Hikayat Daduwali: Epos Benteng Bombonawulu

Oleh: La Yusri

Belum banyak yang tahu, bagaimana benteng ini dibangun.  Namun tahun lalu saya ke sana. Terbayang di pikiranku, andaikan benteng ini bisa dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber PAD daerah Kabupaten Buton Tengah.

Benteng yang penuh dengan sejarah ini, dibiarkan untuk tidak berdaya begitu saja. Pengelolaan dan promosi yang tidak pernah dilakukan. Padahal, masyarakat Buton khususnya anak anak sekolah bisa belajar sejarah dari benteng itu. Cinta, pengkhianatan, perjuangan, kecurangan, sampai kisah heroisme pemberontakan dapat dipelajari dalam sejarah benteng ini.

Dalam kekosongan suara itu, catatan La Yusri dalam laman Facebook nya, merupakan titian untuk membuka sejarah benteng ini.  Dalam tulisannya mengenai epos ini, menyadarkan saya pada sejarah panjang hubungan Buton Ternate, sebuah hubungan sekutu seteru yang  indah. Kudeta, , perlawanan, cinta, semua terjadi dalam latar cerita benteng Bombonawulu.

Orang Wolio, melihat Bombonawulu sebagai pemberontak, sementara dari sisi Bombonawulu, mereka melawan pajak yang sewenang-wenang, belum lagi dari Wakatobi, perang penaklukan yang menghasilkan banyak hadiah.

Baca Juga UMU Buton: Solusi Generasi Milenial untuk Menempa Dirinya Menjadi Pribadi Tangguh

Demikian epos pendek tulis La Yusri ini, jejak Bombonawulu yang mulai tersingkap.

***”

HIKAYAT Daduwali adalah epos pendek yang mengisah dengan baik sekali bagaimana mulanya Sangia Daduwali di Bombonawulu dibangun.

Sangia Daduwali adalah sentrum ritual dan situs keramat paling disakralkan dalam benteng Bombonawulu. Narasi mengenaninya dibangun memakai kronik dengan tokoh-tokoh mistis yang dimitoskan.

Ada banyak yang menarik di sana, terutama terkait kedekatan Sangia Daduwalu Bombonawulu dengan Tidore di utara Maluku.

Relasi dekat Tidore–Sangia Daduwali Bombonawulu itu seperti mengafirmasi mitos Bikusagara di Jailolo dan Tidore yang mengisahkan mengenai empat “Telur Naga” yang menetas dan kemudian menitiskan raja-raja di empat negeri: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Buton.

Menurut Hikayat Daduwali, Batu-batu yang dipakai membangun benteng di Sangia Daduwali Bombonawulu diambil dari Tidore, di bawa oleh La Rahmani dan Wa Ine-Ine memakai kapal yang dinamai Wangkululi.

La Rahmani adalah putra raja Tidore yang diusir keluar karena berlaku tak senonoh terhadap Wa Ine-Ine, perempuan jelita yang kemudian diperistrinya.

La Rahmani menjadi tokoh yang menemukan tokoh lainnya yang kemudian segera tokoh temuannya itu menjadi figur bahasan utama dalam hikayat Daduwali.

Baca JugaITB Menyematkan Doktor Honoris Causa untuk Jusuf Kalla: Sebuah Apresiasi yang Menginspirasi

Dia, tokoh temuan itu adalah La Mbolitawa namanya, anak lelaki kecil yang diambil La Rahmani dalam sela serumpunan buluh gading (bambu).

Karena diambil dari “dalam bambu” itu, dinamailah kemudian sebagai Beteno Ne Wulu, atau Beteno Ne Tombula–Dia yang lahir dari bambu.

La Mbolitawa atau Beteno Ne Wulu kemudian menikahi perempuan yang kedatangannya juga misterius, ia disebut keluar dari sebiji buah kelapa, dinamai perempuan aneh itu Wa Kulipopota atau dalam nama lainnya Wa Suali Dunia.

Lahirlah delapan orang anak-anak mereka, seorang saja berkelamin perempuan, dan tujuh lainnya lelaki kesemuanya belaka.

Para anak yang lelaki itu kelak menjadilah para Sugi, berturutan mereka menjadi penguasa Sangia Daduwali di Bombonawulu.

Mereka yang mulia para Sugi itu: Sugi Ali Taea, Sugi Lawondu, Sugi Palola/Patola, Sugi Patani, Sugi Laende, Sugi Manuru (Randa Suasa/Ali Muruhumu), Sugi Tololo (La Kilaponto).

Paling tidak begitulah kesan bisa dicatatkan setelah membaca bagian awal dari hikayat ini.

Pada Lembar paling akhir dari salinan tulis tangan Hikayat Daduwali ini tertera tanda tangan Raja Muna, La Ode Dika (Omputo Komasigino).

Mungkinkah “sign” dari yang mulia Omputo Komasigino itu adalah semacam penerimaan/persetujuan beliau terhadap isinya?

Catatan: Suatu Waktu saya akan menulis novel berlatar Benteng ini.

Baca Juga Rusiana Kalambe Binongko: Lagu Wakatobi yang Menggoyangkan Jakarta

UMU Buton, Siapkan Beasiswa Hafizh Quran untuk Pemimpin Masa Depan

Surat Putih Serly untuk Presiden Jokowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *