Hesuwui Sawara: Konsep Pengobatan Tradisional untuk Melindungi Kampung dari Wabah Penyakit

Kebudayaan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang berbagai cara untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan. Salah satu warisan budaya yang yang dapat ditemukan pada masyarakat Wakatobi adalah tradisi hesuwui sawara yang dilakukan di masjid untuk menolak bala atau wabah yang melanda kampung. Jika mereka mengetahui bahwa ada wabah penyakit yang ada di kampung sebelah mereka akan membatasi kampung mereka dengan mantra. Selanjutnya orang-orang tua akan rapat untuk membicarakan bagaimana mereka melindungi kampung mereka dari wabah penyakit seperti virus.

Di zaman dahulu, masyarakat tradisional Wakatobi, jika ada kabar atau penyakit yang akan menyerang sebuah kampung, tokoh-tokoh adat akan berkumpul di masjid untuk membicarakan tentang cara untuk menangkal wabah yang sedang terjadi. Biasanya mereka akan menunjuk seorang pawang untuk membatasi kampung mereka dengan cara menggaris. Cara melindungi kampung seperti ini juga dapat dilakukan jika terjadi flu burung pada ayam. Orang-orang tua di kampung dapat menangkal flu burung pada ayam hanya dengan memberikan garis pada tanah. Anehnya, kalau lokasi itu sudah di garis, maka semua ayam yang ada di dalam zona perlindungan akan aman dari flu burung tersebut. Walaupun ayam ayam itu bercampur dengan ayam yang sedang flu dan berada diluar garis.

Jika bapak itu menyangkut tentang kesehatan manusia, apa menyangkut tentang hama dan penyakit tanaman, seperti ulat atau belalang yang banyak dan sudah merusak tanaman masyarakat, mereka juga dapat mencari wilayah penyebaran ular atau belalang. Suatu waktu, terjadi serangan belalang yang sangat luar biasa, dan orang tua yang menjadi pawang itu menggariskan wilayah perlindungan untuk melindungi tanaman masyarakat. Aneh tapi nyata, hampir seluruh tanaman yang ada di luar garis sudah dihabiskan oleh belalang yang jumlahnya jutaan, sementara yang di dalam garis tidak terjadi apa-apa. Ini aneh tapi nyata.

Doa Tolak Bala di Mesjid Desa wisata Sombu Wakatobi

Biasanya kalau sudah terjadi wabah seperti itu, orang-orang tua akan berdoa di masjid. Mereka akan memilih hari yang baik untuk melaksanakan tradisi sawara atau mandi bersama. Orang-orang tua diberi kesempatan untuk berdoa para air yang sudah dipersiapkan di dalam guci mesjid. Lagu seluruh masyarakat diberi kesempatan untuk duduk, kalau disiram dengan air melalui beberapa jenis daun yang disimpan di dalam air tersebut. Semoga masyarakat menunggu itu untuk dibawa pulang, mereka menggunakan air doa itu sebagai ruang perlindungan.

Waktu kecil, beberapa kali tradisi ini saya ikuti, terutama jika terjadi wabah yang ada di kampung, seperti wabah belalang, wabah ulat, atau wabah flu burung menyerang ayam. Beberapa tahun terakhir tradisi ini dilakukan di desa Tindoi, khususnya di masjid Seru desa Tindoi. Banyak yang hadir saat itu, laki perempuan, anak-anak, dewasa semua hadir dalam tradisi tersebut.

Lalu bagaimana dengan kecemasan virus korona? Mungkinkah kondisi seperti itu bisa dilakukan di era modern? Ya, soal kepercayaan dan keyakinan. Bagaimana leluhur kita nonton mengisolasikan kampung melalui ritual doa. Lalu mandi bersama sebagai simbol mensucikan kampung, setelah mandi bersama, diadakan doa bersama. Doa pertama yang dibacakan adalah doa tolak bala, lalu doa meminta keselamatan.

Ritual seperti ini, digunakan untuk melindungi sebuah kampung dari wabah yang sedang berkembang. Ada baiknya ritual ini dilakukan lagi di masjid-masjid di seluruh Indonesia, terutama pada masjid-masjid yang ada di desa. Melakukan ritual mandi bersama atau mandi sawara, lalu baca doa tolak bala, doa keselamatan.

Mungkin ritual ini tidak ada hubungannya secara medis, tetapi ini soal tradisi dan kepercayaan, namun ada baiknya, seluruh babak yang ada di dunia ini kita kembalikan kepada takdir Allah tentang takdir Tuhan yang maha kuasa. Dia yang menghadirkan wabah Corona, Dia pula yang mampu melindungi masyarakat. Sebuah ritual yang bisa dilakukan setiap masjid di kampung-kampung, atau bahkan di kota, yaitu mandi bersama yang merupakan simbol kebersihan diri secara bersama-sama. Pembersihan physical, pembersihan pikiran dan pembersihan hati.

Mandi sebagai simbol untuk membersihkan seluruh tubuh, perlu dilakukan secara bersama-sama sebagai upaya untuk membersihkan diri atau membersihkan fisik. Doa tolak bala, merupakan upaya untuk membersihkan diri dari berbagai dosa-dosa yang telah kita lakukan, untuk merefleksikan berbagai jenis kegiatan yang kita sudah lakukan, mungkin kita pernah berbuat di luar jalur-jalur yang normal yang sesuai dengan hukum alam. Mungkin saja kita pernah berdua dan merusak alam, atau memakan hal-hal yang diharamkan oleh ajaran agama, tebakan burung-burung yang liar yang tidak layak secara kesehatan. Kita menyadari itu dalam doa tolak bala, refleksi segala kesalahan kita, kesalahan dalam bentuk tindakan fisik kita, kesalahan dalam hal berpikir kita, terlalu banyak sakit hati, iri hati, benci, sehingga kita dirundung oleh duka.

Di akhir, doa adalah doa keselamatan, disini kita menyerahkan diri pada permohonan dan pengharapan kepada Tuhan, agar kita dilindungi dari berbagai tindakan kejahatan, baik sebagai dampak dari apa yang pernah kita lakukan, atau memang dari ujian yang kita tidak dapat pikul. Doa keselamatan adalah doa untuk penyerahan diri manusia kepada Tuhan dan sekaligus doa pengharapan agar manusia dilindungi oleh Tuhan atau Allah subhanahu wa ta’ala dari berbagai jenis penyakit termasuk wabah yang sedang terjadi.

Mungkin saja tradisi ini dapat dilakukan secara bersama-sama, di seluruh masjid-masjid yang ada, sebagai upaya untuk membangun kesadaran bersama baik dari sisi untuk menjaga kebersihan kampung, maupun untuk menyelamatkan kampung lahir dan batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *