Inovasi Desa: Pintu Masuk Kampus Merdeka

Desa mendapatkan perhatian pemerintah dengan berbagai bentuk pendanaan yang telah disediakan oleh pemerintah. Ini sebuah kesadaran yang pernah dialami oleh Korea Selatan tahun 1970-an. Melalui program Soumaul Undong Korea Selatan telah memulai pembangunan desanya. Hingga sukses dan banyak ditiru oleh berbagai negara di dunia. Korea Selatan menjadi inspirasi model pembangunan desa yang terkenal hingga ke seluruh negara di dunia.

Indonesia kemudian membuat kerja sama dengan Korea Selatan melalui Universitas Gadjah Mada, menerapkan konsep Korea Selatan untuk beberapa desa di Yogyakarta. Saat ini, beberapa desa binaan itu menjadi sukses.

Beberapa minggu lalu, kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, meluncurkan Kampus Merdeka, salah satu program itu adalah adanya kebijakan untuk menempatkan mahasiswa untuk memilih kuliah di tempat lain selain di dalam kelas. Sebuah kebijakan yang mendekatkan mahasiswa dengan dunia nyata. Dunia yang selama ini hanya dikunjungi dalam program KKN yang juga waktunya sangat pendek.

Di sisi yang lain, desa merupakan entitas negara yang dihuni oleh banyak masyarakat, memiliki sumber daya alam, budaya, ikatan sosial. Namun, selama ini belum menjadi perhatian banyak orang, termasuk pihak universitas. Pada hal desa memiliki segalanya, sehingga butuh konsep konsep akademis untuk mengembangkan desa. Desa membutuhkan konsep akademik, mulai dari observasi masalah desa (sumber daya alam dan sumber daya manusia) harus dipetakan dan ini kerja kerja akademik. Desa membutuhkan ini, membutuhkan metodologi yang mumpuni sehingga bisa diaplikasikan di dalam pembangunan desa. Desa juga butuh jurnal jurnal akademik dengan bahasa yang dipahami oleh masyarakat desa, bahasa Indonesia atau bahkan bahasa lokal, sehingga hasil riset akademik bisa dimengerti dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat desa. Desa butuh hasil riset itu, dengan bahasa sederhana, karena itu akan menjadi rujukan desa dalam membangun. Jurnal akademik dalam bahasa asing, tentunya akan menyulitkan masyarakat desa dalam memahami hasil penelitian. Jangankan menerapkan, membaca saja tak bisa. Logika sederhananya, desa tak butuh Scopus, desa butuh bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Lokal agar mereka bisa menerapkan teori atau konsep dari akademisi.

Lalu bagaimana dengan inovasi desa? Inovasi dilakukan melalui hasil penelitian yang baik. Paling tidak hasil hasil riset akademik dapat menginspirasi desa untuk membangun desanya. Mereka dapat melakukan inovasi terhadap berbagai potensi desa mereka. Mereka dapat memberikan berbagai sentuhan kreatif kepada berbagai sumber saya, sehingga bernilai ekonomis.

Di sinilah pintu masuk kampus merdeka itu memasuki desa. Melalui inovasi, universitas dan akademi akan masuk ke desa untuk membantu desa, sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa nya untuk mengikuti kuliah merdeka di kampus. Melalui kampus merdeka, mahasiswa dapat merencanakan pembangunan desa dalam waktu yang panjang, satu hingga tiga semester. Konteks ini memungkinkan mahasiswa untuk membuka usaha di desa, sehingga desa bisa menjadi sentra sentra bisnis yang dikelola oleh kaum milenium yang berasal dari kampus.

Jika semua kampus di Indonesia memiliki desa binaan, dimana melibatkan dosen dan mahasiswa secara institusi, maka desa desa akan menjadi kekuatan bangsa yang banyak melahirkan inovasi inovasi baru berbasis desa. Desa akan menjadi tempat belajar yang banyak menginspirasi, tetapi juga dapat menjadi kekuatan ekonomi baru, karena generasi muda atau milenium bisa mengembangkan bisnis di bawah binaan kampusnya.

Dosen dosen juga akan mendapatkan banyak kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Sementara masyarakat desa akan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan kampus, yang membawa berbagai pendekatan terhadap berbagai fenomena di dalam masyarakat.

Pusat pusat inovasi dan pembelajaran kampus merdeka dapat terwujud dengan baik, dan itu artinya bahwa jika setiap desa ada Bumdes yang sukses atau bisnis milenium yang sukses maka ada puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu inovasi bisnis yang akan lahir di masa depan. Di samping itu, alumni universitas di masa depan akan keluar dengan kreativitas dan inovasi atau bahkan dengan kembali ke desanya tempat kuliah untuk melanjutkan bisnisnya.

Salam desa

Makassar, 18 Februari 2020

Sumiman Udu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *