Hepatirangga: Ruang Jodoh dan Pengobatan Alternatif

patirangga
daun patirangga dan Jari-jari gadis

Dalam tradisi masyarakat Wakatobi, mereka mengenal tradisu hepatirangga atau daun pacar. Mereka mengenal tradisi ini sebagai tradisi tahunan, yaitu setiap memperingati tanggal 27 Ramadhan. Mereka mengenal malam itu dengan malam Kadhiri’a atau Olomia Kadhiri. Mereka menyambutnya dengan berbagai hiruk pikuk kemenangan setelah hampir di ujung Ramadhan. Sepulang shalat tarawih, mereka akan berangkat ke rumah teman atau pobhawa untuk hapatirangga.

Baca Juga Legenda Cinta Sedarah, Kampung yang Tenggelam

Patirangga atau banyak juga orang mengenalnya sebagai Henna  (Lawsonia inermis). Patirangga banyak dijumpai di seluruh Indonesia. Dalam kebudayaan Wakatobi, patirangga banyak digunakan dalam momentum akhir Ramadhan. Dalam berbagai referensi, ditemukan bahwa patirangga juga bersifat obat. Bahkan Ibnu Qayyim mengatakan bahwa “Ketika sakit kepala dikala terik panas yang membakar, daun pacar atau henna leaves atau Lawsonia inermis memiliki manfaat yang sangat nyata. Bila ditumbuk dan diaplikasikan pada dahi sebagai ganti dengan cuka, ini bisa menenangkan sakit kepala. Tidak secara khusus untuk sakit kepala saja tetapi pada umumnya untuk semua anggota badan. Kalau ada yang mengeluh kepada dia tentang rasa sakit di kaki, dia mengatakan mereka ‘mengurapi diri dengan pacar’ (HR Abu Dawud, Tarajjul, 188, 19; Talaq 46).

Baca Juga Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Dalam referensi yang lainnya, daun pacar juga berguna untuk obat pada kakinya. Di zaman Rasullullah setiap orang sakit kepala, selalu di bekam dengan dengan patirangga. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Salma, pembantu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berkata bahwa “Setiap kali ada orang mengeluh sakit kepala kepada Rosululllah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, Beliau selalu bersabda kepadanya : “Berbekamlah!” dan setiap kali ada orang mengeluh sakit pada kakinya, beliau selalu bersabda kepadanya : “balutlah dengan henna(inai)”. (Riwayat Ahmad 6/462, Abu Daud no.3858, At-Tirmidzi 6/213, Ibnu Majah no.3502, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/206,407, Al-Baihaqi dalam Sunannya 9/339. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no.2059).

patiranggaa
Tradisi Hepatirangga sebagai ruang jodoh

Selanjutnya, Salma juga mengatakan bahwa “Aku pernah menjadi pembantu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Setiap kali Beliau terkena infeksi (borok) atau luka, Beliau selalu menyuruhku membalutnya dengan henna (inai)”. (Riwayat At-Tirmidzi pada kitab Ath-Thibb, Bab At-Tadawi’ bil Hinna, no.2055 dan Ibnu Majah pada kitab Ath-Thibb, no.3502 dari Salma Ummu Rafi’, pembantu Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hadits ini hasan dengan syahid-syahidnya. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no.2059).

Baca Juga Mandi Kembang dan Kacang Jodoh

Sementara itu, Abu Hurairah menyatakan, “Bahwa apabila Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sakit kepala, Beliau membungkus kepalanya dengan henna (inai). Dan Beliau pernah bersabda : “Sungguh ia bisa mengobati sakit kepala dengan izin Allah”. ( Riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Ath-Thibbun Nabawi, hal.45 dan 111, dan Al-Bazzar.Lihat At-Taqrib, hal.25)

Ada juga yang mengatakan bahwa patirangga atau henna memiliki manfaat untuk mengatasi suhu panas yang membara tapi tidak cocok untuk mengatasi materi yang harus dikeluarkan. Di dalam Patirangga atau henna mengandung zat astringent, bagian tubuh yang mengalami pembengkakan yang panas dan membara akan reda bila dibalut dengan henna. Dengan demikian, patirangga memiliki karakter dingin sekali namun juga kering. Kekuatan pohon henna merupakan komposisi dari kekuatan yang berasal dari semacam unsur air yang panas dan stabil, dengan energi pengikat yang berasal dari unsur tanah yang dingin pula.

Dari berbagai riwayat yang telah disebutkan di atas, rupanya tradisi patirangga juga memiliki dimensi pengobatan. Apalagi yang selalu dibungkus dengan daun patirangga adalah ujung jari kaki dan ujung jadi tangan. Itu artinya bahwa akan selalu berhubungan dengan titik refleksi pada bagian kepala. Karena semua ujung saraf yang berada di ujung jari-jari kaki akan berhubungan dengan organ vital seperti otak dan jantung. Dengan demikian, tradisi ini bukan hanya untuk memerahkan kuku, tetapi juga adalah pengobatan alternative yang hanya dilakukan satu tahun sekali.

Tentunya, diperlukan riset lebih lanjut mengenai tradisi hepatirangga, karena di samping dimensi ritualnya, juga mengandung dimensi obatnya. Di sisi yang lain, tradisi ini juga merupakan ruang-ruang khusus bagi mereka yang selama bulan puasa bertemu pada tradisi kacang jodoh. Maka diakhir puasa, biasanya ada acara hepatirangga, ruang cinta yang indah (su001).

Baca Juga

Hutan (Motika) Bungi Longa: Terancam Hilang (Bagian 1)

Hutan (Motika) Bungi terancam Hilang (bagian 2)

Perpustakaan Desa Sombu: Kunci Menuju Peradaban Modern (Bagian 1)

Hutan (Motika) Bungi terancam Hilang (bagian 3)

Bukit Tumada: Destinasi Wisata Tempat Melepas Lelah

6 thoughts on “Hepatirangga: Ruang Jodoh dan Pengobatan Alternatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *