Harga Sesuatu Tergantung yang Mengenalnya (bagian 2)

Dalam kajian semiotik, akan menampilkan beberapa teori yang tentunya sudah digunakan orang untuk memaknai sesuatu. Dalam ilmu ilmu agama, dikenal adanya satu kajian tentang tafsir ilmu tafsir. Sebenarnya adalah upaya untuk menangkap makna dari sesuatu. Orang-orang bisa berdebat tentang makna sesuatu sesuai dengan pemahaman mereka, atau dengan kata lain adalah sesuai dengan paradigma yang mereka gunakan untuk melihat atau memaknai sesuatu itu.

Banyak ahli semiotik yang telah memikirkan atau membangun gagasan tentang ilmu, satu kata yang paling penting yang tidak bisa dilupakan dalam hal untuk mencapai satu makna adalah istilah hermeneutik. Pada tulisan pertama saya, saya telah menyinggung gagasan yang dibangun oleh Gadamer, di mana ia melihat bahwa makna sesuatu kata sangat penting untuk memahami konteks sejarah yang membangun kata itu. sehingga proses pemaknaan adalah proses permainan antara teks dan sejarah yang membentuknya.

Untuk melengkapi gagasan mengenai bagaimana cara menelusuri makna sebuah teks, Michael Riffaterre kemudian membangun sebuah gagasan mengenai pemaknaan heuristik dan pemaknaan hermeneutik. Di mana pemaknaan heuristik akan berbasis pada aspek epistemologi, yang merupakan makna atau arti yang berbasis pada kamus. sementara makna hermeneutik adalah makna yang lahir dari hasil penelusuran sejarah yang membentuk sebuah kata atau kalimat.

Michael Riffaterre kemudian mengemukakan empat konsep dalam proses pemaknaan, heuristik, hermeneutik, matriks model dan varian, dan analisis intertekstual. empat konsep ini hanya untuk membawa kita untuk memahami makna dari sebuah teks yang ada.

Bagaimana konsep itu diterapkan dalam dunia di luar sastra? publik Indonesia baru-baru ini dikagetkan dengan pernyataan saudara Rocky Gerung yang menyatakan bahwa kitab suci itu adalah fiksi. Sebuah pernyataan yang sangat menyentak kesadaran publik kita, dan Rocky Gerung mampu memberikan makna tentang kata fiksi sebagai sebuah energi yang menjadi destinasi dari harapan manusia. Karya sastra bekerja untuk membangun sebuah imajinasi yang akan diberikan oleh penulis kepada pembaca.

Baca Juga Rewu dan Reso

Di sisi yang lain, beberapa abad yang lalu, kita telah diberikan sinyal bahwa jika datang suatu berita kepadamu, maka periksalah. Ini merupakan sebuah nilai yang perlu dipahami bahwa teks yang ada dalam berita tersebut harus ditelusuri, untuk menemukan sebuah makna dari teks yang terkandung dalam sebuah cerita tersebut. Kata ‘periksa’ merupakan satu bentuk upaya untuk memperhatikan makna dari konteks yang membentuk sebuah teks tersebut.

Rupanya, perintah mengenai upaya untuk memeriksa sebuah berita, merupakan petunjuk untuk menemukan sebuah makna dari sebuah teks. Sementara Jonathan Culler menyatakan bahwa dunia ini adalah lautan teks, dan memburu makna sebuah teks berarti seperti sebuah permainan perburuan hewan di tengah padang Savana. Itu artinya bahwa, makna sesuatu tergantung dari bagaimana kita menemukan jejak makna dari teks tersebut.

Baca Juga Mansa’a sebagai Tradisi Bela Diri dalam Masyarakat Wakatobi

Di era industri 4,0 dimana kita berada pada sebuah ruang besar penuh dengan data atau lebih terkenal dengan sebutan big data, itu tidak akan ada apa apanya, jika kita tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan data itu berdasarkan konsep algoritma. Algoritma lah yang akan memberikan makna terhadap sebuah data, sebab algoritma lah yang akan mengolah data itu, dapat agar kita dapat gunakan dalam kehidupan modern di era industri 4,0.

Mungkin ini yang disinyalir oleh Surat Al-Baqarah ayat 269 yang memberikan informasi bahwa “Barangsiapa yang dikaruniai Al hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah”.

Pertanyaannya adalah siapa yang diberi al-hikmah itu? Bagi mereka yang diberi hikmah mereka akan memahami bahwa dalam tubuh nyamuk yang begitu kecil, tetapi ada rahasia Illahi Rabbi yang tersimpan. Walaupun ia hanya makhluk kecil tetapi ada bisa menyimpan rahasia kebesaran Ilahi, yang sampai saat ini belum dapat dipahami oleh sains modern. Robot tercanggih sekali pun, belum memiliki rahasia itu, sehingga butuh hikmah untuk memahaminya. Seluruh peradaban mengabdi pada zat itu.

Bersambung …..

Baca Juga Intrik Kuasa: Memicu Seteru, Memacu Konflik Wuna–Buton

Pulau Mahar

Harga Sesuatu: Tergantung Siapa yang Mengenalnya bagian (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *