Hari Guru: Mengenang Guru-Guru Kita yang Hebat

IMG_20191125_170918Hari ini, adalah hari guru, hari dimana para pahlawan ini dikenang sebagai sosok-sosok yang mumpuni dalam mencetak masa depan bangsa. Ketika menteri pendidikan Makarim, berpidato tentang sistem pendidikan kita, saya baru tersadar bahwa konsep guru-guru saya waktu SD dulu, mengajari dengan hati, pergi menimba air, mencari kayu bakar, membersihkan kebun guru, merupakan rutinitas setiap semester. Kami menjalaninya dengan tulus, bersenda gurau di kebun guru, menceritakan berbagai peristiwa sambil istirahat di kebun guru,  dan menimba air untuk guru di air goa yang jauh, menikmati  tai minyak kelapa yang dimasak oleh guru, makan bersama di rumah guru, semua itu adalah pengalaman yang tak dapat dilupakan dalam dimensi pendidikan saya yang paling muda, yaitu sekolah dasar.

Baca Juga PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PADA UPACARA BENDERA PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2019

Suatu waktu, seorang guru memeriksa kuku di apel pagi, memeriksa siapa yang tidak mandi pagi, setelah itu ia membawa seluruh murid-murid satu kelas ke sumber mata air untuk mandi bersama. Ia duduk menatap dan tersenyum dari jauh, sesekali ia meminta kami untuk menggosok punggung teman secara bergantian. Satu konsep kolaborasi yang sangat dibutuhkan oleh dunia kerja hari ini. Semua siswa duduk berpasangan untuk saling membersihkan badan masing-masing, sementara guru menyerahkan sabun mandi, yang diambil dari uang sendiri.

Baca Juga Perpustakaan Desa: Titik Awal Membangun Peradaban

Suatu sore, anak kelas 3 sampai kelas 6 pergi membersihkan kebun guru, kebun yang ada di atas tanah orang tua siswa. Guru diberi kesempatan untuk mengolah tanah tanah itu, dan siswa diajarkan untuk membersihkan kebun guru. Ada juga orang orang tua yang datang menyumbangkan tenaga mereka untuk bersihkan kebun guru. Siswa juga membawa stek ubi kayu dan biji jagung sebagai benih. Semua dilakukan, karena kami mencintai guru, dan masyarakat merasa bahwa guru adalah keluarga mereka.

Sebagai siswa tentunya, saya juga teringat pada saat latihan baris berbaris, yang mengajarkan baris-berbaris dengan mistar yang panjang. Siswa yang salah selalu dipukul dengan mistar kayu itu. Tidak ada dendam dari siswa, ia selalu menanamkan satu harapan agar SD kami meraih prestasi di tingkat kecamatan. Guru itu melatih dengan sangat serius, terkadang dia marah, tetapi setiap kali kami selesai latihan, pergi minum air di rumah jabatannya, dia juga terkadang memberikan makanan dan kadang juga membeli es untuk kami anak anaknya. Semua bergembira, bagi kami sangat sulit, waktu itu kami hanya menggunakan lampu minyak untuk belajar. Sebuah pengorbanan dan ketulusan terlihat pada caranya mengajar.

Pada saat-saat tertentu ia juga meminta siswa untuk mengantar kayu bakar ke perumahannya di ibukota kecamatan. Siswa dan orang tua siswa mendayung sampan, mengantar kayu bakar itu, tanpa uang, dan kadang hanya uang jajan dan makanan. Terkadang juga guru itu ikut bersama siswa mendayung sampan, jaraknya sangat jauh.

Kenangan saya juga setuju kepada perpisahan yang ditunggu setiap tahun. Siswa seolah-olah adalah mereka yang paling hebat. Setiap tahun orang tua siswa beramai-ramai membuat makanan, liwo, sebagai rasa syukur atas keberhasilan siswa atau anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar negeri Longa. Dalam pesta itu, orang tua siswa dan anak-anak sekolah beramai-ramai menyumbangkan makanan untuk para tamu. Ada juga yang menyumbang satu liwo, sebagai tanda terima kasih kepada sekolah dan seluruh guru-gurunya.

Setiap hari Senin, guru juga memeriksa, kehadiran di masjid, guru menghukum siswa yang tidak hadir ke masjid, mereka mengajar seperti mengajar anak mereka sendiri. Dengan pakaian yang kadang basah ketika musim hujan, karena hanya menggunakan daun pisang untuk pergi ke sekolah. Guru selalu tersenyum dan berusaha untuk memberi kesempatan untuk belajar. Terkadang juga guru harus selalu mengantar pulang anak-anak kelas 1 sampai kelas 3 di kampung sebelah terutama kalau ada isu potong-potong. guru juga memberi kesempatan kepada anak-anak yang tidak membawa sepatu, terkadang ada anak yang tidak punya sendal, mereka juga memberi kesempatan untuk masuk kelas.

Yah, hari ini adalah hari guru yang diperingati secara nasional, siapa pun akan mengingat mereka mereka yang pernah berjasa membentuk karakter dirinya, yaitu guru-guru mereka yang hebat.

Dalam pidatonya, mentri pendidikan kemudian menerapkan adanya kemerdekaan pendidikan. Kemerdekaan pendidikan, sebuah kata yang sulit dipahami tetapi akan kita lebih paham kalau kita memahaminya bahwa pendidikan adalah proses membangun karakter untuk calon pemimpin generasi masa depan. Anak-anak desa lebih bebas, mereka memiliki literasi yang luas pada alam semesta, mereka pergi ke kebun, mereka pergi melaut, mereka bermain perang-perangan keluar masuk hutan. pengetahuan mereka tentang alam jauh lebih kuat daripada anak-anak yang setiap hari ikut les di tempat kursus kursus yang hebat di kota.

Baca Juga Dedikasi Akademik Prof. Dr. Susanto Zuhdi (24 tahun Meneliti Buton)

Saya memahami itu, saya selalu membayangkan bagaimana anak-anak kampung bisa mengukur akurasi dahan kayu, harus menghafal kali-kali atau rumus matematika tentang kekuatan dahan. Ketika mereka memasang jerat di atas pohon yang tinggi, akurasi berpikir mereka adalah seperti apa kekuatan dahan, dengan selalu memanjat pohon untuk memasang jerat burung, kamu sudah belajar tentang karakter burung, belajar tentang karakteristik dahan kayu, belajar pertemanan dalam membangun kelompok untuk memasang jerat di hutan. Belajar tentang pentingnya teman, belajar tentang arah mata angin untuk keluar dari hutan, belajar tentang bahan makanan yang dapat dimakan di tengah hutan, belajar tentang sumber air.

Satu pengalaman penting ketika masih SD dulu adalah, adanya petunjuk orang tua bahwa lebih baik minum air yang kotor tetapi ada jentik nyamuk, dari pada meminum yang air kelihatan bersih tapi tidak punya jentik nyamuk. Petunjuk itu menjadi bekal bagi anak-anak yang keluar masuk hutan untuk membuat jerat burung burung. Sebuah konsep untuk membangun karakter anak-anak ketika mereka berada dalam suasana yang begitu sulit. Artinya bahwa ketika ruang sekolah tidak hanya dibatasi pada ruang tempat persegi, dan otaknya diajari untuk menghafal, lalu siswa diberi kebanggaan dengan angka-angka, maka jadinya adalah akan lahir generasi yang bangga dengan angka-angka tetapi akan selalu gagal menghadapi kehidupan nyata.

Apa yang dikemukakan oleh menteri tentang dunia pendidikan kita, mengantarkan satu pemahaman baru bahwa pendidikan adalah alat untuk memerdekakan anak didik, guru harus selalu hadir sebagai fasilitator untuk membangkitkan kekuatan atau potensi yang dimiliki oleh setiap siswa.

Dalam buku Selasa Bersama Mori, menceritakan tentang seorang guru yang  berperan dalam membangun karakter dan harga diri dari seorang siswa yang tidak percaya diri dan minder. Suatu hari di sekolah ia mendapatkan pujian dari gurunya, ujian yang tidak pernah didapatkan selama dia di bangku pendidikan. Dengan pujian itu membangkitkan rasa percaya dirinya, akhirnya siswa itu menjadi sukses di hari tuanya. Ia sampai pada jenjang doktor dan menjadi profesor.

Cerita ini, penting untuk dilakukan oleh siapapun guru, karena setiap murid memiliki kompetensi yang berbeda dan tugas guru adalah mengidentifikasi kompetensi itu untuk membantunya keluar sebagai kekuatan dari setiap muridnya.

Dalam sejarah bangsa bangsa yang besar di dunia, Jepang pernah kalah dalam perang dunia ke-2, semua orang tahu bahwa Jepang kalah dan bangsanya hancur berantakan, namun perdana menteri Jepang waktu itu hanya bertanya, “Masih berapa jumlah guru kita yang tersisa?” ini menunjukkan bahwa untuk membangun bangsa yang kalah perang membutuhkan guru yang hebat.  Untuk itu, jika ingin membangun manusia Indonesia yang maju, maka revolusi mental pertama harus dimulai dari bagaimana guru bisa melepaskan diri untuk pembebasan pendidikan Indonesia.

Selamat hari guru, kata Pak Menteri Makarim, “Semuanya akan berawal dari guru dan berakhir pada guru, begitu mulia dan begitu berat tugas seorang guru.” Sekali lagi selamat hari guru, siapapun di dunia ini pasti mengenal seorang guru. Karena mereka adalah pelita dalam kehidupan manusia. Mereka adalah orang-orang yang hebat yang pernah hadir dalam kehidupan kita (su001).

Berita tekait

Literasi Sebagai Mainstream Generasi Milenial

Perpustakaan Desa: Pintu Menuju Pembangunan Peradaban

Pelatihan Ekonomi Kreatif: Menciptakan Lapangan Kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *