Icon Perahu Pinisi: Simbol Maritim di Pantai Losari

Kalau anda jalan-jalan di pantai Losari, sekitar 50 meter dari tulisan pantai Losari, pinggir parkiran, akan melihat sebuah icon perahu Pinisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Di pusaran pusat pariwisata kota Makassar, pas di jantung kota daeng ini, kita dapat melihat jejak peradaban maritim yang ada di icon maritim itu.

Pemanfaatan ikon budaya, membuat pantai Losari bukan hanya menampilkan keindahan senjanya. Tetapi juga menampilkan kekayaan budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Kehadiran Perahu Pinisi melambangkan jejak peradaban maritim masyarakat Bugis-Makassar dalam kemampuannya menaklukkan lautan Nusantara selama berabad-abad. Icon ini adalah identitas sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Baca juga Kota Naga Tempat Mujur di Wakatobi?

Di Wakatobi Buton, juga memiliki lagu boti, atau Bangka. Selama berabad-abad mengarungi lautan Nusantara, bersama dengan perahu Pinisi, sekaligus sekutu seteru dalam lautan. Tentunya ini juga adalah kebanggaan dari masyarakat Wakatobi Buton. Jadikan sebagai salah satu icon kemaritiman suku bangsa maritim ini.

Kalau ada jalan-jalan di Amsterdam, museum kapal sebagai lambang dari kebesaran mereka di masa lalu. Sebuah jejak perdagangan maritim harus dirawat, agar generasi masa kini dan generasi mendatang dapat belajar dari peradaban masa lalu yang mampu menaklukan samudra.

Baca Juga Ekowisata Mangrove di Desa Tampara Wakatobi Dilaunching

Perahu atau Bangka bukan hanya mewariskan benda artefaknya, tetapi ini mewariskan sistem nilai. Melalui tradisi Bangka, generasi mendatang dapat belajar mengenai sistem kepemimpinan. Tidak ada lobi dan Sogok dalam sistem kepemimpinan perahu. Mereka akan dipilih karena adanya integritas dari calon pemimpin.

Pengkaderan dilakukan secara terstruktur, semua juragan lahir dari proses alam dan panjang. Semua Sawi atau anak buah kapal harus memulai karir dari koki, jabatan terendah yang ditempa secara fisik dan psikis. Mereka yang bertahan selama beberapa tahun, akan dinaikkan statusnya menjadi sawi, jika secara fisik maupun mental sudah bisa diandalkan.

Sehingga ketika era kematian perahu layar pada tahun 80-an Wakatobi Buton, sekaligus adanya proses kematian sosial budaya serta nilai-nilai di dalamnya. Era perang layar mati digantikan oleh mesin. Serta perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, menyebabkan ruang permainan perahu layar mati dan digantikan oleh kontainer.

Baca juga Perpustakaan Desa: Titik Awal Membangun Peradaban

Kematian perahu layar ini, juga sekaligus memberikan gambaran kepada kita, mengenai ancaman industri 4.0, game berbasis algoritma, big data dan artificial intelligence. Tenaga angin yang tergantikan oleh mesin, memberikan ruang kematian kepada terangkan layar sebagai simbol peradaban.

Selanjutnya, perkembangan teknologi dan informasi, transportasi, sebab perkembangan kecenderungan global untuk melakukan perjalanan, peradaban kita. Jadi hadirnya teknologi digital, harus ditangkap sebagai sebuah peluang untuk memanfaatkan  berbagai icon masa lalu, sebagai produk wisata terutama untuk tempat selfie bagi para pengunjung di sebuah kawasan wisata. Pemerintah kota Makassar mampu memanfaatkan ruang ruang budaya mereka di masa lalu, untuk merebut peradaban mereka hari ini dan masa depan.

Lalu bagaimana dengan Wakatobi Buton, bisakah jejak peradaban masa lalu itu dapat dijadikan sebagai simbol atau ikan di ruang publik merdeka hari ini? Di Marina beach Wakatobi menghadirkan sebuah perahu karoro atau boti, sebagai museum kemaritiman Wakatobi, atau bisa juga sebagai ikon (su001).

Baca juga Keragaman Kuliner dan Inovasinya: Dapat Menjadi Produk Unggulan Wakatobi di Bidang Kuliner

Paus Mati di Wakatobi: Alaram Ke Masyarakat Global tentang Sampah dan Masa depan Kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *