Hari Ada

Oleh : Saleh Hanan

Hari maritim adalah hari ada.
Ditandai penjangkauan pelayaran antar pulau yang menyebabkan ada: yaitu ada barang-barang yang sampai di pulau, dan ada yang memuat komoditi dari pulau. Jual beli langsung, atau frak, paraki. Betapapun sulitnya.

Menandakan interaksi antar ruang, disebabkan perbedaan fitur pulau-pulau Nusantara.

Simulasi ada, terjelaskan dalam salah satu dari ribuan pelayaran rakyat, pelayaran perahu Matasiri tahun 1962. Setahun sebelum musyawarah nasional maritim pertama. Dua tahun sebelum Presiden Sukarno menetapkan hari maritim 23 September 1964.
Perahu bermuatan 5 ton itu asal Sampua Balo di Pulau Buton. Berlayar dengan awak dari Wakatobi, menuju Sanana di Kepulauan Sula Maluku Utara.
Tujuan cari kopra, untuk selanjutnya dalam pelayaran 40 hari 40 malam menatap haluan ke Singapura.
Saat pelayaran kembali ke timur kelak, perahu akan membawa barang-barang.
Penjangkauan perahu Matasiri, adalah isi hari maritim: alkisah ada.
Hadir, tersedia.

Dalam Wakatobi, Hari Ada hari keberanian.
Bukan karena sejarah menunjuk semua orientasi hidup dimulai dari penaklukan ruang samudera.
Akan tetapi karena sejarah yang dipikirkan.
Membayangkan melihat, pada Hari Maritim kali ini para pelaut Wakatobi bersiap di atas palka, tegak di lantai pelabuhan, kokoh di atas pulau karang, memberi Indonesia ucapan selamat, “Ayo, beranilah jadi bangasa maritim. Mari tanganmu, mari rubah definisi pelayaran rakyat. Dari penggambaran miskin, tradisionalistis, minim teknologi, pelayanan sosial, menjadi hukum baru. Bahwa pelayaran rakyat ialah industri pelayaran yang sahamnya dimiliki khalayak ramai.”

Sampai sebentar itu, perayaan hari maritim nasional ini, hari ada, didaur ulang menjadi Hari Raya Wakatobi.

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *