Ikan Asar menjadi salah satu Oleh-Oleh Khas Raja Ampat

Waisai – Raja Ampat merupakan salah satu daerah destinasi wisata yang dikenal dengan keindahan laut yang begitu menawan. Sungguh tak asing lagi, pulau ini biasa disebut sebagai salah satu syurga dunia. Sebutan-sebutan itu tak asing lagi di telinga para masyarakat baik lokal maupun mancanegara, kerana keindahannya itulah maka tempat ini menjadi salah satu pilihan untuk dikunjungi semua kalangan. Pulau Raja Ampat, memiliki luas daratan 6.084,5 km2 (sekitar 15% dari luas ke seluruhan wilayah ini) yang terdiri dari sekitar 600 pulau baik yang berukuran kecil maupun besar. Kepulauan Raja Ampat adalah salah satu daerah yang termasuk dalam Segitiga Karang (coral triangle). Coral triangle adalah kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.

            Selain terkenal dengan keindahan bawah lautnya, palau Raja Ampat juga memiliki potensi sumber daya kelautan yang dominan, yaitu perikanan. Ikan yang terdapat di pulau coral triangle ini bermacam-macam untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya. Akan tetapi ada salah satu keunikan yang dimiliki oleh jenis ikan pelagis diataranya tuna, cakalang (cakalang strep, komo, babida) dan ekor kuning yang biasa dijadikan ikan asar (ikan bakar) oleh pedagang ikan untuk dijajakan di pasar tradisioal di pulau ini.

Baca Juga Potensi Pengembangan Desa Wisata Posalu

            Jika setiap pengunjung yang berkunjung di wilayah destinasi wisata membawa pulang barang unik, maka berbeda dengan pengunjung  pulau Raja Ampat. Mereka tidak tidak hanya membawa barang unik ciri khas Raja Ampat pada khususnya dan Papua pada umumnya, akan tetapi juga membawa pulang ikan asar.

Ikan Asar tidak hanya dikonsumsi oleh mereka yang berdomisili di pualu ini, akan tetapi setiap pengunjung yang datang baik dari luar kota maupun mancanegara akan memilih ikan asar sebagai salah satu oleh-oleh yang dibawa pulang ke daerah masing-masing. Setiap ada kegiatan atau ivent­ivent tertentu yang dilaksanakan di kota ini, maka pedagang ikan asar akan dikerumuni pembeli. Bahkan setiap pengujunng yang datang di pulau ini, pasti akan membeli ikan asar.  Mereka berbelanja dari kisaran harga Rp 50.000 sampai Rp 400.000; perorang hanya untuk membeli ikan asar tersebut. Padahal, harga ikan asar perekornya hanya Rp 20.000- Rp 50.000 jika dalam kondisi terang bulan dan Rp 10.000-Rp 25.000 jika dalam kondisi bulan mati. Dalam kondisi seperti ini, maka istilah yang dipakai masyarakat dan pedagang ikan baik ikan basah, kering dan ikan asar akan mengatakan jika ikan banjir maka kita akan makan ikan, dan jika ikan kurang maka kita akan makan uang.

Baca Juga Tumpukan Sampah di Wakatobi telah Mengkhawatirkan

Beberapa waktu lalu, saya melakukan wawancara dengan pihak perikanan. Mereka mengatakan, untuk saat ini ikan asar dapat dikatakan sebagai oleh-oleh Raja Ampat. Namun, belum bisa dinobatkan sebagai oleh-oleh ciri khas Raja Ampat. Karena jika hal itu dilakukan, maka mesti ada kemasan khusus yang disediakan pemerintah untuk lebih menonjolkan daerah Khas Raja Ampat. Di samping itu, aspek promosi juga dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan produk wisata ikan asar di Raja Ampat.

Jika Anda berkunjung ke pulau Raja Ampat, jangan lupa untuk membeli dan mencoba ikan asar Raja Ampat ya. Karena ikan asar pulau ini, ternyata bisa bertahan selama 4 hari selama di perjalanan. Kita dapat berharap, ikan asar dapat mendapatkan sentuhan inovatif terutama pada aspek kemasan, sehingga menjadi ruang partisipasi masyarakat setempat dalam industri pariwisata Raja Ampat (isd004).

Baca Juga Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Penulis : Irna Sari Dewi)

Editor : Sumiman Udu