Hutan (Motika) Bungi Longa: Terancam Hilang (Bagian 1)

m.@rdin lovers0000.3gp_000028298
Hutan (Motika) Bungi Longa yang terancam hilang

Longa Wakatobi – Peradaban Buton bukan hanya mengatur masalah kehidupan manusianya, tetapi juga hubungan manusia dengan alamnnya.  Dalam sejarah peradaban Buton, banyak istilah atau konsep konservasi yang ada di dalam masyarakat. Salah satunya adalah motika atau hutan tropis. Ini semua dilindungi untuk masa depan generasi. Di samping itu, hutan adalah rumah bagi marga satwa yang juga adalah potensi masa depan. Albert Einstein pernah mengkhawatirkan lenyapnya kumbang dari muka bumi, dan itu menurutnya adalah ancaman bagi kehidupan manusia. Bagaimana kalau hutan sebagai ekosistem banyak kumbang itu kita enyahkan dari peradaban kita? Tentunya masa depan bumi, sudah semakin nyaris tak dapat kita wariskan kepada generasi mendatang.

Hutan (motika) Bungi desa Longa kecamatan Wangi-Wangi merupakan hutan adat yang berada di bawah kekuasaan wilayah kadhia Wanse. Dalam konteks kecamatan berada di wilayah kacamatan Wangi-Wangi kabupaten Wakatobi. Hutan ini sudah dalam ancaman serius, sehingga semua pihak terkait harus turun tangan, baik sara kadhia Wanse, pihak kecaamatan, dinas terkait, termasuk pihak Taman Nasional Wakatobi, Polres Wakatobi, serta Dan Ramil harus meluangkan waktunya untuk hadir di hutan ini, sebagai bentuk apresiasi untuk generasi mandating, tempat sang kumbang berada.

Baca Juga Air Jatuh La Wele: Potensi Pengembangan Pariwisata Desa

Di dalam budaya masyarakat Buton juga akan memberikan gelar bagi para pemangku kepentingan yang gagal mengamankan asset daerah, yang di dalam konteks budaya kita disebutkan sebagai gelar yang akan disematkan atas kejahatan yang dilakukannya. Maka ada banyak gelar yang akan disematkan kepada mereka yang lalai dalam melakukan kewenangannya, mulai dari desa dan perangkatnya, camat dan perangkatnya, serta sara kadhia dan perangkatnya terancam akan tercacat oleh sejarah sebagai masa huruhara motika, dimana kita biarkan motika hilang di tengah kuasa kita. Kita masih tetap tidak peduli terhadap lingkungan kita.

m.@rdin lovers0000.3gp_000013897
Kondisi Kerusakan Hutan yang dilakukan oleh Oknum

Walhi Wakatobi juga saatnya untuk turun lapangan, mengingat hutan ini adalah satu-satunya ekosistem burung maleo Wakatobi, serta pabrik oksigen kita, yang tentunya akan berdampak pada kehidupan masa depan generasi. Oleh karena itu, seluruh pihak terkait, sudah saatnya untuk merapatkan barisan agar hutan (motika) Longa dapat diselamatkan.

Di tingkat perencanaan pembangunan desa, bersama pendaamping desa, hendaknya melakukan intervensi melalui pembangunan jalan lingkar seperti motika Mandati, yang sudah selamat setelah diberikan jalan lingkar. Tentunya ini memerlukan keseriusan pihak PU, pendamping desa, serta pihak kehutanan untuk bersama-sama menyelamatkan hutan (motika) bungi ini dalam waktu secepat mungkin.

Baca Juga Lanskap Daragundi: Potensi Wisata Alam Po’okambua

Kemarin sore, bersama Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Longa (IPPML) sudah melakukan diskusi untuk merencakan kebun Raya Mini sebagai alternative penyelamatan hutan ini. Konsep wisata hutan akan menyelamatkan hutan ini sebagai ruang konservasi modern. Oleh karena itu, pihak Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kratif Kabupaten Wakatobi dapat memberikan intervensi program, sebagai wujud pengembangan pariwisata desa Longa.

Tentunya, perlu berbagai konsep yang harus dilakukan, untuk menyelamatkan ekosistem kumbang yang dikhawatirkan oleh Albert Eisntein, ekosistem Maleo dan burung lainnya, serta ruang public yang menyediakan oksigen yang segar. Oleh karena itu, pembangunan ruang public atau mungkin dalam konsep pariwisatanya adalah forest tourism secepatnya dilakukan secara bersama-sama. Sebab kalau terlambat, ini akan berdampak pada masa depan hutan ini, dan masyarakat desa Longa dan kadhia Wanse akan kehilangan ruang konservasi mereka (su001).

Baca Juga Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 1)

Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 2)