan berbagai peluang bagi mereka yang memiliki jiwa-jiwa enternur dan inovasi sebagai kekuatan utamanya. Namun, sebagai salah satu riset yang jauh sebelum pandemic ini terjadi, saya melihat adanya beberapa modal yang dibutuhkan oleh seseorang dalam melakukan inovasi desa wisata sebagai modal dalam pembangunan ekonomi kreatif. Menurut Pirre Boiurdieu menyebutkan ada empat modal yang butuhkan dalam pembangunan, yaitu modal budaya, modal sosial, modal simbolik dan modal finansial. Empat modal itulah yang dibutuhkan untuk dapat memasuki era baru, pasca covid 19. 

Modal Budaya

Walaupun di era industri 4.0 bahkan memasuki era 5.0, modal budaya masih tetap menjadi aspek penting dalam pembangunan desa wisata sebagai model dalam pembangunan ekonomi kreatif. Apa itu modal budaya yang menjadi ladasan etis dari pembangunan desa wisata, yaitu sebuah nilai-nilai luhur yang sifatnya universal, seperti kejujuran, kesabaran atau kegigihan, keuletan, tranparansi, semangat yang tinggi. Mereka yang memiliki integritas, akan memenangkan setiap permainan di era pasca pandemic ini. Nilai-nilai budaya Buton, seperti kangkilo pataanguna, sara partaanguna (popiapiara, pomamasiaka, pomaemaeaka, dan poangka-angkata) yang kemudian menjadi modal budaya dalam kebudayaan Buton, menjadi modal buyada yang sangat penting untuk membangun dunia baru, yaitu desa wisata sebagai modal budaya dalam pembangunan ekonomi kreatif. Anak-anak muda harus memiliki karakteristrik kewirausahaan yang kuat, sebagaimana tuntutan modal budaya dalam pembangunan ekonomi kreatif pasca pandemic ini.

Modal budaya merupakan kunci dalam memainkan peran strategis dalam pembangunan ekonomi kreatif yang berbasis desa-desa wisata yang ada. Generasi muda harus terlebih dahulu membenahi karakter sehingga mereka dapat memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi kreatif.

Modal Sosial

Sebagai generasi muda Buton yang memiliki keinginan untuk maju, maka diperlukan sebuah tata nilai dalam membangun modal sosial kita. Dalam kebudayaan kita, mengenai satu falsafah yang masih tetap relevan dengan era pasca pandemic covid 19, yaitu pobhnci-bhonciki kuli atau dalam bahasa awam kaum melenial adalah tenggang rasa. Dalam kebudayaan kita, modal sosial kita dijelaskan dalam empat konsep, saling memelihara, saling menyayangi, saling menakutkan (menjaga teman) dan saling menghormati atau menghargai. Modal ini merupakan modal sosial bangsa Buton, yang harus kita transformasi dalam pengembangan inovasi desa wisata sebagai model dalam pembangunan ekonomi kreatif. Anak-anak muda Buton, harus Kembali mengakfitkan modal sosial ini, sebagai salah satu kekuatan kita dalam menyikapi pasca pandemic covid 19.

Modal sosial ini akan melahirkan sebuah tata sosial baru, yaitu adanya ikatan kebersamaan yang berdasarkan nilai-nilai rasa kemanusiaan. Ikatan kebersamaan bisa tercipta karena adanya rasa saling percaya (trust) yang duduk di atas modal budaya, sehingga menguatnya jejaring dan norma kolektif. Nilai-nilai ini harus terinternalisasi pada komunitas kreatif Buton, sebagai sebuah modal yang harus kita ikuti bersama.  Inilah yang disebut modal sosial. Dalam konteks Indonesia, anak-anak muda kreatif Buton dalam menjadi salah inspirasi bagi generasi muda yang lain, yang saya selalu jadikan sebagai tagline dalam hidup, yaitu saling memberi dan saling menginspirasi.

Gagasan di atas akan berhadapan dengan realitas, sehingga hanya sebuah mimpi belaka, hal ini disebabkan kerana saat ini, bangsa kita dihadapkan pada tantangan krisis kepercayaan, krisis integritas, sehingga untuk membangun kebersamaan merupakan sesuatu yang sangat sulit. Itu realitas, karena dapat kita lihat mulai dari pemerintah pusat dan daerah, kebersamaan sesama menteri, kebersamaan antar partai politik, kebersamaan antar kampus, dan kebersamaan antar warga memperlihatkan sebuah jarak yang jauh, karena kita tidak saling mempercayai, kita  saling curiga. Maka untuk membangun sebuah inovasi desa wisata sebagai modal dalam pengembangan ekonomi kreatif, dibutukan modal sosial sebagai landasan untuk membangun mimpi bersama, yaitu negeri baru yang dapat dimenangkan oleh anak-anak muda dengan memanfaatkan industri 4.0.

Membangun desa wisata merupakan membangun komunitas, yang jika dilakukan secara hati-hati, tentunya akan menjadi sebuah modal besar bangsa ini. Anak-anak muda dapat saling membantu dalam konteks ekonomi kreatif, modalnya hanya satu, upaya membangun kebersamaan dalam berbagai lembaga ekonomi kreatif, dan harus membangun jejaring, hingga keberbagai pelosok desa.

Poasa Yinda Saangu, Pogaa Yinda Koolota sebagai Spirit Kemandirian dalam Konteks kebutonan

Falsafah Buton, poasa yinda saangu, pogaa yinda koolota merupakan falsafah yang sudah dilakukan oleh bangsa Buton sejak beberapa abad lalu. Jika kite melihat prinsip ini dalam era pandemi Covid-19 mengajarkan kepada kita perlunya kemandirian, dan saya pikir falsafah itu masih sangat relevan dalam konteks kita sebagai bangsa Buton maupun dalam konteks kita sebagai Indonesia. Dalam beberapa decade terakhir, Indonesia merupakan menjalankan fungsinya sebagai pasar yang paling baik bagi negara-negara maju, karena Indonesia merupakan negara yang berpenduduk keempat terbesar di dunia dan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Apa yang menjadi harapan dari negara-negara maju adalah bahwa Indonesia harus tetap menjadi pasar bagu seluruh produk global.

Untuk itu, covid 19 memberikan ruang untuk kita dapat membuka mata kita, kebiasaan impor hampir diberbagai lini kehidupan, sangat terganggu Ketika pandemic ini terjadi. Ini disebabkan karena semua negara membutuhkan produk-produk tersebut untuk mengatasi problem negaranya sendiri. Karena itu ketidaksiapan kita untuk membangun kemandirian industri kesehatan dan pangan dapat berujung pada krisis baru.

Desa sebagai basis paling bawah dalam sistem pemerintahan kita, sesungguhnya adalah haal dasar dalam pembangunan ekonomi kreatif saat ini. Untuk itu, saatnya agar semua anak muda yang ada di desa, sudah harus didorong untuk membangun sebuah cara berpikir dalam melihat pandemic ini. Saatnya kita harus mandiri, dan memiliki rasa percaya diri yang kuat. Saatnya semua anak-anak muda harus memiliki rasa percaya diri untuk membangun ekonomi kratif berbasis jaringan hingga ke desa-desa. Kita semua sudah harus membangun opitimisme, untuk membangun kemandirin bangsa ini. Kita tidak boleh memiliki mental terjajah atau inlender.

Bangsa kita harus dapat belajar dari Korea Selatan yang telah mengubah karakter bangsanya sebagai bangsa yang mandiri melalui strategi Saemaul Undong Korea Selatan 1960-1970 adalah bagaimana membangun rasa percaya diri masyarakat desa. Kepercayaan diri adalah modal untuk membangun. Kini kita saksikan bagaimana kemandirian Korea Selatan berkat kepercayaan diri masyarakatnya. Untuk itu, anak-anak muda Buton, harus membangun gagasan bersama untuk mandiri bersama sebagaimana falsafah bangsa Buton, yaitu poasa yinda saangu, pogaa yinda koolota. Konsep ini, merupakan gagasan kemandirian yang harus dimiliki oleh seluruh anak-anak Buton, dan dapat ditransformasi ke dalam nilai-nilai pembangunan ekonomi kreatif.

Inovasi sebagai Kekuatan dalam Pembangunan Desa Wisata

Desa merupakan wilayah pemeritahan yang satu-satunya memiliki masyarakat dan wilayah. Desalah yang memiliki penduduk, desalah yang memiliki wilayah. Oleh karena itu, inovasi harus dimulai dari desa. Inovasi harus dimulai dari perubahan karakter hingga ke inovasi yang berhubungan dengan kelembagaan sosial dan produk-produk kita dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai basis atau media. Kita harus mulai melakukan Gerakan bersama dalam mewujudkan generasi emas yang penuh dengan inovasi.

Kebangkitan bangsa Buton dan Indonesia pada umumnya, harus dibebankan kepada generasi baru, karena merekalah yang seharusnya menjadi inisiator kebangkitan baru dengan cara baru, yaitu kebangkitan inovasi. Kemandirian bangsa hanya bisa dicapai dengan kemandirian inovasi anak bangsa. Covid-19 memberi pelajaran bahwa ruang inovasi semakin lebar dan semua negara sedang berjibaku menghasilkan inovasi unggul. Saya senang berada di ruang seminar ini, karena semua pemateri adalah anak-anak muda kreatif yang kelak dapat menjadi kekuatan ekonomi baru dalam pembangunan bangsa Buton dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Dalam konteks pasca covid 19, focus kita terletak pada dua aspek, yaitu focus pada inovasi pada aspek kelembagaan sosial bisnis kita, dan inovasi pada aspek produk yang dapat mengisi atau melahirkan produk-produk yang unggul sebagai salah satu kekuatan era batu yang akan terjadi pasca covid 19 ini. Presiden menginginkan peran serta anak-anak muda dalam menggerakkan ekonomi berbasis inovasi anak-anak muda. Oleh karena itu, seminar ini merupakan sebuah kekuatan yang dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam pembangunan inovasi desa wisata sebagai model pembangunan ekonomi kreatif di pasca covid 19 ini. Semua produk kita harus terhubung dengan desa sebagai wilayah negara yang memiliki penduduk dan sumber daya alam.

Bangsa kita membutuhkan jiwa-jiwa interpreneur yang hebat sehingga kita dapat mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara tetangga. Saatnya kita harus melakukan kerja keras untuk membangun kesadaran bersama dalam melahirkan insan-insan kreativ, sehingga kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Kalau melihat Indeks Inovasi Global 2019, Indonesia berada di peringkat 85 dari 129 negara. Bahkan di ASEAN kita berada di urutan ke 7 atau dua terendah. Lihat Singapura (8), Malaysia (35), Thailand (43), Vietnam (42), Filipina (54) dan Brunei (71). Ini menunjukan bahwa masa depan bangsa, terletak pada Gerakan bersama anak-anak muda  dalam membangun inovasi.

Kita harus optimis untuk melakukan tindakan bersama dalam ranah inovasi desa, karena ini akan melibatkan penduduk yang besar dan sumber daya yang melimpah. Kita tidak boleh pesimis, dan kita harus optimis, memiliki rasa percaya diri, pantang menyerah dan tetap mengibarkan harapan untuk merebut dunia baru, pacsa pandemic covid 19.

Bangsa Buton, selama ini dikenal sebagai manusia unggul, saatnyalah kita harus tunjukkan kepada dunia bahwa memang di dalam DNA kita ada jiwa-jiwa yang unggul. Karena menurut budaya Buton, jiwa-jiwa unggul itu bukan turunan, tetapi jiwa-jiwa yang harus dilatih terus menerus. Memasuki era pasca covid 19, satu-satunya yang dapat memenangkan peperangan atau persaingan ke depan adalah terletak pada sumber daya manusianya. Oleh karena itu, modal budaya, modal sosial, modal simbolik dan modal finansial, akan menjadi aspek penting untuk memenangkan persaingan global.

Anak-anak muda desa harus didorong untuk membangun pusat-pusat inovasi yang digerakkan anak-anak muda bekerja sama dengan perguruan tinggi. Karena pendidikan tinggi adalah media hilir untuk menghasilkan inovasi. Namun manusia unggul di hilir adalah akumulasi dari proses panjang sejak di hulu, yaitu sekolah dasar dan menengah. Gagasan Merdeka Belajar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan bentuk kesadaran akan pentingnya ekosistem untuk menghasilkan manusia kreatif dan unggul, yakni manusia inovatif yang bisa menjadi penentu arah perubahan. Apalagi Menristek juga terus mendorong inovasi nasional.

Oleh karena itu, saya sangat berterima kasih, sempat bergabung dengan teman-teman kreatif, yang merupakan generasi emas bangsa Buton, semoga dapat menggerakan desa-desa di wilayah eks kesultanan Buton, dengan melibatkan berbagai Lembaga ekonomi yang sudah teman-teman lakukan.  Desa sudah harus menjadi focus kita, dengan menggalakan usaha untuk membangun karakter kemandirian masyarakat desa. Teman-teman inovator, sudah saatnya untuk bergandeng tangan dalam membangun desa sebagai sebuah model inovasi dalam pembangunan ekonomi kreatif.

Karena desa memilik berbagai sumber daya alam yang dapat dikelola oleh anak-anak muda, sekaligus desa merupakan pasar paling ujung yang harus kita tangani dengan baik. Saatnya untuk mengubah desa dari pasar ujung produk-produk global menjadi pusat inovasi-inovasi produk yang dapat memberikan suplai pada orang kota, terutama suplay pangan.

Selamat Berseminar

Dan dengan Ucapan Bismillahir Rahmanir Rahim, seminar ini saya buka dengan resmi.

Saya kembalikan kepada moderator;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *