Hutan (Motika) Bungi terancam Hilang (bagian 3)

97a0761d-f31d-44e4-b15f-65c1bad70784
Ilustrasi 

Oleh karena itu, hutan atau motika Bungi sebenarnya dapat dikembangkan dengan melakukan pengembangan mitos dan transformasinya, yaitu mengubah mitologi itu menjadi lebih rasional, yaitu menjadikan hutan ini sebagai hutan wisata atau forest tourism yang di dalamnya dapat dikembangkan berbagai jenis produk wisata, misalnya wisata obat tradisional (apotik hidup) (pengobatan gula dari kulit pohon tomboro, pengobatan darah tinggi dari kulit kalumpa, serta berbagai jenis obat lainnya. Kita dapat mengembangkan produk-produk kecantikan dari kau melangka, kita dapat mengembangkan jamur, dan lain sebagainya.

Baca Juga Hutan (Motika) Bungi Longa: Terancam Hilang (Bagian 1)

Tentunya, sebagai hutan wisata, motika bungi memiliki produk-produk wisata seperti ruang lari di tengah tumpukan oksigen alami. Ini hanya memerlukan akses dan keinginan politik pemerintah daerah kabupaten Wakatobi, keinginan politik sara kadhia Wanse, serta keinginan politik masyarakat Longa. Sebab kalau hutan ini di rambah, semua produk wisata hutan ini langsung hilang dan masyarakat Longa akan kehilangan pasar wisata mereka di masa yang akan datang. Dengan pengelolaan yang baik, ini akan menjadi sumber pendapatan masyarakat Longa dan pemerintah kabupaten Wakatobi.

Oleh karena itu, upaya untuk melestarikan hutan bungi ini merupakan upaya yang harus dilakukan oleh generasi muda Longa (IPPML), karena tanpa hutan ini, kita akan meninggalkan generasi kita sebuah sejarah kegagalan kita mengenai ketidakmampuan kita mewariskan mereka berbagai jenis tanaman dan burung yang ada di hutan ini. Pada tiga decade yang lalu, orang Longa masih mengenal kosa kata aho yang artinya menjaga kebun jagung dari hama kakak tua hijau dan kakak tua putih (kea-kea). Saat ini sudah tidak ada jejaknya, artinya burung ini sudah tidak ada, artinya ini adalah kelenyapan burung yang pernah ada di lingkungan ini. Beberap jenis burung lainnya dalam kua kangka (burung elang) raksasa, tutui, kangka, kopute, hune, kalirihu, ma’a, waitao, sui, tuntualo, parakohau, guriti, koso, ma’a kowu-kowu, sangke, dan wokira. Semua jenis burung ini nyaris hilang dari kehidupan hari ini. Artinya dari sekian banyak burung itu, sudah tidak dikenal oleh generasi Longa dan Wakatobi hari ini. Pada hal, penelitian Wallacea yang menginspirasi teori evolusi Charles Darwin yang terkenal itu merupakan jurnal dari hasil penelitian mereka di sekitar garis Wallacea yang di dalamnya ada kepulauan Wakatobi.

Baca Juga Hutan (Motika) Bungi terancam Hilang (bagian 2)

Teori Darwin yang mengatakan bahwa Manusia berasal dari laut, memiliki hubungan dengan mitos manusia yang berasal dari wangaru atau kerang, asal usul Sutinya yang merupakan manusia pertama di Tomia, dan juga asal usul Sagori yang merupakan manusia pertama yang ada di pulau Sagori Kabaena.

Dengan demikian, isu motika Longa, bukan hanya kepentingan masyarakat Longa, sara kasia Wanse, dan pemerintah kabupaten Wakatobi, tetapi merupakan kebutuhan masyarakat dunia, terutama hilangnya beberapa spesis tamana dan burung dan hewan yang ada di hutan itu (su001).

Baca Juga

Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 2)

Perpustakaan Desa Sombu: Kunci Menuju Peradaban Modern (Bagian 1)

Kepercayaan Rakyat: Aspek Penting dalam Kepemimpinan

Desa Wisata Kulati Memiliki Fasilitas Home Stay yang Layak Huni

3 thoughts on “Hutan (Motika) Bungi terancam Hilang (bagian 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *