Indahnya Menjomblo Part 3

Oleh: Irsad Syamsul Ainun

Ramadhan telah berlalu, Syawal sedikit lagi akan meninggalkan kita. Hmmm… status masih sama dengan yang kemarin. Tiap hari ada banyak postingan pernikahan, lamaran, undangan dari teman-teman dekat, korban pedemi kian menghawatirkan, tarif listrik naik, belumlah lagi tiap hari ada aja yang  ngebuli dengan bahasa jomblo akut, jomblo bakarat, perawan tua, tidak laku-laku dan sederet bahasa  berstempel lainnya yang masih saja dilontarkan kepada mereka yang berstatus jomblo. Rasanya adem-adem gimana gitu… hahaha

Hey.. kamu ya kamu yang suka ngebuli pemuda  yang belum melayangkan undangan untuk menghadirkan kamu di panggung pernikahan jangan khawatirkan mereka sebab semua telah diatur oleh-Nya. Apalah lagi sebuah pernikahan.

Tapi kan bulan Syawal akan segera berakhir. Lah, nikah itu tidak mesti di bulan Syawal bukan? Lantas apa ada yang dalil yang mengharuskan nikah di bulan Syawal? Memang betul ada anjuran untuk menikah di bulan Syawal tapi jangan sampai hanya karena itu lantas kamu tertipu dengan semua egomu. Sampai-sampai kamu tak lagi bisa membedakan antara dua kata ini yakni INGIN MENIKAH dan SIAP NIKAH. Ingat ya sahabatfillah ingin menikah dan siap menikah memiliki tupoksi yang berbeda. Kalau ingin menikah ya sekedar ingin, bisa jadi seseorang melaluinya tanpa harus memiliki persiapan. Nah, bagaimana dengan siap nikah? Siap nikah disini tentunya sebelum seseorang itu memutuskan untuk menemui menikah perlu adanya persiapan.

Tak kasih bayangan ya, misalnya menggunakan ilmu pertanian sebelum sesorang memutuskan menanam sesuatu dia musti tahu apakah media yang digunakan baik atau tidak, setelah menanam pun harus tahu apakah tanaman itu tumbuh dengan baik atau tidak. Tidak sampai disitu dia pun juga harus tahu obat yang harus digunakan ketika hama datang menyerang. Dan itu semua tentu akan mempengaruhi kualitas buah yang dihasilkan. Tidak diragukan ketika seseorang menyiapkan semua dengan baik Insya Allah usaha tak akan menghianati hasil. Apa itu, sudah tentu buah yang dihasilkan bisa dibayangkan sendiri ya.. hehehe..

Atau dalam ilmu makan-makan, bagi yang doyan makan.. hahaha.. Ya sebelum makan musti disediakan peralatan makan, dan tidak jauh-jauh beda harus ditau apa makanannya apakah sehat atau sudah basi.

Nah, dalam ilmu pernikahan juga demikian. Tapi jangan karena kebelet nikah lantas kita nabrak aja aturan yang ditetapkan mengawali pernikahan dengan sederet aktivitas yang sifatnya sekedar kesenangan semu ya sahabat.

Sahabat, jangan khawatir di bulan Syawal ini bukan hanya nikah aja ibadahnya. Puasa Syawal juga loh.. siapa nih yang belum tunaikan? Buruan tunaikan masih ada waktu. Jangan hanya mikirin nikah doank.

Sekarang kita kembali lagi ngerumpi tentang bekal dan ilmu yang perlu dipersiapkan sebelum nikah ni sahabat. Kita sudah sering  mendengar istilah tugas wanita yaitu KAMAR, DAPUR dan SUMUR ya tahu sendirilah apa makna ketiga kata itu. Ketiga kata itu ternyata dimaknai dengan sepele oleh kebanyakan orang. Biasanya ni ada bahasa seperti ini, buat apa sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya ma di dapur doank, sumur doank, jaga anak alias di rumah aja.

Jangan salah ya dear, kita tahu bersama bahwa dalam Islam sudah ada tupoksi masing-masing individu yang dinamakan pria dan wanita baik masih sendiri maupun ketika membangun rumah ibadah yakni rumah tangga.

Wanita kenapa dituntut untuk berilmu? Sebab wanita adalah madrasah pertama yang anak teladani ketika telah lahir. Hmmm… mulai ni berat-berat pembahasannya. Coba kalau ibu si anak tak berilmu ketika si anak lahir dan mulai memasuki bangku sekolah misalnya biasanya kan orang tua paling doyan dan berlomba-lomba masukin anak ke sekolah-sekolah berkualitas bisa dari segi agamanya, ilmu dunianya dan lain-lain. Disini kadang kita lupa bahwa pendidikan aqidah dan adab akan terbentuk ketika si anak masih berada dalam lingkungan keluarga. Ambil contoh kecil, misalnya orang tua meminta anak sholat tapi si orang tua sendiri tidak shalat kira-kira apa yang terjadi? Atau dalam adab makan dan minum, anak diminta duduk ketika makan dan minum tapi orang tua tidak mencontohkan, lagi-lagi apa yang terjadi?

Jadi jangan sepelekan perihal-perihal sederhana ya. Sahabatfillah, belajar tidak hanya di didapatkan di bangku pendidikan terlebih lagi ilmu tentang pernikahan dan parentig khususnya.

Jika sahabatfillah berpikir wanita hanya sekedar di dapur, kamar dan sumur itu hanya sekedar aktivitas biasa sahabat sangat salah. Semua aktivitas wanita baik dalam rumah, yang berhubungan dengan mendidik anak maupun di luar rumah memerlukan ilmu yang semua itu tidak hanya bisa didapatkan secara alami. Begitu pula dengan si pria. Jangan sampai keputusan kita membuat kita kalang kabut.

Menikah memang perkara mulia, hanya saja semua butuh proses dan jangan sampai kita terjerumus dalam pergaulan yang mengantarkan pada hukum zina akibat ketidaktahuan kita dan keinginan untuk segera berganti status.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari-hari kita dengan kegiatan positif misalnya megikuti kajian, mengikuti kelas parenting, kelas desain dan lain-lain yang intinya kita bisa mengambil ibrah di dalamnya agar di usia muda kita tetap bermanfaat untuk umat.

Dan perlu diingat serta jangan salah ya, belajar ilmu parenting tidak harus menikah dulu, bukan hanya itu belajar ilmu apa saja itu boleh asal jangan ilmu kanuragan untuk mengait lawan jenis… hehehe

Yuk, sahabatfillah istiqomah dalam menjalankan aktivitas dan berbuatlah sesuatu yang bisa membawamu pada jalan ketaatan. Jangan mau dibilang kaum rebahan yang kerjanya tidur mulu, ketika bangun berharap ada sesuatu yang Anda inginkan tanpa usaha yang jelas. Ingat……….!!!!!! JANGAN MENURUNKAN KUALITAS DIRIMU HANYA KARENA ENGKAU SEDANG SENDIRI, BERSABARLAH YANG LEBIH BAIK AKAN DATANG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *