Ingin Aku di Panggil “Ibu”

Sore itu, mobil mewah itu berjalan menembus jalan jalan terjal di pesisir pulau Buton. Seterjal jiwaku yang kalut akan nasibku sebagai wanita. Sebagai seorang wanita, aku ingin mendapatkan seorang momongan, dan aku ingin dipanggil “ibu” dari suara mungil nya ketika ia handak makan. Aku ingin mendengarkan itu dengan baik, lalu aku akan bergegas ke dapur menyiapkan makanan. Aku juga pingin menyuapinya dengan lembut, sebagai tanda cinta tulus dari aku ibunya.

Impian itu tetap saja terjal, hingga aku mendapatkan seorang kekasih yang bisa menjadi imamku. Lelaki yang bisa membuahi rahimku, tentunya lelaki yang kuimpikan selama ini, lelaki yang mampu menuntunku, baik secara akademik, budaya maupun agama. Yah, aku agak terlalu pada kriteria yang kubuat ini, sehingga mustahil aku dapatkan di dunia nyata. Bisa jadi ia ada tetapi sudah menjadi suami orang lain. Aku ingin lelaki yang bisa membimbingku untuk berdiskusi dalam segala hal, tempat aku bermanja, tempat aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya.

Aku hanya bisa berdoa dalam setiap shalat ku, agar Tuhan mengirim lelaki itu padaku, hamba tak berdaya, karena aku belum bisa sempurna sebagai wanita, yang sering mendapatkan panggilan ibu dari si mungil yang manja.

Sore ini mobil meluncur di atas aspal hitam pulau Buton, pikiranku liar, membayangkan lelaki yang akan membuahi rahimku, yang entah di mana, apakah ia masih bujang atau sudah menjadi milik orang lain. Atau apakah aku akan menunggu ucapannya, bahwa ia rela menikahiku dan mewujudkan mimpi mimpi indahku, untuk dapat dipanggil ibu oleh si mungil cantik.

Keinginan untuk mendapatkan panggilan itu, telah kuutrakan pada ibuku, bahwa aku akan adopsi bayi, agar kelak ia akan memanggil ku ibu. Hanya saja ketika niat itu kutindaklanjuti, aku malah tak berdaya, ia akan menyita hari hariku sebagai seorang profesional. Ibuku menertawakanku, karena aku tentu tidak akan sanggup merawat anak itu di tengah kesibukanku, mengajar dan juga sedang mengikuti pendidikan.

Di dalam mobil mewah ini, aku hanya bergumam pada angin, “Mungkinkah ia akan datang memberikan harapan, dengan mengontakku melalui handphone, dan berkata, “Aku ingin menjadi imammu”, pikirku dalam hati Sepanjang perjalanan ini. Aku kadang melirik ke luar jendela, tetapi hatiku ingin sekali menenangkan jiwaku pada dadanya yang bidang.

Aku melirik ke samping, kulihat mobil melaju agak deras, membuat lamunanku buyar, kembali pada impian lamaku, bahwa aku sangat rindu untuk di panggil ibu.

Bersambung ******

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *