Indahnya Menjomblo Part II

Oleh: Irsad Syamsul Ainun

Sebelum aku melanjutkan semua goresan pena ini perlu kiranya aku tegaskan kembali bahwa jomblo bukanlah perkara terkutuk atau merendahkan. Sejenak marilah kita sama-sama merenungi penggalan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bukankah kita telah terlahir dengan membawa empat perkara yang keberadaannya telah ditentukan oleh Sang Pencipta? Mungkin kita lupa, atau memang pura-pura lupa? Apa itu empat perkara yang telah ditentukan? Inilah empat perkara yang dimaksudkan, yakni rezkinya, ajalnya, amal dan celakanya, serta bahagianya. Bahagia di sini bisa merujuk kepada jodoh.
Aku tidak ingin mencerca mereka yang masih setia dengan hubungan tanpa ikatan halal, namun aku hanya ingin mengingatkan bahwa dunia pernikahan tidaklah seindah dunia pacaran yang Anda sedang lakoni saat ini. Aku juga tidak ingin mencerca mereka yang berhasil menikah muda dan jadi sumber motivator. Aku bangga dengan dunia kejombloanku, sebab dengannya aku tidak perlu menghabiskan hari-hariku dengan kebohongan belaka. Aku tidak perlu menghabiskan berjam-jam waktu untuk chattingan dengan si doi, berusaha tampil maksimal dengan berbagai make up dan styles yang yang mahal, mengisi malam mingguku dengan asyik jalan kesana-kemari dan pulang dengan kelelahan, atau menangisi kegagalan saat berusaha mejelaskan berbagai macam alasan ketika aku tak menghiraukan pesan-pesan si doi yang membuatnnya cemburu dan marah padahal dia maupun aku tak pantas mencemburui dan dicemburuinya… naudzubillah……….
Mari kita renungi dua ayat Al Quran yang menjajikan kesetaraan terindah untuk dua individu berbeda yakni perempuan dan laki-laki berikut ini:
“Allah menjanjikan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman akan syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan juga tempat tinggal yang baik di dalam syurga Adn, sedangkan keridaan Allah itu lebih besar, itulah keuntungan yang agung.” (At-Taubah: 72)
“Supaya Allah memasukkan laki-laki dan perempuan yang beriman ke dalam syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan supaya Dia menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu di sisi Allah adalah keuntungan yang agung.”(Al Fath: 5)
Arti ayat di atas menegaskan bagaimana seorang perempuan dan laki-laki berakhir dalam frase “keuntungan yang agung”. Lah, itukan masalah akhirat! Jangan takut ada juga untuk dunia, yakni terdapata dalam QS An Nisa: 32 yang artinya:
“….Bagi laki-laki terdapat bahagian dari apa-apa yang mereka usahakan. Dan bagi para wanita pun terdapat bagian dari apa yang mereka usahakan…” (QS An Nisa: 32)
Demikianlah ada hak-hak individu yang masing-masingnya tak saling melampaui. Bagaimana pun kita tahu bahwa dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat nanti. Dan tentunya kita tak perlu risau perkara jodoh, toh kita bisa menyibukkan diri dengan membaca, mengkaji ilmu, mengikuti aktivitas sosial di masyarakat, menulis dan lain sebagainya.
Coba kita lihat fakta hari ini, dunia sudah semakin sekuler, dimana agama dan kehidupan dipisahkan. Remaja bahkan tua-tua pun disibukkan dengan dunia tik-tok dan media lainnya yang kadang semakin menjauhkan kita dengan bekal kehidupan akhirat.
Oke, kita kembali ke laptop, ups! Bukan laptop tapi pembahasan jomblo bahagia. Kita mesti mempersiapkan diri untuk megahadapi kenyataan bahwa dunia jomblo bukan masalah terkutuk, tidak laku-laku atau perkataan yang kadang ingin kukatakan pada mereka yang sering mencerca si jomblo dengan bahasa perawan tua. Ya, kita mungkin telah melupakan satu fenomena di atas bahwa takdir perkara jodoh telah di tetapkan oleh-Nya.
Saat ini begitu banyak fenomena yang dapat kusebutkan beberapa diantaranya yakni pemuda yang kadang menikah dengan awal “kecelakaan” dan pastinya sudah tidak asing bahkan jadi rahasia umum di tengah masyarakat, wanita tidak siap jadi ibu, laki-laki tidak siap menjadi ayah, dan intinya kadang hanya mau enaknya. Setelah terjadi ya dipaksa aborsi, bunuh diri dan masih banyak lagi. Kira-kira itu buah dari apa? Pernikahankah? Atau perjododohan? Tentu kita tahu, bahwa itu semua berawal dari yang namanya “Pacaran”. Jadi mari berbenah, siapkan diri untuk jadi ayah, ibu, kepala keluarga, pengatur rumah tangga yanng kelak melahirkan tonggak peradaban hakiki. Ya, dengan kembali menjalani kehidupan berlandaskan Islam….. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *