Hipmawangi Kendari Pentaskan Naskah Drama Di Bawah Bayang Bayang Ode

Salah satu implementasi dari kuliah merdeka adalah adanya aktivitas mahasiswa di luar kampus atau di luar kelas. Sebelum ada kuliah merdeka yang dicanangkan oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republika Indonesia, berbagai aktivitas mahasiswa di luar kelas hampir tidak pernah dinilai. Namun, adanya konsep kampus merdeka, seluruh aktivitas mahasiswa di luar kelas dapat dijadikan sebagai indikator dalam penilaian mengenai kesuksesan mahasiswa dalam perkuliahan.

Salah satu kampus merdeka yang ada dan tumbuh dalam kehidupan mahasiswa adalah adanya organisasi organisasi kemahasiswaan. Selama ini hanya dianggap sebagai bagian untuk mematangkan aspek psikologis dan keorganisasian mahasiswa. Tapi dengan adanya kampus merdeka, berbagai aktivitas kemahasiswaan sudah dapat dinilai sebagai bagian dari program mata kuliah yang ditempuh oleh mahasiswa di luar kelas.

Himpunan Mahasiswa Wangi-Wangi Kendari (Hipmawangi Kendari), di saat liburan di Wakatobi, mereka memiliki aktivitas yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai salah satu program dari kampus merdeka. Dalam rangka pementasan budaya kesenian dan kuliner di Marina beach Wakatobi, Hipmawangi Kendari akan mementaskan drama yang berjudul Di Bawah Bayang-bayang Ode karya Tanti Nur Wulandari dan karya dan teman-teman yang dimodifikasi dari novel Di Bawah Bayang-bayang Ode karya Sumiman Udu. Pementasan ini akan dilakukan pada tanggal 16 Februari 2020.

Ini adalah proses dimana mahasiswa sudah mulai dimasuki era industri ekonomi kreatif, karena ini adalah karya seni yang tentunya sangat penting untuk pengembangan kebudayaan dan ekonomi kreatif di dalam masyarakat Wakatobi.

Dalam konteks kuliah merdeka atau kampus merdeka, partisipasi mahasiswa dalam dunia nyata seperti ini perlu diapresiasi sebagai bagian dari perkuliahan yang harus mereka tempuh selama 2 semester atau bahkan 3 semester di luar kelas. Hipmawangi sebagai organisasi kemahasiswaan dan berbasis kekeluargaan perlu diapresiasi, karena sebenarnya mereka telah memberikan kontribusi dalam pengembangan kebudayaan dan ekonomi kreatif di kabupaten Wakatobi.

Himpawangi Kendari: Kembali Memberi Bantuan ke Siswa SD Topanuanda

Untuk itu, salah satu persoalan dalam pengembangan ekonomi kreatif terutama dalam dunia seni adalah kurangnya apresiasi masyarakat untuk menonton dan menghargai karya karya seni. Tentunya, bisa mengembangkan karya seni mahasiswa dan generasi milenial, pemerintah daerah minimal memberikan apresiasi dalam bentuk pembelian tiket. Karena dengan membeli tiket untuk datang menonton, arti memberi kesempatan dan semangat kepada generasi milenial untuk lebih banyak dari kreativitas.

Kita jangan dulu bicara tentang kualitas, tapi kita harus bicara tentang keberanian dan keinginan untuk berkreativitas. Ini yang perlu diapresiasi. Untuk itu, generasi milenial masyarakat Wakatobi harus datang untuk menyaksikan pementasan naskah drama ini.

Asrun Lio, Silaturahim ajang Untuk Membangun Sinergisitas Antarlembaga

Naskah drama Di Bawah Bayang-bayang Ode yang merupakan modifikasi dari novel Di Bawah Bayang-bayang Ode akan menceritakan tentang perjuangan seorang wanita untuk mempertahankan cintanya yang terhalang oleh adat dan budaya. Amalia Ode mampu mempertahankan gagasan-gagasannya untuk melawan adat dan budaya, tetapi secara fisik yang tidak berdaya menghadapi ibunya yang menggunakan kemampuan untuk menaklukkannya. Sementara kekasihnya Imam, tidak berdaya apa-apa untuk menghadapi dan memperjuangkan cintanya.

Keduanya rela mengabadikan diri mereka dalam ikatan cinta suci, dan itu tentu melanggar adat dan budaya mereka, tetapi dengan demi cinta suci mereka semuanya dilakukan dengan ikhlas.

Perpisahan tidak dapat dielakan, Amalia Ode harus menikah dengan lelaki lain pilihan orang tuanya. La Ode Halimu, lelaki dari keluarga bangsawan dan keluarga berada, tetapi tidak menghargai perempuan dan cinta. Dia bahkan tidak mengerti apa arti dari sebuah cinta. Akhirnya ia hanya mendapatkan tubuh Amalia Ode, dan yang tidak mendapatkan jiwanya. Sementara Imam yang tidak berdaya, mendapatkan jiwa Amalia Ode, tetapi dia kehilangan tubuhnya.

Tokoh-tokoh yang ada dalam drama ini berada dalam dunia pendidikan yang dalam, Amalia Ode mati tanpa sakit sesuai dengan keinginannya ketika ia diminta untuk menikah oleh keluarganya. “Satu pesan ke ibu kalau suatu saat nanti lahiran aku jangan titipkan kata Ode di depan namanya, namai saja dia Anastasia, nanti sejarah lagi akan memberikan dampak itu di depan namanya kalau memang itu perlu”. Dan ingat jika suatu saat nanti lahiran aku rawatlah dia baik-baik Dan peliharalah dia baik-baik karena bisa jadi ia adalah pengganti itu diadakan ayah dan bunda serta budaya kita.

Kematian Amalia Ode, merupakan pukulan telak bagi ibunya dan atas penderitaan ditinggalkan oleh anak kesayangannya, ibu Amalia Ode mengubah cara mendidik cucunya. Hingga akhirnya Anastasia mendapatkan kebebasan sehingga dia menjadi perempuan yang hebat.

Datanglah dan saksikan karya mahasiswa yang akan dipentaskan pada tanggal 16 Februari nanti, sebagai kado hari Valentine yang akan menyajikan tentang kisah cinta yang terlarang oleh adat itu.

EDUWISATA: Salah Satu Metode Memahami Budaya

Icon Perahu Pinisi: Simbol Maritim di Pantai Losari

Festival Benteng Tindoi Maleko: Mendorong Pariwisata Desa dalam Merawat Alam

ย 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *