HULUBALANG Bernapas Busuk (Sebuah Fiksi) bagian 1

Penulis: Sarjono Amsan

Ada sebuah Negeri di Afrika:

Diperintah oleh Raja “bijak”. Memelihara 3.500 hulubalang (3,2%) dari jumlah penduduk 92 ribu.

Dari 3,2 persen ini menghabiskan anggaran kerajaan itu hampir 40 persen (400 M) utk menghidupi makan dan minum mereka. Dari 3,2 persen para hulubalang ini lalu mengerjakan proyek, yang mereka sebut prestasi, yang menghabiskan 30 persen (300 M) lagi dari dana kerajaan. Bahkan sebagian menyebut hanya 20 persen (200 M) yang mereka jadikan proyek infrastruktur dan proyek jadi-jadian lainnya utk rakyat.

Sisa 30 s.d 40 persen, ditarik sebagai fee dan pajak untuk menghidupi keluarga kerajaan.

Para hulubalang kerajaan yang masih menikmati fasitas kenyamanan seperti perjalanan dinas, beasiswa pendidikan, dll menantang 96,8 persen rakyat kerajaan itu “berprestasi” untuk kerajaan itu.

Hehehe. Pertanyaannya, apa prestasi mereka selain menghisap sumber daya kerajaan itu? “Mulut” mereka dan para mandor yang diutusnya untuk menutupi kebobrokan kerajaan itu, sepertinya tidak bisa menutupi angka-angka penghisapan dan ketidakadilan distribusi sumber daya itu.

Semakin kencang para hulubalang ini berteriak, menuntut prestasi rakyatnya yang 96,8,%, maka semakin busuk data-data ketimpangan ini berhembus.

(Para hulubalang bernapas busuk itu suka petatang-petenteng menantang rakyatnya, membuat citra raja yang busuk semakin busuk pula).

……………………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *