HILANGNYA BUDAYA MALU, LAMPU KUNING KEWIBAWAAN DESA

Oleh: La Ode Yudi Rizal
Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia, yaitu suatu kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang bertentangan dengan aturan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga dia ingin menutupinya. Kesadaran tentang pentingnya menutupi penyimpangan tersebutlah yang kemudian melahirkan rasa malu. Ia berkembang menjadi kebiasaan yang positif, bukannya terus berbuat salah sembari terus menutupinya. Tapi ia menjadi tekad untuk tidak mau lagi berbuat salah atau menyimpang.

Jika alur maju mundurnya tabiat tersebut pada diri seorang individu berkembang terjadi pada komunitas masyarakat, ia barulah dapat disebut budaya. Sekarang kata ini (budaya) seolah menjadi harta qarun incaran baru. Banyak kemajuan kemajuan atau kemewahan yang diraih dengan kata budaya. Anehnya banyak hal di sekeliling kita, masyarakat desa yang dengan mudahnya dapat disandingkan dengan kata itu tapi tidak lantas menjadikan lingkungan kita meraih kemajuan, kemewahan apalagi kewibawaan layaknya negara-negara modern hari ini yang desa-desanya pandai memenej kebudayaan.

Meski banyak yang perlahan hilang dalam budaya kita dari segi karya, namun sejatinya laksana energi yang hanya dapat berubah bentuk, nilai dari budaya itu sendiri tidak boleh hilang. Disinilah pentingnya kita harus pandai merawat rasa malu, karena rasa malu itulah yang akan merubah wajah budaya menuju kewibawaan atau sebaliknya, menuju keterbelakangan jika kita melakukan proses pembiaran.

Sebagai komplikasi dari tulisan ini, kami suguhkan beberapa fakta layaknya lampu kuning yang terjadi di sekitar penulis. Secara beruntun, berikut perilaku menyimpang yang masih dipraktekkan di lingkungan ibadah, lingkungan adat dan lingkungan masyarakat;
Di lingkungan beribadah, tak jarang kita jumpai kebiasaan jamaโ€™ah sholat Jumโ€™at yang enak bercerita baik di dalam mesjid atau di teras luar, terlebih tentunya yang memilih bertahan di parkiran sembari menunggu khatib selesai. Pada hal berbicara saat khatib berkhutbah sangat jelas hukumnya.

Di lingkungan adat, prosesi pelamaran seolah hanyalah serimonial orang tua tanpa dipahami anak-anaknya dalam hal mencari jodoh. Pada hal nilai yang terkandung di dalamnya sangat luhur dan penuh kehormatan, sehingga inilah yang dipakai generasi terdahulu. Dimulai dari proses bertanya, apakah sudah ada yang pernah datang sampai orang tua dari pihak laki-laki bertanya kepada orang tua pihak perempuan apakah sang gadis mau menerima lamaran atau tidak, semua dilalui dengan rapi dan bisa memakan waktu beberapa minggu. Kini proses itu tetap terjaga namun hanya pada kalangan pemangku adat. Sedangkan kalangan generasi muda sekarang lebih ahli dalam proses mencari jodoh ala drama Korea atau Barat sehingga tak jarang saat prosesi pelamaran berlangsung, si gadis yang hendak dilamar sudah dalam kondisi hamil. Adat kita yang kita tidak jaga atau peduli, karena kita tidak malu lagi

Di lingkungan masyarakat, ritual meramaikan kebersamaan baik dalam nuasa suka maupun duka seolah melegalkan kita untuk mengganggu kenyamanan publik. Jalan raya dipalang, polusi musik menggema bahkan secara beruntun tak berjauhan jika acaranya bertepatan atau berurutan waktu dengan tetangga. Si perokok yang hadir mana mau menghentikan rokoknya demi menghormati tamu lain yang tidak merokok.

Semua contoh kecil dari komplikasi di atas tentu sekali lagi lahir dan terjadi karena hilangnya budaya malu. Terakhir, sebagai tawaran resolusi tulisan ini, penulis hanya bisa mengajak kita semua agar dimana saja kita berkarya terutama dalam skala kehidupan di pedesaan atau kelurahan dapat menjadikan ini sebagai isu penting. Prioritaskanlah di ruang-ruang diskusi, agar pembagunan desa tidak hanya melahirkan kemolekan fisik dan keindahan untuk selfi semata tanpa kewibawaan.

Editor: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *